
Happy reading 😘😘😘
"Ish, ish, apa yang Abi lakukan pada Ummi? Ummi bisa sakit kalau disuruh mainan kuda-kudaan seperti itu. Seharusnya Abi yang di bawah dan Ummi yang di atas."
Celotehan Ali sukses membuat kedua orang tuanya terkesiap (sangat terkejut).
Akbar bergegas membawa tubuhnya bangkit dan melepas Nasari dari kung-kungannya. Kemudian ia beranjak dari ranjang, diikuti oleh Nasari yang juga beranjak dari ranjang.
Akbar merasa beruntung karena ia belum memulai aksinya saat Ali muncul dengan tiba-tiba. Sehingga sepasang jendela hati putranya yang masih suci belum sempat ter-noda.
Sama seperti Akbar. Nasari pun merasa beruntung. Dan tentunya juga teramat bersyukur. Sebab ia bisa terbebas dari kung-kungan Akbar dan terselamatkan dari aksi suaminya itu dikarenakan kemunculan Ali yang tiba-tiba.
"Ali," ucap Akbar dan Nasari bersamaan. Keduanya lantas berjalan menghampiri putra mereka yang berdiri di ambang pintu.
"Bi, besok kalau main kuda-kudaan lagi sama Ummi, nggak boleh gitu ya! Kasihan Ummi. Seharusnya Abi di bawah dan Ummi yang di atas. Seperti saat Abi bermain sama Ali dan Alwi. Abi di bawah, Ali dan Alwi yang di atas," celoteh Ali seraya menasehati sang Abi.
Akbar tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal kala mendengar celotehan Ali yang bernada nasehat.
Sebagai seorang ayah, ia teramat malu sebab dinasehati oleh putranya yang masih berusia 4 tahun.
Sedangkan Nasari, ia berusaha menahan tawa dengan mengulum bibir, sama seperti seseorang yang tengah bersembunyi di balik dinding.
"Dengerin nasehat Ali ya, Bi! Jangan cuma masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Jangan diulang lagi main kuda-kudaan yang bisa membahayakan Ummi. Kaki Ummi bisa patah kalau Abi duduk di kaki Ummi. Badan Abi 'kan lebih besar dari pada badan Ummi." Ali kembali menasehati abinya.
Andrea yang tengah bersembunyi di balik dinding tak kuasa menahan tawa. Ia lantas keluar dari persembunyian dan mengudarakan tawa sembari memegangi perutnya yang terasa kram.
"Pffttt ... hahhhahaha, astogeh bisa keriting gigi gue gara-gara celotehan anak lu, Bang. Sumpah, ampe kram perut gue. Pinter banget si Ali," ujar Andrea di sela-sela tawanya.
"Ternyata biang keladinya si badung. Nyuruh kita bikin adonan. Katanya mumpung nggak ada yang gangguin. Eh malah dia sendiri yang gangguin. Kurang asem bener kok adikmu itu, Mi," bisik Akbar tepat di telinga Nasari agar tak didengar oleh Ali.
"Andrea bukannya nyuruh, Bi. Tapi mempersilahkan kita untuk bikin adonan di kamarnya. Makanya, Abi jangan suka nekat! Untung Abi belum melancarkan aksi. Kalau Abi sudah melancarkan aksi, bagaimana nasib Ali. Indera penglihatan putra kita bisa ter-noda karena menyaksikan adegan yang tak patut ditonton oleh anak di bawah umur, Bi," balas Nasari yang juga berbisik.
__ADS_1
"Maafin Abi, Mi. Besok-besok Abi nggak akan nekat lagi. Nunggu situasi benar-benar aman."
"Iyup, Bi --"
Ali tampak serius memperhatikan Akbar dan Nasari yang tengah asyik saling berbisik.
Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh abi dan umminya itu.
"Abi dan Ummi lagi ngomongin apa sih? Kenapa bisik-bisik? Kata temen Ali, kalau kita ngomongnya berbisik, berarti kita temennya syaiton. Abi dan Ummi mau jadi temennya syaiton?" cecarnya seraya menginterupsi.
Ucapan Ali sukses menyentil Akbar dan Nasari, sehingga keduanya terbungkam dan berhenti berbisik.
"Tuh, dengerin omongan anak lu, Bang! Kak Sari juga, dengerin omongan Ali! Kaga usah berbisik! Ngomong aja yang jelas!" sahut Andrea--menimpali ucapan Ali.
"Apaan sih, Tong? Nggak usah ikut-ikutan! Gara-gara kamu, Abang jadi kena sembur si bocil," cetus Akbar meluapkan kekesalan.
"Kok gara-gara gue, Bang? Gue kaga salah apa-apa loh."
"Ck, bisa-bisanya bilang nggak salah --"
"Kamu lupa atau amnesia sih, Ndre? Tadi kamu bilang, kalau kami mau bikin adonan, bikin aja di kamarmu dan nggak usah segan. Kamu juga bilang, kamu bakal mastiin nggak ada yang ganggu, termasuk Al --" Akbar urung melanjutkan ucapannya kala tersadar di ruangan itu ada Ali.
"Maksud Abi adonan apa sih?" Ali bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Mmm, maksud Abi ... adonan Kue Susan, Kak."
"Kue Susan itu seperti apa, Abi? Kenapa bikinnya di kamar, bukan di dapur?"
"Eng kue Susan itu, kue yang menyerupai boneka Susan. Dibikin di kamar karena --"
"Li, tadi lu bilang mo pipis? Buruan gih pipis! Ntar keburu ngompol loh!" Andrea memangkas ucapan Akbar dan merangkul pundak Ali.
"Oh iya, Om. Ali sampai lupa."
__ADS_1
"Ya udah, yok Om anter ke toilet! Abi dan Ummi lu biar lanjut bikin kue Susan!"
"Ogeh, Om!" Ali tersenyum dan mengangkat jari jempolnya.
"Abi, Ummi, Ali pipis dulu ya! Abi dan Ummi semangat bikin kue Susan-nya! Bikinin Ali dan Alwi kue Susan yang banyak!"
"Siap, boskuh," balas Akbar diiringi senyum terkembang.
Sementara Nasari hanya menanggapi celotehan putranya dengan mengulas senyum tipis. Ia berharap, suaminya tidak akan lagi nekat membuat adonan kue Susan di saat mereka tengah berada di rumah Andrea.
Selepas Andrea dan Ali berlalu pergi, Akbar kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Eits, kenapa pintunya dikunci, Bi?" Nasari melontarkan tanya dengan sedikit meninggikan intonasi suara. Ia curiga, suaminya akan kembali nekat, mengajaknya untuk membuat adonan kue Susan di kamar Andrea.
"Abi ingin mengabulkan permintaan Ali, Mi. Membuatkan Ali dan Alwi kue Susan yang banyak."
"Astaghfirullah, belum satu jam Abi bilang nggak akan nekat lagi, tapi ump --" Akbar menyumpal mulut Nasari dengan melabuhkan bibirnya, sehingga Nasari tak bisa lagi berkata-kata.
Dan terjadilah ritual yang diinginkan oleh Akbar. Penyatuan cinta bernilai ibadah. Berikhtiyar membuat adonan kue Susan.
Semoga kali ini nggak ada gangguan dari siapa pun--batin Akbar berbisik.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 🙏
Jangan lupa, beri semangat author dengan meninggalkan jejak like dan komentar 👍
tabok ❤ untuk favoritkan karya
bijaksanalah memberi bintang ⭐
__ADS_1
beri gift atau vote jika berkenan
Terima kasih Kakak-kakak terkasih 😘🙏