Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Mubazir


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Atensi Akbar teralihkan oleh ketukan pintu dan ucapan salam yang dilisankan Andrea. Sontak ia menoleh ke arah asal suara dan membalas salam diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah rupawannya.


"Masuk, Ndre!" titah Akbar seraya mempersilahkan Andrea untuk masuk ke dalam.


Andrea mengangguk pelan, lalu membawa langkahnya masuk ke dalam ruang guru, disusul oleh Juno yang berjalan di belakangnya.


"Tumben sepi, Bang?" tanya Andrea dengan melirihkan suara. Namun terdengar oleh Juno.


Juno mengerutkan dahi. Kalbunya bertanya heran, kenapa Andrea memanggil Akbar--guru matematika mereka dengan sebutan 'Bang', bukan 'Pak Akbar'.


"Semua guru sudah mulai mengajar di kelas masing-masing, Ndre. Tinggal Abang yang masih bersiap-siap," tutur Akbar menjawab tanya yang dilontarkan oleh Andrea--murid sekaligus adik iparnya.


Jawaban yang dilontarkan oleh Akbar membuat Juno kian dihinggapi oleh rasa heran sekaligus rasa penasaran. Ingin rasanya ia meminta penjelasan pada Andrea dan Akbar mengenai hubungan mereka yang sebenarnya.


"Bang, gue mo izin pulang," ucap Andrea dengan logat Betawinya.


Meskipun tidak berasal dari tanah kelahiran Si Doel ataupun Si Pitung, Andrea terbiasa berbicara dengan menggunakan logat Betawi karena terpengaruh gaya bicara teman-temannya yang mayoritas berlogat elu-gue (Betawi).


"Apa alasanmu pulang?" tanya Akbar--menanggapi ucapan Andrea.


"Perut gue mual, Bang. Gue hamil."


Jawaban yang dilontarkan oleh Andrea menggelitik indera pendengaran, sehingga memancing Akbar dan Juno untuk mengudarakan tawa. Namun mereka berusaha menahannya dengan mengulum bibir.


"Ck, ck, ngadi-ngadi saja kamu, Ndre. Mana ada seorang lelaki tulen sepertimu hamil," ujar Akbar sembari menepuk bahu Andrea.


"Gue emang beneran hamil, Bang. Maksud gue, gue mengalami gejala kehamilan simpatik."


"Woah, berarti tembakan-mu top cer, Ndre."


"Iya dong, Bang."


"Pasti lucu ya kalau anakmu terlahir."


"Lucu gimana, Bang?"


"Lucu aja. Nggak terbayang, bocah sepertimu menggendong bayi. Pasti kurang luwes."


"Jangan meremehkan gue, Bang! Meski masih bocah, gue bakal ngebuktiin kalo gue ntu bukan bocah sembarang bocah. Ngegendong Cantika aja gue luwes, apalagi ngegendong bayi." UPS. Andrea keceplosan menyebut nama Cantika.


Speechless


Juno tidak bisa berkata-kata karena terlampau terkejut mendengar ucapan Andrea, terlebih saat Andrea menyebut nama Cantika--guru vokal yang diam-diam ditaksir olehnya.


"Ya sudah, Abang mengizinkanmu pulang. Sesampainya di rumah, minum jahe hangat biar perutmu nggak mual lagi!" tutur Akbar.

__ADS_1


"Ogeh, Bang. Gue nitip Cantika. Tolong bilang ke doi, ntar siang gue balik ke yayasan buat ngejemput doi."


"Ya, insya Allah nanti Abang sampaikan."


"Makasih, Bang."


"Hmmm." Akbar membalas ucapan Andrea dengan mengerjapkan netra dan mengangguk pelan.


"Ndre --" ucapnya kemudian.


"Apa, Bang?"


"Jaga lisanmu! Jangan sampai keceplosan lagi! Ingat, kamu sudah berjanji untuk merahasiakan hubungan kalian sampai kamu lulus SMA!"


"Iya, Bang. Kaga tau kenapa, akhir-akhir ini mulut gue sering keceplosan. Gue mau semua orang tau kalo Cantika ntu bini gue. Milik gue seorang. Kaga boleh ada yang ngedeketin apa lagi berniat ngerebut Cantika dari gue."


"Mungkin bawaan bayi, Ndre," sahut Juno.


"Bisa jadi, Jun."


"Gue kaga nyangka, bini lu ntu Bu Cantika. Guru tercantik yang gue taksir."


"Ck, berani-beraninya lu naksir bini gue." Andrea sedikit meninggikan intonasi suara dan melayangkan tatapan tajam. Ia tidak terima Juno menaruh hati pada istri tercintanya.


"Lah, pan gue kaga tahu kalo Bu Cantika ntu bini lu."


"Sekarang pan elu udah tahu. Jadi, lu kaga usah lagi naksir bini gue!"


"Lu mau gue bonyokin?"


"Sudah, sudah! Nggak usah ribut lagi!" Akbar menginterupsi seraya melerai Andrea dan Juno yang tengah beradu mulut.


"Juno, tolong antar Andrea pulang ke rumahnya!" sambung Akbar.


"Baik, Pak," balas Juno diikuti anggukan pelan.


Seusai mengucap salam, Andrea dan Juno memutar tumit. Keduanya membawa langkah mereka keluar dari ruang guru, lalu berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motor mereka masing-masing.


Atas perintah Akbar, security yang berjaga membuka pintu gerbang yayasan, lalu mempersilahkan Andrea dan Juno untuk keluar melewati gerbang itu.


Andrea dan Juno lantas memacu kendaraan besi mereka dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah kepadatan kota.


Tidak lebih dari setengah jam, roda sepeda motor yang mereka tunggangi menginjak halaman rumah Nofia.


Setelah menaruh sepeda motor di halaman, Andrea dan Juno berjalan menuju teras rumah. Mereka lantas mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tanpa menunggu waktu lama, terdengar balasan salam dari dalam rumah diiringi suara derit pintu yang terbuka.


"Prabu --" pita suara Nofia tercekat saat wajah Andrea memenuhi ruang pandang.

__ADS_1


"Fi, lu baik-baik aja pan?" Andrea melontarkan tanya dan menatap lekat wajah Nofia yang terbingkai sendu.


"Aku --"


"Juno bilang, semalam kesucian lu dirusak ama si bangsa* Jaenal. Gue harap, yang dibilang Juno ntu kaga benar."


Nofia tertunduk dan menangis tergugu sambil menutupi wajahnya. Ia tak mampu mengucap sepatah kata pun kala terbayang kejadian semalam. Kejadian yang membuatnya merasa terno-da.


"Fi, gue bakal ngehajar si Jaenal. Kalo perlu, gue su-nat ntu burung parkit si beja* yang udah bikin hidup lu hancur," ujar Andrea berapi-api.


Perlahan Nofia mengangkat kepalanya dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya.


"Maksud kamu apa, Prab? Burung parkitnya siapa yang mau kamu sunat?" lirih Nofia seraya bertanya pada Andrea.


"Burung parkitnya si Jaenal."


"Kenapa kamu mau menyunat-nya?"


"Karena burung parkitnya si Jaenal udah ngehancurin masa depan lu. Si beja* itu udah ngerusak kesucian lu."


"Prab, kesucianku memang sudah ternoda. Tapi aku masih pera-wan."


"Maksud, lu?"


"Bibirku yang sudah dinodai oleh Jaenal. Bibirku sudah nggak suci lagi, Prabu --" Nofia kembali menangis tergugu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Andrea dan Juno ternganga kala mendengar pengakuan Nofia. Mereka sungguh tidak menyangka, ternyata bibir Nofia yang ternoda. Bukan sela-put mar-wahnya.


Astogeh, ternyata bibir Fia yang ternoda. Gue kira a-nunya. Duh, siap-siap kena damprat si Kuprit. Juno bermonolog di dalam hati sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa cenat-cenut.


Kurang asem si Juno! Gue kira kega-disan si Fia yang ternoda. Kaga taunya cuma bibirnya doang. Dasar kutu kupret! Suka ngasal kalo ngomong. Dahal gue udah emosi setengah hidup ama si Jaenal. Ck. Eh, tapi si Jaenal tep aja kurang ajar. Dia udah lancang bikin bibir si Fia kaga suci lagi. Sama seperti Juno, Andrea pun bermonolog di dalam hati.


Di saat Andrea dan Juno tengah asyik bermonolog di dalam hati, Nofia berteriak sambil melompat ke atas meja.


Rupanya, Nofia dihampiri oleh seekor kodok hijau yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan kedatangan seseorang.


"Fia --"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksanalah memberi bintang ⭐

__ADS_1


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih dan love-love sekebon 😘🙏


__ADS_2