
Happy reading 😘😘😘
Andrea tersenyum nyengir dan berusaha menelaah ucapan Hafidz. Namun ia benar-benar tidak bisa memahami ucapan ayah mertuanya yang terdengar ambigu.
Andrea pun berencana untuk bertanya pada Mbah gugel dan Nofia--sahabatnya. Ia berharap, akan segera menemukan jawaban, sehingga di lain waktu bisa mengimbangi candaan yang di lontarkan oleh ayah mertuanya.
Drttttt ....
Suara getaran yang berasal dari gawai milik Andrea mengalihkan atensi pemuda berparas rupawan itu dan kedua mertuanya. Refleks, Andrea merogoh saku celana dan mengambil gawai kesayangannya.
Rupanya ada pesan dan miscall dari Nofia.
Prabu, where are you? -Nofia-
Bibir Andrea melengkung saat ia membaca pesan yang dikirim oleh Nofia.
Tanpa membalas pesan tersebut, Andrea memasukkan kembali gawainya ke dalam saku celana.
Ia berniat untuk segera kembali ke kamar agar bisa leluasa membalas pesan dari Nofia dan menghindari obrolan yang sungguh tidak ia mengerti maksudnya. Tentu saja obrolan yang diselipi kata-kata ambigu.
"Mm, Abah, Ummi, maaf saya pamit ke kamar dulu. Ada yang harus segera saya kerjakan," pamitnya dengan tutur kata yang sopan.
"Owh, silahkan Nak Andrea. Sebentar lagi Abah dan Ummi juga mau berangkat ke kampung sebelah untuk mengisi kajian," tutur Hafidz--membalas ucapan menantunya.
"Terima kasih, Abah."
Hafidz menanggapi ucapan Andrea dengan mengangguk dan tersenyum.
Andrea lantas beranjak dari posisi duduk. Kemudian ia mencium punggung tangan Hafidz dan Khabibah secara bergantian.
Setelah mengucap salam, Andrea berlalu dari hadapan kedua mertuanya dan mengayun langkah menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Andrea menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang dan bergegas mengambil gawainya. Ia sudah tidak sabar untuk membalas pesan yang dikirim oleh Nofia dan bertanya pada sahabatnya itu tentang kata-kata ambigu yang sukses membuatnya bingung.
Nof, gue masih di Kalimantan. Tepatnya di rumah mertua gue
"Beuh, gue pan udah janji ama Cantika buat ngrahasiain pernikahan gue ma doi. Bener-bener nih jari minta ditonjok. Hampir aja bikin gue keceplosan." Andrea bermonolog, lalu segera menghapus pesan yang hampir saja ia kirim ke nomer WA Nofia.
Gue lagi berkelana, Nof--ketiknya kemudian.
Berkelana ke mana? Kok tumben nggak ngajak-ngajak aku, Prabu?
Berkelana ke taman surga. Lu kaga usah nyari gue. Seminggu lagi gue pulang.
Jiaaa, ke taman surga. Bukannya kemarin kamu pamit mo ke Kalimantan?
Sudah gaharu cendana pula kau ini!
__ADS_1
Berarti kamu jadi donk, menghadiri akad nikahnya Bang Dafa ma Bu Cantika?
Jadi, tapi Bang Dafa ma Bu Cantika kaga jadi nikah.
What???? 😳
Udah, kaga usah kaget! Mungkin Bang Dafa ma Bu Cantika emang kaga berjodoh.
Kasihan Bu Cantika. Tapi, tapi, tapi, kenapa mereka nggak jadi nikah? 👉👈
Bang Dafa yang gagalin. Kaga usah tanya, apa alasan Bang Dafa gagalin pernikahan mereka!!!
Aku curiga, kamu tahu alasan Bang Dafa gagalin pernikahannya dengan Bu Cantika, Prab. 🤔
Gue mo mandi. Kalo gue kaga chat lu duluan, jangan chat gue!
Why?????
Andrea menarik sudut bibirnya dan meletakkan gawai di atas nakas tanpa membalas pesan terakhir yang dikirim oleh Nofia.
"Gue harus bisa jaga rahasia. Semoga aja, mulut ma jari gue kaga keceplosan. Kalo keceplosan, hancur dunia persilatan. Gue bisa ditendang Cantika," monolognya.
"Mandi dulu ah, biar badan wangi dan pikiran seger."
Andrea beranjak dari ranjang, kemudian mengayun kaki--masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa mengunci pintu, dengan santainya Andrea melepas semua kain yang membalut tubuhnya, lantas masuk ke dalam bathub dan memutar kran.
Andrea sejenak memejamkan netra--menikmati sensasi dingin yang membuat tubuhnya terasa segar.
Karena terlalu asyik berendam di dalam bathub, Andrea tidak mendengar derit pintu kamar yang dibuka diiringi suara langkah kaki.
"Mas, kamu di mana? Nih ada titipan buku dari Abah!" ucap Cantika.
"Mas Andrea ke mana ya? Kok di kamar tidak ada." Cantika bermonolog sembari manyapu seisi ruang yang tampak sepi dengan sepasang netranya.
Karena tidak mendapati keberadaan Andrea, ia lantas menaruh buku-buku yang dibawanya di atas nakas.
"Mandi dulu aja kali ya? Biar otakku fress. Mumpung Mas Andrea tidak ada di kamar."
Cantika bergegas menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian ia melepas jilbab yang menutupi rikmanya dan membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
Karena tidak menyadari ada seseorang yang tengah berendam di dalam bathub, Cantika mulai membuka kancing gamisnya satu persatu sambil sejenak memejamkan netra dan menghirup aroma kamar mandi yang teramat wangi.
"Tumben wangi banget kamar mandinya," gumam Cantika diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah, lalu ia menggantungkan gamisnya di balik pintu.
Tanpa Cantika sadari, Andrea tengah memperhatikannya. Pemuda itu terkesiap dan seketika menelan saliva saat melihat tubuh Cantika yang hanya terbalut pakaian da-lam.
Perlahan Cantika merotasikan tubuhnya dan bersiap untuk masuk ke dalam bathub.
__ADS_1
Namun sebelum kakinya masuk ke dalam bathub, bola mata Cantika berotasi sempurna kala mendapati Andrea tengah berendam sambil memperhatikannya.
"Tidakkkkkkk." Sontak Cantika berteriak dan menutupi dua harta terindahnya yang masih terbalut kain dengan kedua tangannya.
Ia teramat malu karena aurat yang selama ini ditutupnya rapat, dilihat oleh Andrea.
"Ya-yang, ja-jangan berteriak! Nan-nanti didengar Abah dan Ummi. Ka-kamar mereka ada di sebelah. A-aku sudah nggak melihatnya," ucap Andrea terbata sembari memalingkan wajah dan menutupi sepasang netranya dengan telapak tangan.
Cantika pun berhenti berteriak dan bergegas meraih gamisnya yang ia gantung di balik pintu. Sial, gamisnya malah terjatuh dan basah.
Tidak ada cara lain untuk menutupi tubuhnya selain dengan handuk putih yang juga tergantung di balik pintu.
Setelah membalut tubuhnya dengan handuk, Cantika memutar knop dan bersiap untuk mengayun kaki--keluar dari kamar mandi.
"Yang, aku sudah selesai mandinya. Gantian kamu yang mandi." Andrea kembali bersuara. Namun kali ini ia berhasil menguasai diri, sehingga tidak lagi terbata.
Cantika pun urung mengayun kaki. "Keluarlah, Mas! Aku tidak bisa mandi, kalau kamu masih ada di sini," ujarnya tanpa menatap lawan bicara.
"Iya, Yang. Aku akan segera keluar."
Dengan menanggalkan rasa malu, Andrea keluar dari dalam bathub, lalu berjalan menghampiri Cantika yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Sudah, Yang," ucap Andrea.
Cantika merotasikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Andrea.
Betapa terkejutnya Cantika saat melihat tubuh suaminya itu tanpa sehelai benang pun. Keterkejutannya kian bertambah tatkala pandangan netranya menangkap objek yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Seketika Cantika jatuh pingsan. Beruntung, Andrea dengan sigap menangkap tubuh Cantika yang limbung, sehingga tubuh kekasih halalnya itu tidak sampai luruh ke lantai.
"Sayang, buka matamu! Yang! Please, jangan pingsan!" Andrea tampak cemas. Ia bergegas mengangkat tubuh Cantika dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Dengan sangat hati-hati, Andrea membaringkan tubuh Cantika di atas ranjang, kemudian menutupinya dengan selimut tebal.
Kenapa Cantika bisa pingsan melihat adek gue? Apa ada yang salah ya dengan si dedek imut? Atau mungkin karena Cantika belum pernah melihat benda pusaka yang dimiliki oleh kaum Adam? Andrea bertanya-tanya di dalam hati.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih 😘😘😘