Muridku, Suamiku

Muridku, Suamiku
Bangga


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Suasana sesaat hening. Hanya terdengar helaan nafas diiringi gemericik air langit yang mulai jatuh membasahi bumi.


Tidak ada satu orang pun yang berani mengangkat wajahnya, apalagi menyahut ucapan Airlangga.


Mereka tidak ingin salah berucap dan membuat Airlangga semakin murka.


"Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya bisa semurka ini? Kenapa saya tidak terima jika ada orang yang mengatakan bahkan menuduh Andrea dan Cantika berbuat asusila sebelum mereka menikah?" Airlangga memecah hening dengan kembali memperdengarkan suara baritonnya.


"Mungkin sudah tiba waktunya bagi kalian untuk mengetahui hubungan saya dengan mereka berdua. Dengar baik-baik! Andrea adalah putra bungsu saya dan Cantika adalah menantu saya. Itulah alasan ... kenapa saya teramat murka dan tidak terima dengan perkataan Bu Nurma," sambungnya dan sukses membuat semua orang terkesiap hingga tak bisa berkata-kata.


Mereka tidak pernah menyangka, Andrea yang dikenal sebagai murid badung dan anak angkat seorang pembantu ternyata putra bungsu Airlangga--sang pemilik yayasan.


"Kalian juga harus tahu, mereka berdua adalah pewaris yayasan ini. Tidak ada satu orang pun yang berhak mengeluarkan mereka. Bagi anggota Dewan Guru yang tidak berkenan dengan perkataan ataupun kehendak saya, silahkan mengundurkan diri!" lanjut Airlangga dengan merendahkan nada suara. Namun penuh penekanan.


Nurma menunduk dalam, begitu juga Johan dan anggota Dewan Guru yang lain, terkecuali Akbar dan Mita.


Keduanya bernafas lega dan tersenyum puas, sebab semua tabir yang tertutup rapat kini telah terbuka.

__ADS_1


Mereka meyakini, tidak ada lagi yang berani memandang Andrea sebelah mata ataupun meremehkannya, apalagi berniat mengeluarkan Andrea dari yayasan dengan segala macam alasan.


"Bu Nurma, terima kasih atas pengabdian Anda selama ini. Sebagai wujud tanda terima kasih saya selaku pemilik yayasan, saya akan mempersilahkan Ibu untuk mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah. Saya juga akan memberi hadiah berupa rumah serta sejumlah uang."


Nurma memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menanggapi ucapan Airlangga. "Tu-tuan --"


"Berdasar laporan yang saya terima, kinerja anda sebagai seorang kepala sekolah jauh dari kata bagus. Ada beberapa kecurangan yang Anda lakukan bersama salah seorang rekan guru. Dan saya sudah menerima bukti kecurangan yang kalian lakukan," tukas Airlangga seraya memangkas ucapan Nurma.


"Saya tidak habis pikir, kenapa kalian bisa melakukan kecurangan itu? Apa karena gaji yang saya beri kurang besar? Jika memang karena gaji yang saya berikan kurang besar, seharusnya kalian berterus terang saja pada saya, tidak usah memungut sejumlah uang dari para wali murid dengan alasan mengadakan kegiatan out bond atau kegiatan sejenisnya." Airlangga menjeda sejenak ucapannya, lalu meraup udara dalam-dalam.


"Kalian seorang guru, bukan pelaku usaha. Jadi tidak sepantasnya mengambil keuntungan dari semua kegiatan yang kalian adakan atas nama yayasan," sambungnya bernada sarkas.


Tak pernah tersirat dalam pikirannya, kecurangan yang telah ia lakukan bersama Johan akan diketahui oleh pemilik yayasan.


Airlangga lantas mengalihkan pandangan netranya ke arah Andrea dan Cantika, kemudian ia berjalan menghampiri mereka berdua.


"Andrea Winata putraku, mulai saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus mengaku pada semua orang bahwa Ayah dan Bunda Vay adalah orang tua kandungmu. Kami tidak ingin, putra kami diremehkan ataupun dipandang rendah oleh semua orang. Kami juga tidak ingin, mereka mengira ... kamu sudah tidak mempunyai orang tua kandung ataupun anak terbuang yang diangkat putra oleh seorang pembantu. Kami mohon ... ijinkan Ayah dan Bunda untuk menebus kesalahan kami di masa lalu dengan mencurahimu kasih sayang," tutur Airlangga disertai seutas senyum dan usapan lembut yang ia labuhkan di bahu Andrea.


Andrea menarik kedua sudut bibirnya dan membawa tubuhnya berdiri, diikuti oleh Cantika.


"Yah, saya akan mengaku pada semua orang bahwa saya putra Ayah dan Bunda. Tetapi saya tidak ingin, Ayah dan Bunda menjadikan kami sebagai pewaris yayasan ini, karena Bang Dafa dan Kak Nasari yang lebih berhak. Saya juga tidak ingin, Ayah dan Bunda mencegah kami untuk keluar dari yayasan. Saya dan Cantika sudah memantapkan diri untuk keluar, karena kami tidak ingin orang-orang di luar sana menilai buruk yayasan ini hanya karena hubungan kami."

__ADS_1


Kata-kata yang diucapkan oleh Andrea menumbuhkan rasa kagum di hati Cantika, sehingga terlafaz kalimat pujian yang hanya terlisan di dalam benak.


Sungguh, Cantika teramat bangga pada suami brondongnya. Meski masih berusia remaja, Andrea mampu berpikiran dewasa dan bijak.


Terima kasih ya Allah, Engkau telah menganugerahi hamba seorang suami yang mendekati kata sempurna. Ijinkan hamba untuk selalu berbakti padanya dan menjadi bidadari surga baginya--bisik kalbu Cantika seraya melangitkan pinta pada Sang Maha Cinta.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏


Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍


tabok ❤ untuk favoritkan karya


bijaksana-lah memberi bintang ⭐


beri gift atau vote jika berkenan


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2