
Happy reading 😘😘😘
Pagi ini Airlangga meminta Andrea dan Cantika untuk datang ke rumah utama. Rumah tersebut tidak seperti rumah mewah pada umumnya. Yang memiliki banyak pelayan ataupun maid. Namun di rumah tersebut Airlangga hanya mempekerjakan dua pelayan wanita dan dua pelayan laki-laki yang bertugas membersihkan seisi rumah, dua tukang kebun, dua sopir pribadi, dan empat security yang bertugas bergantian.
Sistem kerjanya pun kekeluargaan dan bukan protokoler selayaknya di istana para sultan, sehingga membuat semua orang yang bekerja di rumah itu merasa nyaman dan betah. Selain itu, mereka juga merasa dihargai oleh sang majikan.
Rupanya bukan hanya Andrea dan Cantika saja yang diminta oleh Airlangga untuk datang ke rumah utama. Namun Dafa, Nasari, dan Akbar pun turut diundang olehnya.
Airlangga mempersilahkan Andrea dan Cantika yang baru saja menjejakkan kaki mereka di lantai aula untuk menempati kursi yang berada di sebelah Vay dan berhadapan dengan ketiga orang yang telah duduk terlebih dahulu. Ketiga orang itu adalah Dafa, Nasari, dan Akbar.
Setelah sejenak berbasa-basi, Airlangga menyampaikan maksud serta tujuannya mengumpulkan anak, menantu, dan istrinya di aula rumah.
Ia lantas mengeluarkan beberapa sertifikat dari dalam koper kecil dan menaruhnya di atas meja. Kemudian ia membagikan sertifikat-sertifikat tersebut pada ketiga anaknya--Andrea, Dafa, dan Nasari.
__ADS_1
"Yah, kenapa Ayah membagi sertifikat-sertifikat ini pada kami?" Nasari memberanikan diri bertanya pada Airlangga setelah ia membuka lembar demi lembar sertifikat yang diberikan oleh ayahnya itu. Ia terkesiap saat namanya tertera sebagai pemilik Winata Corp.
Airlangga mengulas senyum dan menaruh kedua tangannya di atas meja, lalu menjawab tanya yang terlisan.
"Sari, Ayah dan Bunda sudah tua. Sudah waktunya kami beristirahat dan menikmati masa tua tanpa terbebani pekerjaan yang terkadang membuat kami jarang bisa bersama. Oleh karena itu, kami menyerahkan Winata Corp beserta anak cabangnya pada kamu dan Dafa. Sedangkan untuk Andrea, Ayah menyerahkan yayasan Nusa Bangsa dan rumah ini."
"Jika Ayah dan Bunda menyerahkan perusahaan pada kami, bagaimana Ayah akan menafkahi Bunda dan mencukupi kebutuhan hidup?" Dafa menyahut ucapan Airlangga dengan melontarkan pertanyaan yang sukses membuat Airlangga mengudarakan tawa.
"Kalian tidak usah khawatir bagaimana Ayah akan menafkahi Bunda dan mencukupi kebutuhan hidup kami. Ayah sudah memikirkan dan membicarakan hal ini dengan Bunda," tutur Airlangga begitu tawanya mereda.
"Masya Allah." Andrea, Cantika, Dafa, Nasari, dan Akbar menyahut perkataan Airlangga dengan kompak. Terselip rasa kagum di hati mereka tatkala mendengar rangkaian kata yang dituturkan oleh Airlangga.
"Ta, maksud ayah ... Andrea. Ayah mohon, tunaikan amanah kami! Ayah dan Bunda yakin, kamu dan Cantika pasti bisa mengelola yayasan dengan baik. Jangan ada kasta di yayasan. Bebaskan biaya sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu dan cukupilah kebutuhan mereka dengan sejumlah uang yang sudah Ayah siapkan," tutur Airlangga pada putra bungsunya--Andrea Winata.
Andrea sejenak terdiam dan menghela nafas panjang. Kentara sekali ia tengah berpikir dan menimbang.
__ADS_1
"Ndre --"
"Bismillah, saya dan Cantika akan menunaikan amanah Ayah dan Bunda. Insya Allah kami akan mengelola yayasan dengan sebaik mungkin," ucap Andrea tanpa ragu.
"Alhamdulillah ya Allah." Airlangga dan Vay tersenyum lega. Begitu juga Dafa, Nasari, dan Akbar.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP keduanya segini dulu ya Kakak-kakak. Insya Allah bab percilokan dilanjut besok. 😁🙏
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terkasih yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku'. 😘🙏
__ADS_1