
Happy reading 😘😘😘
"Assalamualaikum, Ayah, Bunda." Salam dan sapaan yang terlisan dari bibir Cantika mengalihkan atensi Andrea, Airlangga, dan Vay. Mereka pun seketika menoleh ke arah Cantika dan membalas salam.
"Wa'alaikumsalam," ucap ketiganya hampir bersamaan disertai senyum yang terlukis indah di wajah mereka.
Cantika lantas berjalan menghampiri Airlangga dan Vay. Kemudian ia mencium punggung tangan kedua mertuanya itu secara bergantian.
"Kamu semakin terlihat cantik, Sayang." Kalimat pujian mengalir dari bibir Vay diiringi usapan lembut yang berlabuh di punggung Cantika.
"Terima kasih, Bunda," balas Cantika disertai sebaris senyum yang menambah nilai kecantikannya.
"Kembali kasih. Duduklah di samping suami kamu, Tika sayang!" titah Vay dengan melembutkan nada suaranya.
Cantika pun mendaratkan bobot tubuhnya di samping Andrea. Ia memulai obrolan dengan mengucap permintaan maaf pada Airlangga dan Vay sebab telah membuat kedua paruh baya itu menunggu lama. Tentunya disertai alasan bahwa ia mandi terlebih dahulu sebelum turun ke bawah untuk menemui mereka.
Airlangga dan Vay memaklumi menantunya. Mereka mengira, mandi yang dimaksud oleh Cantika adalah mandi ju-nub. Mandi wajib yang dilakukan oleh Cantika setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang istri, melayani si badung Andrea Winata di atas ranjang.
Kenyataannya, Cantika belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan Andrea pun belum meminta haknya sebagai seorang suami. Semalaman mereka hanya tidur seranjang tanpa menunaikan ritual yang biasanya dilakukan oleh sepasang pengantin baru.
"Tika sayang, maafkan putra bunda jika ia kurang lembut memperlakukanmu. Ata masih remaja dan belum berpengalaman, jadi mohon dimaklumi ya. Semoga, kamu tidak kuwalahan melayani suami bocahmu itu," tutur Vay sambil melirik sekilas putra bungsunya.
Cantika menanggapi Ucapan Vay dengan mengulas senyum. Sementara Andrea, ia tersenyum tipis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah, pemuda yang dikenal badung itu dong (faham) atau blong dengan perkataan bundanya.
Kata-kata yang diucapkan oleh Vay membuat Cantika serasa ingin mengudarakan tawa. Cantika sudah menebak, ibu mertuanya pasti mengira ia dan Andrea sudah melakukan ritual penyatuan raga, mereguk kenikmatan surga dunia di malam pertama.
Karena tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya, Cantika membiarkan Vay beranggapan bahwa ia dan Andrea sudah melakukan ritual wajib di malam pertama.
"Ayah dan Bunda sudah sarapan belum?" Cantika berbasa-basi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, Sayang. Tadi, Ayah dan Bunda sudah sarapan sebelum berangkat mengunjungi kalian ke rumah ini."
"Mmm, kalau Ayah dan Bunda sudah sarapan, bagaimana jika saya buatkan camilan?"
"Tidak usah, Sayang. Kami sedang tidak ingin ngemil. Ayah dan Bunda hanya ingin berbincang dengan kalian, kamu dan Ata."
"Baiklah, Bunda."
__ADS_1
"Oya, kalian ingin berbulan madu ke mana? Ke Paris, Jepang, Tokyo, Korea, atau ke Bali?"
Andrea dan Cantika saling melempar tatap, seolah keduanya tengah berbicara melalui bahasa netra.
"Saya terserah Mas Andrea saja, Bunda," jawab Cantika sembari mengalihkan tatap.
Vay menggulirkan pandangan netranya ke arah Andrea dan kembali melontarkan tanya. "Ata, kamu ingin membawa Cantika berbulan madu ke mana, Sayang?"
"Saya ingin ke Jog--" Andrea urung meneruskan ucapannya karena hampir saja keceplosan menyebut kota Jogja, kota tempat tinggal Ayu--sang mantan kekasih.
"Ta?"
"Ehem, saya ingin membawa Cantika berbulan madu ke Jakarta saja, Bund."
"Why? Kenapa tidak ke LN atau ke tempat-tempat romantis lainnya? Semisal ke Jogja, Bali, atau Kalimantan? Di Kalimantan ada beberapa resort yang menyuguhkan panorama yang indah, asri, dan sangat romantis. Bunda yakin, Cantika akan menyukainya."
"Jakarta juga nggak kalah romantis, Bunda."
"Baiklah, terserah kalian saja. Yang terpenting, kalian harus sering-sering membuat adonan! Segera berikan kami cucu!"
"Cucu?" pekik Andrea dan Cantika kompak seiring bola mata yang berotasi sempurna.
Mereka terus berbincang, hingga tanpa terasa satu jam telah terlewati.
Setelah berbincang ngalor-ngidul dengan menyisipi candaan, Vay mengungkapkan keinginannya. Ia meminta Cantika untuk membujuk Andrea agar bersedia menjadi CEO--menggantikan posisi Dafa dan tinggal di rumah mereka yang berada di Kalimantan.
"Maaf Bunda, saya tidak bisa membujuk Mas Andrea. Sebagai seorang istri, saya percayakan keputusan pada suami saya. Jika Mas Andrea berkenan untuk menggantikan posisi Mas Dafa sebagai CEO dan tinggal di Kalimantan, maka saya hanya bisa mendukung dan mendampinginya. Begitu juga sebaliknya. Jika Mas Andrea benar-benar tidak berkenan menggantikan posisi Mas Dafa dan ingin kembali ke Jakarta, saya pun akan tetap mendukung dan mendampinginya," tutur Cantika dengan merendahkan suara seraya menanggapi permintaan Vay.
Vay dan Airlangga saling melempar tatap. Keduanya kembali menghembus nafas berat. Mereka benar-benar sudah kehabisan cara untuk membujuk Andrea.
Puas berbincang dengan Andrea dan Cantika, Vay dan Airlangga pun undur diri. Mereka beranjak dari posisi duduk, diikuti oleh Andrea dan Cantika.
"Sampaikan salam kami pada Abah dan Ummi, Sayang." Vay memeluk singkat tubuh Cantika dan Cantika pun membalasnya.
"Insya Allah, nanti saya sampaikan salam dari Ayah dan Bunda pada Abah dan Ummi."
"Terima kasih, Sayang."
"Kembali kasih, Bunda," balas Cantika.
__ADS_1
Kemudian mereka berjalan beriringan menuju halaman rumah, tempat Airlangga menaruh kendaraan besinya.
Airlangga memeluk singkat tubuh Andrea, lalu mengusap lembut pucuk kepala Cantika yang terbalut hijab berwarna putih sebelum masuk ke dalam mobil.
Sama seperti Airlangga, Vay pun memeluk singkat tubuh Andrea dan mengusap lembut pucuk kepala Cantika. Kemudian ia mengucap salam dan menyusul suaminya.
Setelah mobil yang membawa Airlangga dan Vay menghilang dari pandangan netra, Andrea menggamit tangan Cantika lalu memandunya untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Ayo Sayang, kita mulai belajar!" ucap Andrea di sela-sela ayunan kaki.
"Belajar apa, Mas?" Tanya yang terlontar dari bibir Cantika diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Belajar menunaikan kewajiban selayaknya pasangan suami istri."
"Hah!" Cantika terkesiap dan seketika menghentikan ayunan kakinya kala mendengar jawaban Andrea yang bermakna ambigu.
"Serius, Mas?"
Andrea mengangguk dan menarik kedua sudut bibirnya. "Iya serius, Yang. Yuk kita ke kamar! Biar lebih nyaman belajarnya dan tanpa gangguan dari siapa pun. Terutama Bi Asih."
Allohumma, bagaimana ini? Cantika meraup udara dalam-dalam dan sekejap memejamkan netra. Ia berusaha menenangkan diri dan menormalkan degup jantungnya yang bertalu saat terbayang apa yang akan terjadi ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1