
Happy reading 😘😘😘
Ayunan kaki Andrea dan Cantika terhenti di taman sekolah yang tampak sepi. Tidak ada satu pun siswa atau guru yang berlalu lalang di taman itu.
Setelah memastikan tidak ada orang lain yang berada di taman, Andrea dan Cantika lantas mendaratkan bobot tubuh mereka di bangku taman yang dinaungi oleh pohon tabebuya.
Sepersekian detik sepasang kekasih halal itu terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing dengan pandangan netra tertuju pada keindahan bunga tabebuya yang tengah bermekaran dan kecantikannya menyerupai bunga sakura--bunga khas dari negeri Jepang.
"Mas --" ucap Cantika seraya memecah hening yang sejenak menyelimuti. Ia pindahi pandangan netranya dari keindahan bunga tabebuya dan mengalihkannya pada Andrea.
"Ya. Ada apa, Yang?" Andrea menanggapi ucapan Cantika dan menatap lekat manik mata kekasih halalnya itu diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah.
"Mas, jangan terlalu kasar pada Afri! Kasihan dia. Sebagai seorang wanita, aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia pasti sangat terluka saat kamu mengibaskan tangan dan membentak-nya," tutur Cantika dengan merendahkan suara.
"Jujur, aku juga nggak tega berlaku kasar padanya, Yang. Apalagi membentaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Kamu tau sendiri 'kan, Afri sangat keras kepala? Ambisinya terkadang mengalahkan akal sehat. Afri rela melakukan apapun demi mewujudkan keinginan-nya."
"Ya, kamu benar, Mas. Tapi masih ada cara lain untuk menghadapi Afri selain berlaku kasar dan membentaknya."
"Oya? Bagaimana caranya, Yang?"
"Entahlah, Mas. Aku belum kepikiran bagaimana caranya."
"Ya sudah, kita pikirkan caranya sambil ngemil cilok, Yang."
"Ishhh, kebiasaan--tuman. Sedang diajak bicara serius kog malah sempat-sempatnya bercanda kamu, Mas."
__ADS_1
"Aku serius, Yang. Kebetulan, aku lagi kepingin banget ngemil cilok."
"Tumben amat, Mas? Biasanya 'kan, aku yang suka ngemil cilok."
Andrea mengendikkan bahu dan mencebikkan bibirnya. "Mungkin, karena aku lagi ngidam, Yang," ujarnya asal.
"Ngidam?"
"Iya, Yang. Aku yang ngidam, Sayang yang hamil."
"Semoga bukan karena gidam, Mas. Jujur, aku belum siap hamil."
"Kenapa kamu belum siap hamil, Yang?"
"Karena --"
Cantika mengangguk lemah dan menghela nafas dalam.
"Iya, Mas. Aku takut, study-mu akan terganggu jika saat ini aku benar-benar hamil. Aku tidak ingin masa depanmu berantakan jika aku mengandung anak kita sebelum kamu lulus dari SMA."
Andrea menerbitkan senyum, lalu meraih jemari tangan Cantika dan membawanya ke dalam genggaman.
"Sayang nggak usah takut! Insya Allah masa depanku nggak akan berantakan hanya karena kamu mengandung buah cinta kita sebelum aku lulus dari SMA." Andrea menjeda sejenak ucapannya dan mengusap lembut pipi Cantika.
"Kamu masih ingat permintaan ayah dan bunda 'kan, Yang? Ayah dan bunda meminta kita untuk segera memberi mereka cucu."
"Ya, aku masih ingat, Mas. Bukan cuma ayah dan bunda saja yang meminta kita agar segera memberi mereka cucu, tetapi abah dan ummi pun memintanya. Tapi --"
__ADS_1
Andrea memangkas ucapan Cantika dengan menyentuhkan jari telunjuknya di bibir bidadari hatinya itu diiringi kecupan dalam yang berlabuh di kening.
Andrea terlupa jika mereka masih berada di area sekolah dan tidak menyadari ada dua pasang mata yang tengah menyaksikan kedekatan mereka berdua dari balik pohon tabebuya. Begitu juga dengan Cantika.
Lantas, siapa yang tengah menyaksikan Andrea dan Cantika? Semoga saja bukan Afri ataupun rekan kerja Cantika yang bermulut ember.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Dengan terpaksa author menggantung bab lagi, karena mata author sedang tidak bisa diajak bekerjasama.
Selamat malam dan selamat beristirahat Kakak-kakak ter love. Insya Allah kita bertemu lagi di bab selanjutnya.
Sambil menunggu kelanjutan kisah 'Muridku, Imamku', yuk mampir di karya author yang berjudul 'Istri Comel Pilihan Abi'.
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
beri gift atau vote jika berkenan
__ADS_1
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏