Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Ambigu


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Assalamualaikum Abah, Ummi, Kak Naj, Bi Asih," sapa Cantika dengan mengabsen satu persatu keempat orang yang tengah duduk menunggu di ruang makan.


Sama seperti Cantika, Andrea pun turut menyapa mereka dengan mengulas senyum.


"Wa'alaikumsalam," balas mereka kompak disertai senyum yang terkembang.


Andrea dan Cantika lantas mendaratkan bobot tubuh di kursi setelah Hafidz mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Tika, ambilkan nasi dan lauk untuk suamimu!" titah Hafidz pada Cantika--putri bungsunya.


"Baik, Abah." Cantika menerbitkan senyum dan mengangguk patuh.


Kemudian ia mengambil piring polos berwarna putih yang berada di hadapan Andrea untuk diisi dengan nasi beserta lauk.


"Mas Andrea mau lauk yang mana?" tanya Cantika seraya menawari Andrea.


"Yang mana saja aku mau, Yang. Asal --"


"Asal disuapin Neng Cantika ya, Mas?" sahut Asih--memangkas ucapan Andrea.


Andrea tersenyum lebar dan menanggapi ucapan Asih. "Ternyata Bi Asih seperti cenayang ya? Bisa tahu apa yang ingin saya ucapkan."


"Iya dong. Bi Asih gitu loh. Bibi juga tahu, tadi Mas Andrea dan Neng Cantika sedang bermain cacing di dalam kamar 'kan? Mas Andrea hebat lho, meski masih sangat belia, tetapi cacingnya kuat bertahan. Bi Asih yakin, Neng Cantika bakal cepat ehem," celoteh Asih yang membuat Cantika, Najwa, Hafidz, dan Khabibah seketika merotasikan bola mata mereka dengan sempurna.


Sementara Andrea, ia mengerutkan dahi dan berusaha menelaah celotehan Asih. Otaknya yang cerdas belum mampu untuk menerjemahkan kata-kata Asih yang terdengar ambigu.


Meski dikenal dugal, Andrea masih teramat polos dan belum mengenal kata-kata kiasan yang menjurus ke adegan 21xx.


Cantika menundukkan wajah saat pandangan netra Hafidz, Khabibah, dan Najwa tertuju padanya. Ia teramat malu pada kedua orang tua dan kakaknya.

__ADS_1


Cantika yakin, mereka berpikiran sama seperti Asih. Mengira cacing yang dimainkan oleh Andrea bukanlah game cacing, melainkan cacing ajaib yang bisa bercocok tanam.


"Tik, benar yang diucapkan oleh Bi Asih? Kalau benar, besok-besok teriaknya jangan terlalu kenceng! Suami kamu juga kalau ngomong tentang cacing bisik-bisik saja! Kamu tahu 'kan, Bi Asih itu orangnya kepo maksimal dan tidak bisa menjaga lisan?" ucap Najwa seraya berbisik, agar tak terdengar oleh Asih dan yang lainnya.


"Bi Asih salah sangka, Kak. Tadi, Mas Andrea bermain game cacing. Bukan cacing yang itu." Cantika membalas ucapan Najwa dengan melirihkan suara.


"Game cacing? Maksud kamu Worms Zo-ne?"


"Iya, Kak."


"Allahumma." Najwa terkikik geli dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Ia sungguh tidak menyangka, ternyata cacing yang dimainkan oleh adik iparnya adalah Worms Zo-ne, bukan cacing ajaib--seperti yang dipikirkan oleh Asih.


"Ehem." Hafidz menginterupsi dengan berdehem.


"Tika, segera ambilkan nasi dan lauk untuk suami kamu! Dan Bi Asih, stop berbicara sampai kita selesai makan!" titahnya dengan nada suara yang terdengar datar. Namun penuh penekanan dan tidak bisa dibantah.


"Baik, Abah."


Cantika mulai mengisi piring Andrea dengan nasi putih dan lauk berupa cha bayam, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk udang. Kemudian ia menyerahkan piring yang telah diisinya itu pada Andrea.


"Terima kasih, Yang," ucap Andrea tanpa terlupa menyertai dengan senyuman.


"Sama-sama, Mas."


Setelah semua piring terisi dengan nasi putih beserta lauk, mereka melafazkan doa dan mulai menyantap makanan yang tersaji.


Suasana sarapan di pagi ini terasa berbeda bagi Andrea dan juga Cantika yang sering kali menikmati sarapan tanpa ditemani oleh keluarga ataupun orang terkasih.


Keduanya merasa bahagia karena sesuatu yang sangat sederhana. Menikmati rezeki dari Illahi bersama keluarga terkasih.


Seusai menikmati sarapan, Cantika dan Najwa membantu Asih membersihkan meja makan dan mencuci piring.


Sementara Hafidz, Khabibah, dan Andrea berbincang di taman sembari menikmati teh nasgitel (panas, legi/ manis, dan kental) racikan Asih.

__ADS_1


"Nak Andrea, Abah dan Ummi sangat berterima kasih pada Nak Andrea, karena Nak Andrea datang di waktu yang tepat dan berkenan menjadi imam pengganti untuk putri kami. Kami sebagai orang tua teramat bersedih jika pernikahan Cantika kembali gagal. Bagi kami, Nak Andrea adalah malaikat penolong yang dikirim oleh Allah untuk menyelamatkan Cantika dari fitnah dan gunjingan orang-orang yang gemar bergibah," tutur Hafidz seraya membuka perbincangan.


"Saya yang seharusnya berterima kasih pada Abah dan Ummi, karena telah mempercayakan Bu Cantika kepada saya, seorang laki-laki yang jauh dari kata sempurna dan belum memiliki bekal untuk berumah tangga. Saya juga berterima kasih, karena Abah dan Ummi bersedia menerima saya sebagai menantu. Bagi saya, menikahi wanita sesempurna Bu Cantika adalah anugerah yang patut saya syukuri dan amanah yang tidak boleh saya sia-siakan. Jujur, saya tidak pernah menyangka, saya akan berjodoh dengan Bu Cantika, guru saya sendiri. Wanita saleha dan menjadi idaman banyak pria." Andrea menjeda sejenak ucapannya dan menerbitkan senyum.


"Abah, Ummi, bimbing saya agar bisa menjadi seorang imam yang baik untuk Bu Cantika. Saya sama sekali belum memiliki pengetahuan apalagi pengalaman mengenai rumah tangga. Saya khawatir, saya akan menjadi suami yang dzolim. Saya takut tidak bisa menjadi imam yang terbaik untuk Bu Cantika jika tanpa bimbingan ataupun petunjuk menjalankan rumah tangga sesuai dengan ajaran agama kita dan tuntunan Rasulullah. Bagaimana jadinya, jika seorang nakhoda menjalankan bahtera tanpa ilmu dan petunjuk arah? Saya sungguh tidak ingin, bahtera yang saya jalankan ini akan karam ataupun salah arah sebelum menggapai tujuan utama pernikahan," sambungnya.


Hafidz dan Khabibah mengulas senyum. Keduanya mengagumi pemikiran Andrea yang bijak dan dewasa meski usianya masih sangat belia.


"Nak Andrea tidak perlu takut ataupun khawatir. Abah akan memberimu buku yang berisi petunjuk berumah tangga sesuai ajaran agama kita dan tuntunan Rasulullah. Pelajarilah dan amalkan! Abah dan Ummi berdoa, semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warahmah. Jaga dan curahi Cantika dengan cinta serta kasih sayang! Jangan pernah menyakiti hati putri kami! Apapun bentuk ujian yang akan kalian lewati, hadapilah bersama dengan mengeratkan tautan cinta."


"Iya, Abah. Insya Allah, saya akan menunaikan amanah Abah. Mohon doanya, semoga Allah segera menumbuhkan benih-benih cinta di hati kami dan memberi kemudahan kepada kami untuk menggapai rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah," pinta Andrea pada kedua mertuanya.


Tanpa terasa, satu jam telah berlalu. Namun Andrea, Hafidz, dan Khabibah masih asyik berbincang diiringi candaan yang mengundang tawa.


"Ngomong-ngomong, semalam Nak Andrea sudah berhasil mencetak gol belum? Cantika masih bersegel, pasti Nak Andrea membutuhkan perjuangan yang sangat keras untuk membobol pertahanan putri kami, ya 'kan? Abah yakin, Nak Andrea tipekal laki-laki yang pantang menyerah dan kuat. Semoga saja, Cantika tidak kuwalahan mengimbangi permainan Nak Andrea dan tidak mengecewakan," ujar Hafidz disela-sela candaan mereka seraya menggoda menantunya.


Andrea tersenyum nyengir dan berusaha menelaah ucapan Hafidz. Namun ia benar-benar tidak bisa memahami ucapan ayah mertuanya yang terdengar ambigu.


Ia pun berencana untuk bertanya pada Mbah gugel dan Nofia--sahabatnya. Ia berharap, akan segera menemukan jawaban, sehingga di lain waktu bisa mengimbangi candaan yang di lontarkan oleh ayah mertuanya.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan

__ADS_1


__ADS_2