Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Hari Yang Dinanti


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Hari ini adalah hari yang dinanti oleh Andrea dan Cantika. Karena pada hari ini, usia kandungan Cantika genap 9 bulan, lebih 10 hari.


Dari jam 3 pagi, Cantika merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggungnya, sehingga ia tidak bisa memejamkan sepasang netra indahnya.


Karena sudah tidak sanggup menahan sakit yang ia rasa, Cantika membangunkan Andrea dengan cara mengguncang pelan tubuh suami berondong-nya itu.


"Mas, bangun! Sakit banget." Cantika merintih sambil menggigit bibir bawahnya.


Seketika Andrea membuka sepasang netranya kala mendengar suara rintihan Cantika. Kemudian ia segera membawa tubuhnya bangkit dari posisi berbaring.


"Yang, kamu kenapa?" Andrea melontarkan tanya. Ia tampak cemas saat mendapati istrinya terlihat kesakitan.


"Punggungku sakit banget, Mas."


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, Yang? Mungkin dedek bayi-nya akan segera lahir."


"Iya, Mas." Cantika mengangguk lemah dan berusaha bangkit dari posisi duduk sembari memegangi perutnya yang besar.


Andrea tidak tinggal diam. Ia bergegas bangkit dari ranjang, lalu mengangkat tubuh Cantika dan menggendongnya ala bridal style.


"Mas, turunkan aku!" pinta Cantika.


"Nggak, Yang. Aku nggak bakal nurunin kamu."


"Mas, aku bisa jalan sendiri."


"Kamu lagi kesakitan, Yang. Mana mungkin aku tega ngebiarin kamu jalan sendiri."


"Tapi, Mas --"


Andrea melabuhkan kecupan di bibir ranum Cantika, sehingga Cantika tak kuasa melanjutkan ucapannya dan refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Andrea.


"Mas --" ucap Cantika lembut.


"Ya, Yang --"


"Aku mau lagi."


"Mau apa?"


"Mau kamu kecup." Cantika menjawab tanya dengan malu-malu sambil menundukkan wajahnya yang terhias rona merah.


"Nanti di mobil ya, Yang. Aku bakal ngasih ratusan kecupan," bisik Andrea seraya menggoda Cantika.

__ADS_1


"Memangnya, mobil siapa, Mas?"


"Mobil kita, Yang. Pemberian dari Ayah dan Bunda untuk kita. Semalam Bang Anggit yang mengantarnya ke rumah."


"Masya Allah. Kenapa Ayah dan Bunda memberikan mobil untuk kita, Mas? Apa mungkin, Ayah dan Bunda mengira Mas Andrea tidak bisa membeli mobil?"


"Bukan begitu, Yang. Ayah dan Bunda hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan kita. Usaha Ayah dan Bunda yang baru dirintis selama lima bulan ini sudah membuahkan hasil. Mini market yang dikelola oleh Ayah dan Bunda kini berkembang menjadi supermarket."


"Alhamdulillah, ya Allah. Aku turut senang mendengarnya, Mas."


"Iya, Yang. Alhamdulillah. Kamu suka mobil pajero warna silver 'kan?"


"Hehem, aku suka. Tapi aku lebih suka bela-lang tem-pur-mu, Mas. Lebih sweet."


"Ya, aku tau. Karena kamu bisa leluasa memelukku dari belakang sambil menyandarkan kepala di punggung. Iya 'kan, Yang?"


"Iya, Mmm ... arggghhh --" Cantika urung melanjutkan ucapannya karena sakit di bagian punggungnya kembali terasa.


"Astaghfirullah, sakit lagi, Mas --"


"Sabar ya, Yang! Aku yakin, kamu pasti kuat. Bertahanlah demi aku dan malaikat kecil kita!"


Dengan hati-hati Andrea membawa langkahnya menuruni anak tangga dan berteriak memanggil Anggit.


Suara teriakan Andrea sukses membangunkan Anggit yang tengah terbuai mimpi indah.


"Bang, buruan buka mobilnya! Bini gue mo ngelahirin," ujar Andrea begitu Anggit tiba di hadapan mereka.


"Loh, bukannya lu yang nyimpen kuncinya, Ndre? Pan udah gue kasih ke elu ntu kunci mobil?"


"Aelah, Bang. Lu yang nyimpen. Semalem lu pamit mo pulang, tapi gue kaga izinin karena gue butuh elu sewaktu-waktu. Terus gue kasih lagi kunci mobilnya ke elu."


Anggit sejenak terdiam dan berusaha mengingat kejadian semalam sebelum ia terbang ke alam mimpi.


"Aha, gue inget! Semalem kunci mobil elu gue simpan di saku celana." Anggit merogoh saku celananya. Dan benar saja, rupanya ia menyimpan kunci mobil Andrea di saku celana.


Anggit lantas membukakan pintu mobil untuk Andrea dan Cantika, kemudian ia menyusul masuk ke dalam mobil setelah kedua majikannya itu mendaratkan bobot tubuh di jok bagian belakang.


Selama berada di perjalanan, Cantika kembali merintih sambil memegangi perutnya, sementara tangannya yang satu mencengkram erat lengan Andrea.


"Astaghfirullah, Mas. Sakit --"


"Sabar ya, Yang! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Aku yakin, kamu pasti kuat! Karena kamu seorang wanita yang hebat," tutur Andrea diikuti kecupan yang ia labuhkan di dahi Cantika.


"Heem, insya Allah aku kuat, Mas. Namun jika aku tidak kuat --"


Andrea memangkas ucapan Cantika dengan melabuhkan kecupan di bibir ranum istri tercintanya itu.

__ADS_1


Tidak ada penolakan dari Cantika. Bahkan ia membalas kecupan yang dilabuhkan oleh Andrea.


Sepersekian detik, bibir Andrea dan Cantika saling berpagut, menyesap rasa manis yang menjadi candu.


Sentuhan bibir Andrea yang sangat lembut mampu meredakan rasa sakit yang tengah Cantika rasa meski hanya sekejap. Setelah itu ....


"Arghhhh --" Andrea berteriak. Bibirnya mengeluarkan darah karena gigitan Cantika.


"Urgh, sakit lagi, Mas. Ma-af --"


"Nggak pa-pa, Yang. Tambah sakit ya?"


Cantika menanggapi pertanyaan Andrea dengan mengangguk lemah dan sekejap memejamkan netra--seraya menahan sensasi rasa sakit yang kini terasa di bagian punggung dan menjalar hingga ke bagian perut.


Sesampainya di rumah sakit, Andrea bergegas membawa Cantika ke UGD. Di ruangan itu Cantika diperiksa oleh beberapa tenaga medis, lalu ia dipindahkan ke ruang bersalin karena ketubannya sudah pecah.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" Andrea bertanya pada Nayla--dokter obgyn yang akan membantu proses persalinan Cantika, setibanya mereka di depan ruang bersalin.


"Apa istri saya bisa melahirkan secara normal? Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, segera lakukan tindakan operasi caesar saja, Dok!" sambung Andrea disertai raut wajah cemas.


"Tenangkan diri Anda! Kondisi istri Anda memungkinkan untuk melahirkan secara normal, jadi kami tidak perlu melakukan operasi caesar untuk membantu persalinan beliau. Lebih baik dampingi istri Anda sekarang! Pegang tangannya dan berikan istri Anda motivasi!" tutur Nayla disertai seutas senyum.


"Ba-baik, Dok --"


Sebelum menghampiri Cantika, Andrea meminta Anggit untuk mengambil tas jinjing berisi pakaian Cantika dan pakaian bayi yang sudah ia siapkan di kamar. Andrea juga meminta Anggit supaya menghubungi keluarganya dan keluarga Cantika untuk memberi tahu pada mereka bahwa Cantika akan segera melahirkan.


"Lo kudu tenang, Ndre! Kasih Cantika semangat! Gue ikut berdoa, semoga Allah memberi kemudahan dan pertolongan-Nya pada Cantika. Anak lu lahir dengan selamat dan kaga kurang suatu apapun." Anggit bertutur dan menepuk pelan bahu Andrea.


"Aamiin, Bang. Makasih."


"Ya udah, gue cabut sekarang! Sonoh lu temenin Cantika! Pasti dia udah nungguin."


"Iya, Bang."


Andrea lantas memutar tumit dan mengayun langkah--menghampiri Cantika yang sudah bersiap untuk melahirkan buah cinta mereka.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


NB: Author sudah menerbangkan Bab ini dari pagi--setelah subuh, tapi baru di acc sekarang 🙏


Insya Allah, satu bab lagi kisah 'Muridku, Suamiku' end. Harap bersabar menanti UP author yang super lemot. Doakan saja semoga hari ini author bisa dobel UP. 😊🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih. 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2