Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Baby Acan (END)


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah berjuang selama hampir satu jam, Cantika berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki berparas tampan dan sehat.


Sakit yang semula ia rasa, seketika lenyap begitu mendengar tangisan malaikat kecil yang telah dilahirkannya.


"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, Sayang." Andrea mengecup dalam dahi Cantika diiringi tetesan embun yang lolos dari kedua sudut netra.


Ia teramat bahagia dan bersyukur pada Sang Maha Kasih yang telah melimpahkan kebahagiaan di dalam hidupnya dengan menganugerahinya seorang istri yang saleha dan menghadirkan seorang malaikat kecil berparas tampan tepat di hari pertama bulan Ramadhan tahun ini.


"Iya, Mas. Terima kasih juga untukmu. Terima kasih karena telah setia mendampingiku. Terima kasih karena telah menguatkan aku." Cantika menerbitkan senyum dan mengulurkan jemari tangan untuk menyeka jejak air embun yang membasahi wajah rupawan Andrea.


"Mas, kumandangkan azan di telinga kanan putra kita dan kumandangkan iqamah di telinga kirinya," pinta Cantika.


"Iya, Yang." Andrea mengulas senyum dan kembali melabuhkan kecupan di dahi Cantika. Kemudian ia mengambil bayi mungilnya dari gendongan Nayla dan mulai mengumandangkan azan yang diperdengarkannya di telinga kanan si kecil.


Usai mengumandangkan azan, Andrea lantas mengumandangkan iqamah yang diperdengarkannya di telinga kiri si kecil--buah cintanya dengan Cantika.


"Mas, kamu sudah menyiapkan nama untuk putra kita?" Cantika bertanya pada Andrea.


"Sudah, Yang."


"Siapa nama putra kita, Mas?"


"Acan Zaydan Ramadhan."


"Acan Zaydan Ramadhan?" Cantika mengerutkan dahi hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Ia teramat heran, kenapa Andrea memberi nama putra mereka 'Acan'. Terkesan aneh, tetapi lucu.


"Kenapa, Yang? Kurang bagus ya namanya?"


"Bukan begitu, Mas. Zaydan dan Ramadhan nya sudah bagus. Tetapi Acan --"


"Acan adalah perpaduan nama kita, Yang. Andrea dan Cantika," terang Andrea seraya memangkas ucapan Cantika tanpa terlupa mengiringinya dengan lengkungan bibir yang membentuk senyuman.


"Owh --" Cantika menarik kedua sudut bibirnya. Ia tidak menyangka, suami berondong-nya sangat kreatif memberi nama putra pertama mereka dengan memadukan nama Andrea dan Cantika.


"Kamu suka nggak Yang?"


"Suka apa, Mas?"


"Nama putra kita?"


"Ya jelas suka. Nama yang kamu berikan sangat bagus, Mas."


"Beneran suka?"


"Hehem, aku beneran suka."


"Suka banget atau suka aja?"

__ADS_1


"Suka banget, banget, banget --"


"Ehem." Nayla sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Andrea dan Cantika. Ia lantas mengulurkan tangan dan mengambil baby Acan dari gendongan Andrea, lalu menaruhnya di atas da-da Cantika.


"Kita lakukan IMD dulu ya, Bun. Biarkan si kecil mencari pu-tin* Bunda sendiri," tutur Nayla sembari memperlihatkan seutas senyum yang membingkai wajah cantiknya.


"Perlu Ayah dan Bunda ketahui, IMD atau Inisiasi Menyu-su Dini adalah proses bayi menyu-su segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari putin* susu ibu dan bermanfaat untuk memastikan bayi menerima kolos-trum atau ASI pertama yang kaya faktor pelindung," terangnya kemudian.


"Iya, Dok. Terima kasih atas penjelasan Dokter." Cantika membalas ucapan Nayla sembari mengusap kepala si kecil yang tengah berjuang mencari putin*.


Setelah melakukan IMD selama kurang lebih satu jam, baby Acan dipindah ke ruang bayi. Sementara Cantika di pindah ke ruang perawatan, ditemani oleh Andrea.


"Mas, hari ini sudah memasuki bulan Ramadhan ya?" Cantika bertanya pada Andrea begitu mereka tiba di ruang perawatan.


"Iya, Yang." Andrea menjawab tanya sambil mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang pasien.


"Mas Andrea tidak makan sahur?"


"Nggak, Yang. Udah telat. Udah jam lima."


"Maaf ya, Mas. Gara-gara menemani aku, kamu malah nggak sempat makan sahur."


"Nggak ada yang perlu dimaafin, Yang. Lagian, sudah kewajibanku sebagai seorang suami--menemani kamu yang sedang berjuang melahirkan putra kita."


"Sweet banget kata-katamu, Mas. Tapi, bagaimana jika kamu tidak kuat menahan rasa haus dan lapar."


"Insya Allah aku kuat, Yang."


"Aamiin Ya Allah."


"Kamu mau sholat di mana, Mas?"


"Di mushola, Yang. Deket kok dari kamar ini."


"Ya sudah, buruan sholat subuh, Mas. Jangan lupa, pintakan pada Illahi--semoga rumah tangga kita senantiasa sakinah, mawadah, warahmah."


"Siap, Yang. Aku tinggal dulu ya."


"Iya, Mas."


Andrea lantas beranjak dari posisi duduk dan mengucap salam sebelum membawa langkahnya keluar dari ruangan.


Di saat Andrea tengah bersujud pada Robb-nya, Airlangga datang bersama Vay, Akbar, Nasari, Dafa, Pinka, Erland, dan Mita. Selang lima menit kemudian, Hafidz datang bersama Khabibah, Najwa, dan Mirza.


Setelah pertemuan Najwa dan Mirza di acara tasyakuran yang diadakan oleh Andrea, keduanya kembali menjalin komunikasi.


Dari komunikasi yang kembali terjalin dengan baik, mereka berniat untuk menautkan cinta dengan ikatan yang halal dan tentunya sah di mata agama serta negara. Jika tidak ada aral yang melintang, Najwa dan Mirza akan melangsungkan akad nikah setelah lebaran tahun ini.


"Sayang, selamat ya." Vay merengkuh tubuh Cantika dan menghujani pipi menantunya itu dengan kecupan.


"Terima kasih, Bunda." Cantika menerbitkan senyum dan memeluk erat tubuh Vay.

__ADS_1


"Bunda yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah bersedia menerima Andrea sebagai suami. Terima kasih telah berkenan menjadi bagian dari keluarga kami. Terima kasih telah memberi Ayah dan Bunda cucu. Terima kasih, Sayang," tutur Vay sambil mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Cantika.


Cantika tak kuasa menahan titik-titik embun yang lolos begitu saja dari kedua sudut netra kala mendengar ucapan Vay yang menciptakan rasa haru. Ia teramat bersyukur mempunyai ibu mertua yang sangat baik dan teramat sayang padanya.


Sama seperti Cantika, Vay pun tak kuasa menahan titik-titik embun yang lolos begitu saja dari kedua sudut netranya.


Setelah Cantika dan Vay mengurai pelukan, Khabibah, Mita, Nasari, dan Najwa berganti memberi pelukan hangat diiringi ucapan selamat serta untaian doa teruntuk Cantika dan keluarga kecilnya.


Atmosfer bahagia menyelimuti ruang kalbu Andrea saat menyaksikan Cantika dikelilingi oleh keluarga mereka.


Di dalam benak, Andrea melafazkan rasa syukur pada Illahi yang telah menggoreskan takdir indah di hidupnya. Takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Ndre --" Vay berjalan menghampiri Andrea. Lalu direngkuhnya tubuh putra bungsunya itu, dan dibawanya ke dalam pelukan.


Andrea mengangkat kedua tangannya yang semula menjuntai, kemudian membalas pelukan sang bunda.


Andrea dan Vay saling berpeluk diiringi air mata bahagia.


Setelah keduanya mengurai pelukan, Airlangga dan Hafidz berganti memeluk Andrea. Kedua pria paruh baya itu mengungkapkan rasa bangganya pada Andrea disertai untaian doa yang mengalir tulus dari bibir mereka.


"Assalamualaikum --" Atensi Andrea, Cantika, dan semua orang yang berada di dalam ruangan itu teralihkan oleh ucapan salam yang terdengar familier.


Seketika mereka menoleh ke arah asal suara dan menjawab salam yang terlisan.


"Ayu --" Manik mata Andrea berotasi sempurna kala pandangan netranya tertuju pada si pemilik suara yang ternyata adalah Ayu--mantan kekasihnya.


Ayu tidak datang seorang diri. Ia datang bersama seorang pemuda berparas tampan mirip aktor Korea--Le Min Ho. Sebut saja namanya Oppa Zoe.


Rupanya, Ayu tidak hanya datang bersama Zoe, tetapi ia juga datang bersama Raymon, Afri, Arya, Nofia, Jaenal, Riri, dan Rido.


Karena ruangan yang ditempati oleh Cantika tidak memungkinkan untuk menampung semua tamu yang datang, Airlangga beserta keluarga keluar dari ruangan dan mempersilahkan teman-teman Andrea untuk masuk ke dalam.


"Bu Cantika, Andrea, selamat ya. Semoga putra kalian berdua tumbuh menjadi anak yang saleh, sukses di dunia dan akherat," tutur Ayu diiringi sebaris senyum yang menyiratkan ketulusan.


"Aamiin ya Allah, terima kasih, Yu." Cantika membalas ucapan Ayu sembari melirik sekilas ke arah Andrea yang tengah menatap Ayu


"Napa lu tiba-tiba datang di mari, Yu? Siapa yang ngasih tau lu --"


"Kebetulan, aku sudah berada di Kalimantan dari kemarin sore, Ndre. Aku ingin mengenalkan calon suamiku pada keluarga angkatku. Dan tadi pagi, tanpa sengaja aku melihat postingan Kak Nasari di media sosial yang berisi untaian doa dan ucapan selamat atas kelahiran putra pertama kalian. Aku langsung memberi tahu Bang Raymon dan Afri bahwa putra kalian sudah lahir. Setelah memberi tahu Bang Raymon dan Afri, aku menghubungi Nofia dan Riri. Lantas kami janjian bertemu di rumah sakit untuk menjenguk Bu Cantika dan malaikat kecil kalian," terang Ayu seraya memangkas ucapan Andrea.


"Oya, Ndre. Kenalkan ... calon suamiku, Mas Zoe." Ayu memperkenalkan calon suaminya pada Andrea.


Zoe mengulurkan tangan dan menerbitkan senyum. "Zoe, calon suami Ayu," ucap Zoe tanpa ragu.


"Andrea, man .... Akh, mantan teman sekelas Ayu." Andrea membalas uluran tangan Zoe dan memasang senyum di wajahnya. Keduanya saling berjabat tanpa memudar senyum.


Usai berjabat tangan, Andrea memperkenalkan Cantika pada Zoe--calon suami Sang Mantan.


Baik Ayu maupun Andrea, keduanya telah menghempas rasa yang pernah singgah. Tidak ada setitik pun keinginan di dalam hati mereka untuk kembali merangkai cerita cinta.


Biarkan kenangan lamamu berlalu, jangan biarkan dia merajai pikiran dan kalbu. Saat ini dan selamanya, fokuslah menatap masa depan bersama dia yang tulus mencintaimu. -Ayu Widia-

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


END


__ADS_2