
Happy reading 😘😘😘
Apa yang bisa dilakukan oleh dua orang yang saling mendamba datangnya pertemuan, dan kini Sang Maha Rahman memberikan kesempatan. Hal apa yang bisa dilakukan oleh dua hati yang sama-sama terpaku dalam kerinduan tanpa ungkapan, dan kini saling berdiri di hadapan.
Mereka hanya bisa saling memandang, saling menyimpan rasa yang tak bisa diungkapkan. Bukan tak mampu untuk saling memberitahukan, akan rasa haru dengan hadirnya sebuah pertemuan. Tapi, karena dari sekian bahasa, dari segenap perbendaharaan kata, tak ada yang bisa mewakilkan apa yang sebenarnya mereka rasa.
Maka jangan ditanya, ketika netra keduanya berkabut air bening yang siap menerjang keluar. Karena hati yang hampir tak mampu menampung rasa, yang tak bisa diwakilkan dalam sebentuk kata. Hanya sebentuk puji yang mungkin bisa mewadahi rasa bahagia.
Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menganugerahkan pertemuan.
-Najwa Aini-
Netra Mirza dan Najwa terbingkai kaca-kaca tatkala tanpa sengaja sepasang jendela hati mereka saling bertaut.
Ada rasa yang tak bisa diungkap dengan rangkaian kata. Ada segumpal rindu yang tak mampu ditumpahkan dengan saling berpeluk.
Keduanya terdiam tanpa kata. Hanya tatapan netra yang mampu mengilhami rasa yang masih bersemi dan tak akan pernah mati.
__ADS_1
"Ustaz Mirza --" Cantika berucap lirih diiringi senyum yang terkembang.
Ia lantas mengayun langkah, menghampiri Mirza yang masih berdiri di ambang pintu, disusul oleh Andrea yang berjalan di belakangnya.
"Assalamualaikum." Mirza mengucap salam sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dan tanpa terlupa menyertainya dengan seutas senyum.
"Wa'alaikumsalam, Ustaz." Andrea dan Cantika membalas salam dengan kompak. Sama seperti Mirza, keduanya pun menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Syukron Ustaz, sudah memenuhi undangan kami," ucap Cantika dengan tutur katanya yang terdengar halus dan sopan.
Mirza menanggapi ucapan Cantika dengan mengangguk pelan dan tersenyum samar. "Afwan," balasnya singkat tanpa menatap lawan bicara.
Setelah tuan rumah dan semua tamu undangan duduk, Anggit yang dipercaya oleh Andrea untuk menjadi MC mulai menyapa dengan suara khasnya. Ia meminta Najwa supaya maju ke depan dan membaca kalam cinta sebagai pembuka acara tasyakuran.
Najwa mengayun langkah dengan menundukkan kepala, lalu ia mendaratkan bobot tubuhnya dan mengucap salam sebelum membaca kalam cinta.
Ayat demi ayat terlantun merdu hingga menggetarkan hati semua orang yang mendengar suara Najwa, tak terkecuali Mirza--ustaz muda berparas tampan yang pernah menghiasi hari-hari Najwa Aini dengan menjadi imamnya.
Tanpa terasa, buliran bening menetes dari kedua sudut netra Mirza dan Najwa kala terlintas bayangan indah saat mereka melafazkan ayat-ayat cinta bersama di tengah malam sebelum keduanya berpeluk dan menyatukan cinta.
__ADS_1
Sepasang Adam dan Hawa yang terpisahkan oleh takdir cinta itu melafazkan istighfar di dalam hati. Mereka memohon ampun pada Illahi atas rasa dan ingatan yang tak semestinya memenuhi ruang pikir.
Seusai mengucap salam, Najwa mengayun langkah dengan tergesa. Ia berjalan menuju taman yang berada di belakang rumah untuk menumpahkan air mata kesedihan.
Mirza hanya mampu menatap punggung mantan istrinya dengan tatapan sendu. Ia sungguh tidak kuasa mengejar wanita yang masih dicinta karena mereka tak lagi tertaut dalam ikatan halal.
"Mas, aku menyusul Kak Naj dulu ya." Cantika berbisik seraya meminta izin pada Andrea untuk menyusul Najwa dan Andrea pun mengizinkannya.
Ia lantas beranjak dari posisi duduk, kemudian membawa langkahnya untuk menyusul Najwa yang telah sampai di taman belakang.
Kak Naj, bersabarlah dan yakinlah bahwa kelak cinta kalian akan kembali menyatu--bisik kalbu Cantika di sela-sela ayunan langkah.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku'. 😘🙏
__ADS_1