
Happy reading πππ
Titik-titik embun yang menganak di pucuk dedaunan berjatuhan ke tanah, menguarkan bau basah, menyejukkan kalbu yang tengah merindu Sang Maha Rahman.
Seluruh insan yang mengaku sebagai hamba-Nya, rukuk dan bersujud dalam balutan pakaian suci. Mereka berpasrah dan berserah pada Sang Penggenggam Hati.
Seusai melafazkan dua salam, para insan menengadahkan kedua telapak tangan dan melangitkan pinta pada Illahi.
Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii βalaa diinik. Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Selepas waktu subuh, arunika hadir bersamaan dengan suara kokok ayam dan nyanyian alam di pagi hari. Memberi semangat pada penduduk bumi untuk terus berjuang menapaki hari diiringi senyum sang bidadari dunia dan pujangga hati.
"Yang --" Sapaan Andrea mengalihkan perhatian Cantika dari layar pipih yang berada di hadapannya. Cantika pun menoleh dan mengulas senyum termanis yang ia sajikan teruntuk sang kekasih halal--Andrea Winata.
"Mas." Cantika membalas sapaan Andrea dengan suaranya yang terdengar lembut.
"Lagi ngetik apa, Yang?" tanya Andrea sembari mendaratkan bobot tubuhnya di sofa, bersebelahan dengan Cantika.
"Lagi ngetik sebuah karya, Mas."
"Keren donk."
"Keren apanya, Mas? Baru saja mulai."
"Ya keren tulisannya, Yang. Baru permulaan aja udah bagus, apalagi kelanjutannya."
"Jangan dipuji dulu sebelum aku berhasil menyelesaikan tulisanku!"
"Aku nggak muji, Yang. Tapi mengutarakan kenyataan. Tulisanmu memang bagus. Bahkan lebih bagus dari pada tulisan si mantan."
"Hmm, mantan lagi yang dibahas," gumam Cantika sambil memutar bola mata malas.
"Kemarin 'kan Sayang yang bahas --"
"Dan sekarang gantian kamu yang bahas, Mas. Bilang saja kalau Mas Andrea kangen sama si Ayu." Cantika mencebik dan membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk. Kentara sekali ia tengah dihinggapi oleh rasa cemburu.
"Eitss, mau ke mana, Yang?" Andrea menarik pelan lengan Cantika, hingga istrinya itu terjatuh di pangkuan.
"Ish, Mas Andrea --"
"Mau ke mana, Sayang?" Andrea mengulangi pertanyaannya, lalu melingkarkan tangan di perut Cantika dan menaruh dagunya di bahu wanita yang teramat dicintainya itu.
__ADS_1
"Mau ke dapur. Menghindari pembahasan tentang sang mantan," jawab Cantika bernada sedikit ketus.
"Memangnya, siapa yang bahas sang mantan, Yang?" Kura-kura dalam perahu. Si Andrea Winata bin Penulis Jelata pura-pura tidak tahu.
"Ya kamu-lah, Mas. Masa yang bahas sang mantan barisan para cicak yang mengagumi kamu."
Andrea menarik kedua sudut bibirnya kala mendengar jawaban yang dicetuskan oleh Cantika. Ia kecup dalam ceruk leher Cantika dan membuat Cantika seketika mende-sah.
"Mas jangan nakal!" lirih Cantika di sela-sela desa-hannya.
"Aku ingin, Yang," ucap Andrea, lantas kembali mengecup dalam ceruk leher Cantika hingga meninggalkan semburat merah.
"Semalam 'kan sudah, Mas."
"Tapi aku ingin lagi, lagi, dan lagi, Yang. Aku ketagihan."
"Mas, please! Jangan menginginkannya di pagi hari! Terkecuali hari libur."
"Memangnya kenapa, Yang?"
"Aku tidak ingin kita kesiangan berangkat ke yayasan seperti kemarin, Mas. Terus kamu melajukan sepeda motornya ngebut. Aku senam jantung tau'?"
"Tapi, jantungmu baik-baik aja 'kan, Yang?"
"Aku nggak bisa lihat jantungmu. Coba sini aku periksa!" Andrea mengulurkan tangan untuk menyentuh dada Cantika. Namun Cantika refleks menepisnya.
"Dasar modus!"
"Modusin istri sendiri 'kan nggak pa-pa. Yang nggak boleh itu modusin mantan atau istri orang."
"Tuch 'kan bahas mantan lagi."
"Pfttttt ... habisnya Sayang nggak mau dimodusin."
"Kata siapa aku nggak mau dimodusin sama kamu, Mas? Aku mau dimodusin kok. Bahkan dengan senang hati kamu modusin dan kamu perlakukan seperti semalam, asal yang modusin jangan pagi, Mas."
"Baiklah, nanti siang setelah kita pulang dari yayasan, aku bakal menagih kamu, Yang."
"Terserah kamu, Mas. Yang terpenting jangan pagi. Titik. Tidak pakai koma."
"Heem. Oya, kamu udah gunain test pack-nya, Yang?" Andrea bertanya seraya mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Mas," jawab Cantika singkat.
__ADS_1
"Buruan gih digunain! Aku nggak sabar pingin tahu hasilnya, Yang."
"Iya, Mas. Tapi kalau hasilnya negatif, Mas Andrea tidak bakal kecewa 'kan?"
"Mungkin sedikit kecewa, Yang."
"Kenapa, Mas?"
"Karena aku ingin membuktikan kehebatanku pada dunia. Meski masih berondong, tapi tembakan-ku top cer."
"Semoga beneran top cer ya, Mas. Kalau tidak, Mas Andrea harus berlapang dada."
"Kalau kurang top cer, berarti kita harus lebih rajin membuat adonan."
"Sudah kuduga." Cantika menghela nafas panjang dan beranjak dari pangkuan Andrea.
"Aku ke kamar mandi dulu, Mas," pamitnya kemudian.
"Aku ikut, Yang."
"Emoh, Mas."
"Ikut ya, ya! Please!" pinta Andrea sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah puppy eyes, seperti seorang bocah kecil yang tengah merayu ibunya.
"Pokoknya tidakkkkk boleh! Aku gunain test pack-nya sekarang atau tidak sama sekali?" Cantika melontarkan kalimat ancaman dan membuat Andrea tertunduk lesu.
"Ya udah, gunain test pack-nya sekarang aja, Yang. Tapi jangan lama-lama ya! Aku nggak bisa terlalu lama jauh dari kamu, Yang."
Cantika menggeleng kepala. Ia teramat heran dengan tingkah polah suaminya yang teramat berbeda dan terkesan lebay bin manja.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. π
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar π
tabok β€ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang β
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih dan love-love sekebon ππ