Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Pesona Cilok


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah menandaskan makan siang dan membayar tagihan pada kasir, Andrea dan Cantika meninggalkan Kafe K & R.


Andrea berniat mengabulkan keinginan Cantika dan membawanya ke hotel Birru, hotel yang didirikan oleh Albirru, rekan bisnis ayahnya.


Ia masih mengira cilok yang diinginkan oleh Cantika adalah cilok kembar miliknya dan bukan cilok jajanan khas Bandung yang terbuat dari perpaduan dua tepung. Tepung tapioka dan tepung terigu.


Cantika heran bin penasaran, sebab sepeda motor yang dilajukan oleh Andrea tidak melewati jalan yang mengarah ke warung Ujang Kembar, penjual cilok langganannya. Namun malah melewati jalan yang berlawanan dengan arah warung Ujang Kembar.


"Mas, kita mau ke mana?" bisik Cantika seraya bertanya pada Andrea sambil mengeratkan pegangan tangannya.


"Ke Hotel Birru, Yang," jawab Andrea. Ia mengulas senyum dan menoleh sekilas ke belakang.


"Ke Hotel Birru? Untuk apa, Mas?" Cantika kembali bertanya. Namun kali ini disertai tautan kedua pangkal alisnya. Ia semakin heran, kenapa Andrea malah membawanya ke Hotel Birru. Bukan ke warung Ujang Kembar.


"Untuk mengabulkan keinginanmu, Yang." Andrea menjawab tanya, lalu mengecup tangan Cantika yang melingkar di pinggangnya.


"Mengabulkan keinginanku? Keinginan apa, Mas?"


"Baru satu jam, masa kamu udah lupa, Yang?"


"Perasaan, satu jam yang lalu ... aku hanya menginginkan cilok kembar, bukan ingin pergi ke Hotel Birru."


"Karena kamu menginginkan cilok kembar, makanya aku membawamu ke Hotel Birru, Yang. Biar nggak monoton di rumah." Andrea menyahut ucapan Cantika sembari terus melajukan sepeda motor kesayangannya.

__ADS_1


Cantika mengerutkan dahi dan berusaha menelaah kata-kata yang diucapkan oleh Andrea. Ia berusaha keras untuk memahami maksud yang tersirat dari perkataan suami brondongnya itu.


"Memangnya, apa hubungan cilok kembar dengan Hotel Birru, Mas?" Cantika melontarkan kalimat tanya setelah sesaat bergeming.


"Hubungannya --" Andrea sengaja menggantung ucapannya untuk memancing Cantika agar kembali bertanya.


Dan benar saja, karena teramat penasaran Cantika kembali bertanya pada Andrea.


"Hubungannya apa, Mas?"


Bukannya segera memberi jawaban, Andrea malah menerbitkan senyum dan melajukan sepeda motornya dengan kencang sehingga Cantika kian mengeratkan pegangan tangannya.


"Mas, jangan ngebut!" pinta Cantika. Ia mengeraskan suara agar terdengar oleh Andrea.


"Mas, kamu mesti ingat, di dalam rahimku ada calon buah hati kita! Kalau kamu ngebut, bagaimana nasibnya?" sambungnya dan membuat Andrea seketika mengurangi kecepatan.


"Astaghfirullah. Maaf Yang, aku terlupa." Andrea melafazkan istighfar dan meminta maaf pada Cantika. Lantas ia menghentikan sepeda motornya di tepi jalan.


"Yang, maaf. Aku khilaf. Aku terlupa." Andrea kembali meminta maaf pada Cantika. Kemudian ia turun dari sepeda motor dan berdiri tepat di hadapan Cantika.


"Yang, kamu mau 'kan maafin aku?"


Cantika mengulas senyum dan beranjak dari posisi duduk. Diusapnya wajah Andrea dan ditatapnya lekat manik mata suami tercintanya itu.


"Ya, aku maafin kamu, Mas. Tapi jangan diulang lagi ya!"


Andrea menanggapi ucapan Cantika dengan mengangguk pelan dan tersenyum.

__ADS_1


"Makasih, Yang," ucapnya diiringi kecupan dalam yang ia labuhkan di dahi Cantika.


"Iya, Mas."


"Mmm, bagaimana kalau kita ke Rumah Sakit ICPA untuk memeriksa kehamilanmu? Setelah itu, aku akan memberimu cilok kembar, Yang."


"Baiklah, Mas. Bukannya hari ini, kita memang berencana pergi ke rumah sakit ya?"


"Iya, aku sempat terlupa gara-gara cilok kembar, Yang."


"Sama, Mas. Aku juga sempat terlupa gara-gara cilok kembar."


"Pesona cilok kembar memang luar biasa 'kan, Yang? Bisa membuat orang terlupa."


"Iya, Mas. Sangat luar biasa karena rasanya bikin nagih."


"Jiaaaa, kamu terlalu jujur, Yang. Nanti sepulang dari rumah sakit, aku bakal memberimu cilok kembar dan kamu bisa menikmatinya sampai puas." Andrea tampak sangat girang. Ia terlalu percaya diri bahwa Cantika sangat menginginkan cilok kembar miliknya.


Entah 'miliknya' yang mana, yang ia maksud. Penulis kisah ini terlampau polos, sehingga tidak faham cilok kembar yang dimaksud oleh Andrea.


Sama seperti Andrea, Cantika pun tampak sangat girang. Ia berpikir, Andrea akan memenuhi keinginannya dengan memborong cilok kembar yang dijual oleh Ujang Kembar. Ia belum tersadar, bahwa Andrea telah salah faham.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.🙏

__ADS_1


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏


__ADS_2