
Happy reading 😘😘😘
Nofia bergeming dan sejenak terpaku. Ditatapnya wajah Jaenal tanpa berkedip.
Meski Nofia teramat membenci Jaenal. Namun ia tidak bisa menafikan kegantengan seorang Jaenal yang teramat memesona.
"Fi, sampai kapan lu mo pantengin si Jae? Gue curiga, jangan-jangan lu demen ama dia," ujar Andrea sambil melayangkan jitakan yang mendarat cantik di dahi Nofia, sehingga membuat Nofia terkesiap dan tersadar dari mode terpaku.
"Eng, kamu ngomong apa barusan, Prab?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Andrea, Nofia malah balik bertanya dan terlihat seperti orang linglung.
Andrea, Juno, dan Jaenal tergelak. Mereka teramat geli melihat ekspresi wajah Nofia yang tampak menggelikan.
"Kalian kenapa sih? Nggak ada apa-apa kog tertawa kaya' orang gila." Nofia memberengut dan melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu ia jatuhkan bobot tubuhnya di kursi kayu--bersebelahan dengan Jaenal.
"Lu kaga sadar Fi, kalo lu yang udah bikin kita ketawa?"
"Nggak. Memangnya aku kenapa?"
"Lu --"
"Jangan bilang kalian tertawa karena melihat kumis tipisku yang semakin memesona," sahut Nofia--memangkas ucapan Andrea.
Ya, seperti yang pernah author sampaikan di bab 'pengenalan tokoh'. Meski seorang gadis tulen, Nofia memiliki kumis tipis. Jika ada di antara Kakak-kakak pembaca yang penasaran bagaimana wajah Nofia dan Jaenal di dunia nyata, cus tengok FB Nofia Kahza. Ea .... Lanjut ke cerita.
"Kaga." Andrea menjawab singkat dengan logatnya yang terdengar santai.
"Terus karena apa?" Nofia bertanya heran diikuti tukikan kedua pangkal alisnya.
"Karena ekspresi wajahmu yang menggelikan, Fia sayang," cetus Jaenal seraya menjawab tanya yang terlontar dari bibir Sang Bidadari Hati--Nofia Kahza.
Nofia memutar bola mata malas. Ia teramat kesal bin sebal pada Jaenal karena telah lancang memanggilnya 'Sayang'.
__ADS_1
"Sayang, sayang, palamu peang? Bukan kamu ya yang aku tanya, tapi Prabu," ujar Nofia bernada ketus.
"Santui aja, Fi! Sabar, biar jidat lu lebar! Sekarang lu jelasin ke kita-kita, gimana ceritanya si Jaenal bisa ngerusak kesu-cian bibir lu!"
Nofia meraup udara dalam-dalam. Dengan berat hati ia pun mulai menceritakan kejadian semalam yang membuat bibirnya terno-da.
"Semalam, aku ke rumah Jaenal untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Aku terpaksa memenuhi undangan Jaenal, karena dia terus memohon sambil bersimpuh. Kamu tau sendiri 'kan Prab, aku ini orang yang nggak tegaan?"
"Ya, gue tau. Terus, lu datang ke rumah Jaenal ama siapa?"
"Aku datang ke rumah Si Luknut sendiri, Prab." Nofia tertunduk lemah.
"Napa lu kaga minta Si Riri buat nemenin elu?"
"Aku sudah minta Riri untuk menemani, Prab. Tapi Riri nggak bisa --"
"Kenapa kaga bisa?"
"Riri bilang, dia sudah terlanjur janji pada Ridho Roma untuk makan malam bersama keluarganya."
"Iya. Riri juga bilang, Ridho ingin memperkenalkannya pada keluarga."
"Emangnya, Riri ama Ridho udah jadian?"
"Nggak. Mereka nggak jadian. Tetapi melebihi jadian. Mereka ta'aruf, Prab. Riri bilang, setelah lulus SMA, dia dan Ridho Roma akan menikah."
"Woahhhh, berarti Si Riri ama Si Ridho mo nikah muda? Sama kaya' gue ama Cantika."
"Huum."
"Dah lah, mending lu ama Si Jaenal ikutan nikah muda aja."
"Emoh aku, kalau nikah sama si Lucnut."
__ADS_1
"Kalo lu kaga mau nikah ama Si Jae, lu nikah ama gue aja, Fi." Juno menimpali ucapan Nofia.
"Jangan mimpi kamu! Nofia milikku dan selamanya milikku. Nggak ada cowo lain yang bakal aku biarin menyentuhnya apalagi memilikinya." Jaenal meninggikan intonasi suara dan melayangkan tatapan menghunus, sehingga membuat Juno bergidik ngeri. Jaenal sungguh tidak terima jika ada lelaki lain yang berkeinginan untuk memiliki Nofia.
Nofia menggebrak meja, lalu menimpali ucapan Jaenal. Sama seperti Jaenal, Nofia pun meninggikan intonasi suara dan melayangkan tatapan menghunus. "Heh, percaya diri sekali Anda. Memangnya Anda siapa?"
"Aku lelaki yang telah meno-dai kesucian bibirmu. Kekasihmu. Calon suamimu. Lelaki yang akan mencurahimu dengan kasih sayang dan menaburkan benih ke dalam rahim-mu," sahut Jaenal dengan kepercayaan diri tingkat dewa.
"Kau --" pita suara Nofia tercekat saat tiba-tiba Jaenal menarik lengannya dan melabuhkan kecupan di bibir ranumnya.
Nofia mematung. Ia tak kuasa menghindari sentuhan bibir Jaenal yang menciptakan gelenyar aneh dan membuat degup jantungnya berirama merdu.
Andrea dan Juno terkesiap. Kedua lelaki itu tidak menyangka, Jaenal teramat nekat.
"Woi, jangan asal nyo-sor lu!" Andrea mendorong Jaenal, hingga tubuh Jaenal luruh ke lantai. Namun tak disangka, Nofia pun turut luruh karena tangannya ditarik oleh Jaenal. Ia terjatuh tepat di atas tubuh Jaenal.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf seribu maaf, author baru sempat melanjutkan kisah 'Muridku, Imamku' karena kesibukkan di RL dan kondisi badan yang kurang sehat. Mohon dimaklumi ya Kakak-kakak. 😊🙏
Dengan terpaksa, author menyematkan label end di kisah ini. Jika ada Kakak-kakak yang bertanya alasannya, yuk sini author bisikin. 🤭
Tapi tenang saja, meski berlabel end, insya Allah author bakal menyempatkan waktu untuk melanjutkan kisah cinta Andrea dan Cantika. Jadi, jangan unfav dan tetap nantikan kelanjutan kisah mereka hingga benar-benar end.
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksana-lah memberi bintang ⭐
__ADS_1
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih setia mengawal kisah 'Muridku, Imamku' 😘🙏