
Happy reading 😘😘😘
Andrea berusaha menyadarkan Cantika dari pingsan dengan mengusap pipi dan mengoleskan sedikit minyak kayu putih di hidung kekasih halalnya itu.
Cantika pun tersadar dan membuka kelopak matanya dengan perlahan.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar, Yang." Andrea tersenyum lega, rasa cemasnya pun seketika terhempas saat Cantika membuka kelopak matanya.
"Ma-mas, apa yang terjadi?" Cantika bertanya dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Tadi, Sayang pingsan setelah melihat adek-ku," jawab Andrea ragu.
"Adek?" Cantika kembali bertanya seiring kerutan yang tercetak di antara kedua pangkal alisnya.
"Iya, Adek-ku."
"Adek yang mana, Mas? Bukannya, Mas Andrea anak bungsu Ayah Airlangga dan Bunda Vay? Seingatku, tadi tidak ada orang lain selain kita. Apa mungkin, aku salah ingat?" cecar Cantika masih dengan suaranya yang terdengar lirih.
Andrea tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia ragu untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Cantika.
Andrea tidak ingin, Cantika kembali pingsan jika mengetahui adek yang ia maksud adalah objek yang tersembunyi di balik kain.
"Kenapa, Mas Andrea tidak menjawab pertanyaanku? Sebagai seorang suami, mestinya Mas Andrea terbuka dan jujur padaku. Aku istrimu, Mas. Bukan sekedar gurumu," tukas Cantika disertai raut wajah sendu.
"Maaf, Yang. Sebenarnya adek yang aku maksud itu --" Andrea menggantung ucapannya dan menunjuk objek yang ia maksud dengan jari telunjuk.
"Ini, Yang," sambungnya.
Netra Cantika berotasi sempurna saat melihat objek yang ditunjuk oleh Andrea. Wajahnya pun seketika memerah. Bukan memerah karena marah. Namun karena malu. Ia malu kala teringat kejadian beberapa menit yang lalu.
Di dalam hati, Cantika merutuki dirinya sendiri karena terlupa dengan kejadian yang menyebabkan ia pingsan.
"Maaf, aku telah lancang melihat auratmu tanpa meminta ijin darimu terlebih dahulu. Dan maaf, karena aku memperlihatkan auratku sehingga membuatmu pingsan." Andrea menunduk dalam. Ia merasa bersalah dan menyesal.
Cantika menerbitkan senyum dan perlahan membawa tubuhnya bangkit dari posisi berbaring. Kemudian ia sandarkan punggungnya pada headboard sembari memegangi selimut yang membalut tubuhnya.
"Mas, seharunya aku yang meminta maaf. Maaf karena belum memberikan hak-mu sebagai seorang suami. Maaf karena belum melayanimu selayaknya seorang istri. Kamu berhak melihat, bahkan menyentuh semua yang ada padaku tanpa meminta ijin dariku terlebih dahulu, karena aku telah menjadi milikmu. Allah telah menghalalkan aku untukmu, Mas," tutur Cantika tanpa memudar senyum.
Andrea mengangkat wajahnya yang semula menunduk, lalu ditatapnya wajah cantik istrinya dengan intens. "Aku belum siap meminta hak-ku, Yang. Aku butuh bimbingan darimu. Aku harus memiliki pengetahuan mengenai hak dan kewajibanku sebagai seorang suami. Aku juga harus tahu dan faham, apa saja hak dan kewajibanmu sebagai seorang istri sebelum kita menyelami samudra rumah tangga lebih dalam. Aku tidak ingin, bahtera yang kita bangun akan salah arah ataupun karam di tengah jalan."
__ADS_1
"Iya, Mas. Kamu benar. Sebagai seorang istri, aku pun butuh bimbingan darimu." Cantika kembali menerbitkan senyum dan mengusap lembut pipi suaminya.
Andrea lantas menarik kedua sudut bibirnya dan meraih jemari tangan Cantika yang menyentuh pipinya, lalu dikecup jemari kekasih halalnya itu dengan lembut.
"Oiya, Mas. Aku hampir lupa. Tadi, Abah menitipkan buku panduan berumah tangga dan memintaku untuk menyerahkannya padamu. Beliau berpesan, supaya Mas Andrea mempelajari dan mengamalkannya."
"Terima kasih, Yang. Nanti, aku akan mulai mempelajarinya supaya bisa segera mengamalkan."
"Kalau Mas Andrea kurang faham, Mas Andrea bisa bertanya padaku. Kita belajar bersama."
"Iya, Yang --"
Ucapan Andrea terpangkas saat terdengar suara ketukan pintu diiringi ucapan salam yang berasal dari luar kamar.
"Assalamualaikum. Mas Andrea, Neng Cantika. Ada tamu. Bermain cacingnya dilanjut nanti malam lagi. Tamunya sudah menunggu lho." Asih berulang kali mengetuk pintu kamar dan memperdengarkan suara cemprengnya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Andrea dan Cantika dari dalam kamar.
"Siapa tamunya, Bi?" Cantika melontarkan tanya dengan sedikit berteriak, agar terdengar oleh Asih.
"Ayah dan Bundanya Mas Andrea, Neng," jawab Asih.
"Bi Asih ke bawah dulu! Minta Ayah Airlangga dan Bunda Vay untuk menunggu sebentar!" pinta Cantika pada Asih.
"Iya, Bi," sahut Andrea dan Cantika kompak.
Asih terkekeh. Ia pun bergegas mengayun langkah dan menuruni anak tangga untuk kembali menemui Airlangga dan Vay yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Ada-ada aja si bibi."
"Iya, Mas. Bi Asih mengira kita melakukan ritual yang semestinya dilakukan oleh pengantin baru, gara-gara mendengar obrolan kita tentang cacing. Bi Asih berpikir, cacing yang dimaksud oleh Mas Andrea itu adalah cacing yang bisa bercocok tanam. Padahal 'kan Worms Zo-ne, game cacing."
"Cacing yang bisa bercocok tanam? Cacing apa itu, Yang?" cecar Andrea penasaran.
"Hilih, Mas Andrea pasti berpura-pura tidak tahu."
"Beneran, Yang. Aku nggak tahu. Jujur, aku bingung dan seperti orang blo-on saat mendengar celotehan Bi Asih tentang cacing. Aku juga bingung saat berbincang dengan Abah. Atau, aku tanya saja ya istilah-istilah yang nggak aku mengerti pada Mbah Gugel?"
Ucapan Andrea sukses menggelitik telinga, sehingga membuat Cantika tak kuasa menahan tawa.
"Sayang kok malah ketawa sih?" sungut Andrea.
__ADS_1
"Ya Allah, Mas. Aku benar-benar tidak menyangka, seorang Andrea yang terkenal ndugal ternyata masih sangat polos."
"Maksud, Sayang?"
"Mas, yang dimaksud dengan cacing yang bisa bercocok tanam itu ya adek kamu. Adek yang tadi membuat aku pingsan," terang Cantika--menjawab tanya.
"Woah, ternyata adek--"
"Mas, aku mau mandi. Mas Andrea ke bawah dulu saja! Temui Ayah dan Bunda. Nanti aku menyusul," sahut Cantika seraya memangkas ucapan Andrea dan mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh malu jika membicarakan perihal cacing yang bisa bercocok tanam.
"Baiklah, Yang." Andrea tersenyum dan beranjak dari ranjang.
"Mandinya jangan lama-lama ya, takutnya ada yang pingin ngintip," ucap Andrea sambil mengerlingkan netra.
"Heem." Cantika menanggapi ucapan Andrea dengan mengangguk dan mengulas senyum.
Andrea lantas membuka pintu dan keluar dari kamar. Kemudian ia bawa langkahnya menuruni anak tangga diiringi senyum yang membingkai wajah kala teringat kejadian beberapa menit lalu saat ia dan Cantika berada di dalam kamar mandi.
Selepas Andrea keluar dari kamar, Cantika beranjak dari ranjang dengan malas. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, lalu membasahi tubuhnya dengan dinginnya air shower.
"Mas Dafa," ucapnya lirih kala bayangan wajah Dafa menari-nari di pikiran.
Cantika sekejap memejamkan netra untuk menghempas bayangan wajah Dafa. Namun bukannya menghilang. Bayangan wajah Dafa malah semakin kentara.
"Move on, Tika! Lupakan Mas Dafa! Dia bukan pria yang baik. Ingat, kamu sudah memiliki suami! Kamu tidak boleh memikirkan pria lain selain suami kamu, Andrea!" tutur Cantika pada dirinya sendiri.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1