
Happy reading ππ
Di bawah naungan sinar Sang Dewi Malam, Dafa dan Pingka duduk di kursi taman sambil berbincang.
Keduanya berbincang mengenai hubungan mereka dan tentang masa depan yang ingin mereka jejaki bersama.
Dafa meragu sebab ia tidak yakin penyakit HIV yang diderita olehnya akan sembuh total. Ia takut Pingka akan tertular penyakit itu jika mereka berdua memaksakan diri untuk menyatukan cinta dalam ikatan yang halal.
"Mas, kamu harus yakin bahwa semua penyakit pasti ada obatnya. Kun fayakun. Tidak ada kuasa yang lebih hebat, selain kuasa Allah. Jika Allah menghendaki Mas Dafa sembuh, maka Mas Dafa pasti sembuh," tutur Pinka diiringi sebaris senyum yang menjadikan wajahnya kian terlihat cantik di mata Dafa, sehingga Dafa terpana menatapnya.
"Mas, setelah kita menikah nanti, kita bisa menyatukan cinta dengan cara yang aman. Jadi, Mas Dafa tidak perlu takut saya akan tertular penyakit HIV," sambungnya tanpa memudar senyum.
"Mas --" Pinka menepuk pelan pipi Dafa karena pria yang dicintainya itu tidak merespon ucapannya dan malah menatapnya tanpa berkedip.
Dafa tersentak. Ia tersadar dari mode terpana dan tampak salah tingkah.
__ADS_1
"Eng, apa Yang? Ah ... maksud saya, Dokter Pinka --"
"Jadi, dari tadi Mas Dafa tidak mendengar perkataan saya?" Pinka bertanya sambil terkekeh karena teramat geli menyaksikan sikap Dafa.
"Mmm ... saya mendengarnya, tapi kurang jelas karena --" Dafa menggantung ucapannya karena malu untuk mengakui bahwa ia tengah terpana dan tidak bisa menafikan pesona Pinka--dokter berparas cantik yang mampu menyadarkannya dan merebut hatinya yang semula tertaut pada Cantika.
"Karena apa, Mas?" Pinka menautkan kedua pangkal alisnya dan menatap lekat manik mata Dafa, hingga membuat pria berparas rupawan itu semakin salah tingkah.
"Karena saya nggak bisa menafikan pesonamu. Di mataku, kamu terlihat semakin cantik. Maaf jika saya telah lancang menatapmu tanpa berkedip dan mengagumi maha karya Illahi yang teramat cantik," ucap Dafa seraya memberanikan diri berterus terang pada Pinka.
BLUSH
"Mas, jika boleh jujur, sebenarnya saya lebih senang jika Mas Dafa memanggil saya dengan sebutan 'Sayang' ataupun 'Yang'. Bukan Dokter Pinka." Pinka menuangkan isi hati tanpa mengalihkan tatapan netranya dari manik mata Dafa.
Lagi-lagi Dafa tampak salah tingkah. Namun kali ini diiringi degup jantung yang terdengar berdentum-dentum.
"Ehem ... baik-lah. Mulai saat ini, saya akan memanggil kamu 'Sayang."
__ADS_1
Dafa berusaha menormalkan degup jantung dengan meraup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan dan mengalihkan pandangan netranya ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan.
"Sudah pukul sembilan malam, Yang. Saya akan mengantar kamu pulang ke hotel. Insya Allah, dua minggu lagi saya akan terbang ke Jerman bersama Ayah dan Bunda untuk melamar kamu," ucapnya kemudian.
Pinka menerbitkan senyum, lalu membalas ucapan Dafa. "Untuk apa Mas Dafa jauh-jauh terbang ke Jerman? Orang tua saya tinggal di Jogja, Mas. Jadi, Mas Dafa dan kedua calon mertua saya tidak perlu terbang ke Jerman, melainkan terbang ke Jogja."
"Saya terlahir dan dibesarkan di Jogja, Mas. Hanya saja, setelah lulus SMA saya melanjutkan study di Jerman dan diterima kerja di Rumah Sakit Universitas DΓΌsseldorf," lanjutnya.
Perbincangan Dafa dan Pinka terpangkas saat terdengar suara seseorang memanggil mereka. Keduanya sontak merotasikan kepala ke arah asal suara.
Entah siapa yang memanggil mereka? Kita lanjut di bab berikutnya.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
NB: Novel ini semula berjudul 'Muridku, Imamku'. Namun karena ada cuitan dari salah seorang pembaca, maka penulis merubah judulnya menjadi 'Muridku, Suamiku' π
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo π
Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah cinta Andrea dan Cantika ππ