
Happy reading πππ
Sepersekian detik Cantika mematung setelah mendapat serangan mendadak dari Andrea. Ia sungguh tidak menyangka, suami bocahnya ternyata berani mencuri kecupan di pipi. Dan kecupan yang dilabuhkan oleh Andrea, menimbulkan gelenyar aneh yang membuat tubuh Cantika seketika membeku.
"Yang, kok malah diem seperti patung? Katanya mau ke taman?" Andrea melontarkan kalimat tanya dan sukses membuat Cantika tersadar.
Cantika gelagapan dan tampak salah tingkah. Otaknya yang semula cerdas tiba-tiba saja bermigrasi ke Planet Pluto karena ulah si badung Andrea, sehingga ia pun ngebleng dan terlihat seperti orang linglung.
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Andrea, Cantika malah balik bertanya. "Eng, apa, Mas? Mas Andrea tadi ngomong apa?" cecarnya dengan memasang mimik wajah yang terlihat menggelikan di mata Andrea.
Andrea berusaha menahan tawa dengan mengulum bibir saat menyadari otak cerdas Cantika tengah bermigrasi ke Planet Pluto karena ulahnya. Ingin sekali ia kembali berulah dan membuat Cantika semakin ngebleng. Pasti sangat menggelikan, pikirnya.
Dasar bocah!!!
"Ehem, tadi aku cuma nanya, kenapa Sayang malah mematung? Katanya 'kan Sayang mau ke taman."
"Oh itu --"
"Pasti Sayang mematung karena serangan yang aku labuhkan di pipi 'kan? Sayang mau lagi?" Andrea menggoda Cantika dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Eng-enggak. Bukan karena itu." Cantika berkilah dan mengalihkan wajahnya ke sembarang arah seraya menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di kedua pipi putihnya.
"Sayang nggak usah bohong dech! Aku tahu, Sayang pasti ingin dikecup lagi."
"Eng--" Andrea memangkas ucapan Cantika dengan kembali mencuri kecupan. Kali ini ia labuhkan di bibir ranum Cantika dan sukses membuat istrinya itu seperti tersengat arus listrik.
"Ehem, bagaimana, Yang? Masih kurang nggak?" godanya lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Andrea, Cantika bergegas membuka pintu dan membawa langkahnya keluar dari kamar.
Ingin rasanya ia berlari dan bersembunyi dari Andrea, suami brondongnya yang usil bin jahil dan berhasil membuatnya salting.
__ADS_1
"Yang, tunggu aku!" pinta Andrea dengan sedikit berteriak. Namun tak diacuhkan oleh Cantika.
Cantika terus berjalan dengan langkah lebar tanpa memperhatikan jalan di depannya. Karena kurang berhati-hati, ia menabrak Khabibah yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi.
Cantika dan Khabibah terkesiap. Pandangan netra mereka seketika tertuju pada cangkir yang jatuh ke lantai dan pecah.
"Astaghfirullah, Cantika." Khabibah memekik sembari mengalihkan pandangan netranya ke arah Cantika.
"Mm, maaf Ummi. Saya tidak sengaja," sahut Cantika sambil tersenyum nyengir.
"Lain kali jalannya lebih berhati-hati, Nak! Fokus melihat jalan di depan! Jangan berjalan sambil menunduk!" tutur Khabibah seraya menasehati putri bungsunya.
"Iya, Ummi. Lain kali, saya akan lebih berhati-hati."
"Ya sudah, ummi bersihkan dulu pecahan cangkir yang berserakan di lantai."
"Biar saya saja yang membersihkannya, Ummi."
"Aku saja yang membersihkannya, Yang." Andrea menyahut ucapan Cantika.
"Ummi, ini Asih buatkan secangkir kopi jos untuk Ustadz Hafidz sebagai pengganti kopi buatan Ummi yang tumpah," ucap Asih kemudian.
"Terima kasih, Bi Asih."
"Sama-sama, Ummi. Saya bersihkan dulu pecahan cangkirnya."
"Iya, Bi. Jangan sampai ada pecahan cangkir yang tertinggal ya!"
"Siap 86, Ummi." Asih mengangkat tangan kanannya lalu melakukan sikap hormat.
Khabibah menggeleng-geleng kepala dan tersenyum lebar menyaksikan tingkah Asih yang terlihat konyol bin menggelikan.
"Ummi, ada amanah yang ingin istri saya sampaikan pada Abah dan Ummi." Andrea menginterupsi.
__ADS_1
"Tadi, Cantika ingin segera menelepon Abah dan Ummi," imbuhnya.
"Iya, Ummi. Ada amanah yang ingin saya sampaikan. Saya kira, Abah dan Ummi belum pulang dari kampung sebelah." Cantika menyambung ucapan Andrea.
Khabibah menanggapi ucapan Andrea dan Cantika dengan mengulas senyum. "Abah dan Ummi baru saja tiba di rumah. Amanah apa yang ingin kamu sampaikan, Nak?"
"Eng, itu Ummi --" Cantika tampak ragu untuk menjawab tanya yang dilisankan oleh sang ummi, karena amanah yang ingin disampaikannya bukanlah amanah yang bersifat urgent.
"Apa, Sayang?" Khabibah kembali bertanya.
"Mm, kita ke taman dulu saja, Ummi. Nanti saya sampaikan di sana."
"Ya sudah. Ayo kita ke taman! Kebetulan abah juga sudah menunggu di sana."
Cantika mengangguk pelan dan menggamit lengan terbuka Khabibah. Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju ke taman dan diikuti oleh Andrea yang berjalan di belakang mereka.
Sementara Asih, wanita paruh baya itu mulai membersihkan pecahan cangkir selepas Khabibah, Cantika, dan Andrea berlalu pergi.
Ya Allah, bagaimana aku bisa menyampaikan amanah dari Ayah dan Bunda pada Abah dan Ummi jika Mas Andrea ikut bersama kami? Aku harus menyampaikannya dengan berbisik, supaya Mas Andrea tidak mendengar. Hah, Mas Andrea pasti menertawakan aku jika dia mendengarnya--Cantika bermonolog di dalam hati sambil memilin ujung jilbabnya. Ia sungguh tidak ingin Andrea mendengar amanah yang akan ia sampaikan pada abah dan juga umminya.
Entah, amanah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Cantika dan kemungkinan bisa membuat Andrea tertawa jika mendengarnya ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like π
tabok β€ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang β
__ADS_1
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak pembaca terkasihπππ