Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Kamu Ketahuan!!!


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sesampainya di taman, Andrea, Cantika, dan Khabibah berjalan menghampiri Hafidz yang tengah duduk santai di kursi taman sambil membaca buku yang berisi kumpulan hadist sahih.


Hafidz yang menyadari kedatangan istri beserta putri dan menantunya, gegas meletakkan buku yang tadi dibacanya di atas meja dan menyambut ketiga orang itu dengan menerbitkan sebaris senyum yang membingkai wajah teduhnya.


"Assalamualaikum, Abah," ucap Andrea dan Cantika kompak sembari bergantian mencium punggung tangan Hafidz dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam." Hafidz membalas ucapan salam yang terlisan tanpa memudar senyum.


Sementara Khabibah, ia mendaratkan bobot tubuhnya di kursi taman lalu menaruh cangkir yang berisi kopi buatan Asih di atas meja.


"Nak Andrea, Tika, ayo duduk dulu!" titah Hafidz pada menantu dan putrinya.


"Iya, Abah," sahut Cantika dan Andrea. Kemudian mereka duduk di kursi taman, berhadapan dengan Hafidz dan Khabibah.


Sebelum memulai obrolan, Khabibah mempersilahkan suaminya untuk menikmati kesegaran kopi buatan Asih.


"Bah, diminum dulu kopinya! Bi Asih yang membuatkannya untuk Abah."


"Nanti saja, Mi. Kopinya masih panas. Tidak baik jika kita meminum atau memakan apapun dalam keadaan panas."


"Iya, Bah. Oiya, ada amanah yang ingin disampaikan oleh putri kita, Cantika."


"Amanah dari siapa, Mi?"

__ADS_1


"Ummi juga tidak tahu, Bah. Langsung tanyakan saja pada putri Abah!" Khabibah melirik Cantika dengan ekor netranya diiringi sebaris senyum.


Hafidz menanggapi ucapan Khabibah dengan mengangguk pelan, lalu ia gulirkan pandangan netranya ke arah Cantika.


"Tika, amanah dari siapa yang ingin kamu sampaikan, Nak?" tanyanya kemudian.


"Amanah dari --" Cantika menggantung ucapannya. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh abahnya.


"Tika --"


"Ya, Abah."


"Amanah dari siapa yang ingin kamu sampaikan?" Hafidz mengulangi pertanyaannya lagi.


"Amanah dari Ayah Airlangga dan Bunda Vay, Bah," jawab Cantika dengan melirihkan suara dan menundukkan wajah.


Hafidz mengangguk-anggukan kepala dan mengulas senyum. "Amanah apa yang mereka titipkan padamu, Nak?"


Duh, ketahuan. Amanah yang ingin aku sampaikan pada Abah dan Ummi hanya alibiku untuk mengalihkan pembicaraan dan menghindar dari Mas Andrea. Aku yakin, Mas Andrea pasti menertawakanku--keluh Cantika di dalam hati.


Andrea berusaha menahan tawa tatkala mengetahui amanah yang dimaksud oleh Cantika adalah salam dari kedua orang tuanya. Bukan amanah yang teramat sangat mendesak untuk disampaikan pada kedua mertuanya--Hafidz dan Khabibah.


Jiaaa!!! Kamu ketahuan, Yang. Beralasan ingin segera menyampaikan amanah pada Abah dan Ummi hanya untuk mengalihkan pembicaraan dan menghindar dariku. Batin Andrea bersorak kegirangan.


"Wa'alaikumsalam. Salam dari kedua mertuamu sudah kami terima, Nak. Sampaikan permohonan maaf dari kami, sebab kami tidak bisa menyambut dan menemui mereka pagi tadi," tutur Hafidz seraya membalas ucapan Cantika.


"Iya, Bah. Insya Allah, nanti kami sampaikan pada Ayah Airlangga dan Bunda Vay," ucap Cantika.

__ADS_1


"Bah, ada lagi amanah yang disampaikan oleh bunda saya. Tetapi bukan untuk Abah dan Ummi. Melainkan untuk kami." Andrea turut menimpali.


"Amanah apa, Nak Andrea?"


"Bunda berpesan supaya kami segera memberi cucu untuk Ayah dan Bunda." Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan melirik sekilas Cantika yang masih setia menundukkan wajah.


"Masya Allah. Abah dan Ummi juga sangat berharap, Nak Andrea dan Cantika segera memberi kami cucu. Gaspol setiap malam dan setiap ada kesempatan, Nak! Jangan lelah berdoa serta berikhtiyar supaya kalian bisa segera mewujudkan harapan dan keinginan kami."


"Tapi, Bah. Mas Andrea masih SMA. Saya rasa, belum waktunya kami memberikan cucu. Saya khawatir, Mas Andrea belum siap untuk menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah," cetus Cantika dengan mengangkat wajahnya yang semula menunduk.


"Meski masih SMA, Ummi yakin Nak Andrea pasti sudah siap untuk menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah. Nak Andrea hanya butuh sedikit belajar dan bimbingan. Sebagai seorang istri yang memiliki pengetahuan luas, kamu pasti bisa membantu suami kamu, Sayang!" tutur Khabibah sambil mengusap pucuk kepala Cantika yang terbalut hijab.


"Abah sependapat dengan Ummi kamu, Nak. Abah juga yakin, Nak Andrea sudah siap untuk menunaikan tugas dan kewajibannya, meski usianya masih sangat belia. Terbukti, suami kamu bisa memenuhi mahar yang kamu minta, walaupun abah mengira mahar yang kamu minta saat itu sulit untuk dipenuhi oleh Nak Andrea." Hafidz turut bersuara.


Cantika bergeming dan berusaha menelaah ucapan kedua orang tuanya. Jika abah dan umminya yakin pada Andrea, maka sebagai seorang istri ... seharusnya ia lebih yakin pada Andrea, lelaki yang dipilih Sang Maha Cinta untuk menjadi imamnya.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar πŸ‘


tabok ❀ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐

__ADS_1


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih Kakak-kakak pembaca terkasih😘😘😘


__ADS_2