Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Ziarah Makam Kakak


__ADS_3


Hari ini, aku pulang awal karena ingin sekali ziarah kemakam kak Mutia. Setelah beres-beres ruanganku, aku segera keluar menuju parkiran dimana mobilku terpakir.


"Dokter tolong anak saya!" teriak seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya hendak masuk Klinik.


"Ibu, ayo bawa masuk biar saya periksa anaknya!" kataku tenang. Kami menuju ruang periksa dengan langkah yang terburu-buru.


"Bu, sudah berapa hari putrinya demam?" tanyaku pada ibu pasien.


"Tiga hari Dok, sempat naik turun, saya kira kalau semakin membaik Dok, tapi ini malah kejang Dok." kata ibu pasien menjelaskan.


"Bu, untuk sementara anak ibu harus dirawat inap, besok kita akan melakukan tes darah." ucapku pada sang ibu.


"Iya Dok. Tolong selamatkan anak saya Dokter! Dia satu-satunya harta yang saya punya." ucap si ibu.


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anak ibu, selebihnya serahkan semuanya pada yang diatas." jelasku.


Aku keluar dari ruang periksa karena sudah ada suster yang memasang infus juga memindahkannya keruang inap. Aku segera kemobil dan begegas pergi ke makam kak Mutia.


_____

__ADS_1


Sesampainya dimakam kakak, aku berdo'a lalu setelahnya menabur bunga yang tadi sempatku beli saat akan kemari.


"Kakak, Tiara bawain bunga kesukaan kak Mutia." ucapku sambil meletakkan buket bunga mawar putih kesukaannya disamping nisannya.


"Kakak, kak Mutia tahu kan Mutiara sangatlah lucu, menggemaskan dan juga pandai, dia selalu mengompoliku saat aku sedang mengajaknya dan membuat bajuku basah karenanya."


"Kakak, Tiara rindu kakak. Tiara kangen ngobrol dan bercanda sama kakak." ucapku lagi, menangis mengingat kenangan saat bersamanya.


"Kak, dua minggu lagi aku dan kak Bayu akan menikah, aku bingung harus senang atau sedih. Kak, Tiara takut kak Bayu sulit menerima Tiara sebagai istrinya, kakak tahu sendirikan diantara kami ada orang kami cintai? Kak Bayu mencintai kakak dan aku pun mencintai kak Panji, meski beberapa hari ini dia tak juga menghubungiku. Apa mungkin kak Bayu bisa menerimaku, kak?" tanyaku monolog.


Setelah puas berkeluh kesah dengan Mutia, Tiara pulang. Tak lama selang beberapa menit kemudian Bayu datang. Ya, saat itu keduanya tak saling menyadari dan tak saling melihat satu sama lain.


"Selamat sore sayang, ternyata sudah ada yang membawakan bunga kesukaanmu." ucap Bayu saat melihat mawar putih disamping nisan Mutia, yang kemudian dia juga menaruh bunga yang sama disampingnya.


_____


Aku baru sampai dirumah, segera aku bergegas untuk mencuci kaki dan tanganku di kran halaman rumah, lalu aku masuk rumah dan melihat Mutiara yang sedang ada di ruang tengah dengan bibik. Aku cepat-cepat untuk menggendongnya karena aku memang sangat merindukannya.


"Mutiara sayang, tadi mama pergi ziarah ke makam ibu kamu dan memberitahunya kalau putri kecil kami ini sangat nakal karena selalu ngompol saat mama gendong." ucapku sambil menatap wajah dan ekspresi comelnya itu.


"Tiara kok sudah pulang nak?" tanya papa.

__ADS_1


"Iya pa, tadi pulang awal terus mampir ziarah kemakam kakak." ucapku pada papa Ali.


"Oh. Ya sudah, pergi mandi dulu sana! Kasian itu cucu papa kena keringet mama Tiara, ya?" ucap papa mengambil alih Mutiara dari tanganku.


"Aaaahh! Papa curang! Liat Mutiara sayang, grandpa lebih asem dari mama." ucapku menggonda papa.


"Tiara? Papa? Kalian berdua kok sudah pada pulang? Pada berebut ngajak Mutiara lagi." ucap mama mengambil jas dan tas yang diletakkan papa disofa.


"Tiara pergilah mandi! Papa juga pergi mandi! Tidak baik mandi kesorean, bentar lagi juga udah mau maghrib." ucap mama pada kami berdua.


"Sore ma, pa." ucap Bayu yang baru saja datang lalu menyalami mama dan papa mertuanya bergantian.


"Eh, nak Bayu juga kebetulan pulang sore ya? Nak Bayu, Tiara, mumpung kalian pada pulang sore, bagaimana kalau kalian pergi makan malam berdua saja?" tanya mama membuatku kaget dan menoleh kearah kak Bayu.


_____________________________________


Hayo jangan lupa


Like 👍


Komen 💬

__ADS_1


Vote 10, 💯, atau 1000 poin 😊


__ADS_2