
Pagi harinya, aku membuka kedua mataku memperhatikan sosok yang tertidur disampingku dan menghadap padaku. Tiba-tiba aku tersenyum kecil, saat melihatnya tertidur dengan begitu damai.
"Apa sudah puas memandangi wajahku?" ucapnya dengan kedua mata yang masih terpejam dan suara paraunya.
'Apa? Dia sedang berbicara padaku atau sedang mengigau? Tiara, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?' umpatku dalam hati.
"Kenapa, Ra? Apa kamu baru menyadari bahwa suamimu ini sangat tampan?"
"Kak Bayu, sudah bangun? Kenapa tidak membuka mata jika memang sudah terbangun?"
"Apa kamu lupa? Semalam kamu membuat tidurku tidak nyenyak?" ucapnya yang mulai membuka mata.
"Maaf, sekarang kembali tidurlah dengan damai!"
"Aku sudah terganggu karena ulahmu itu."
"Aku tidak mengganggumu! Sudahlah, aku mau mandi sekarang."
"Tapi, kamu tadi sudah memandangi wajahku dan juga menertawaiku, Ra. Apa kamu sudah mulai terpesona pada wajah tampanku ini sekarang?"
"Kak Bayu?"
"Iya, itu aku. Ada apa sayang?" ucapnya manja.
"Sayang? Aku tidak percaya ini!" ucapku saat telah menutup pintu kamar mandi.
_____
"Apa sakitmu sudah sembuh?" tanya kak Bayu saat aku keluar kamar mandi, yang kini telah duduk disofa dan asyik dengan ponselnya.
"Sudah."
"Nanti berangkatlah bersama pak Somad. Dan pulang lebih awal, karena kita akan menghadiri pernikahan rekan bisnis papa Surya. Aku akan menjemput papa Ali dan mama Mila, sepulang dari kantor."
__ADS_1
"Biarkan aku membawa mobil sendiri, kak. Dan aku juga yang akan menjemput mereka nanti." ucapku sambil memandang punggungnya yang telah masuk kamar mandi. Aku mengambil pakaianku dan mengenakannya, lalu aku menyiapkan pakaian kak Bayu dan meletakkannya diatas ranjang.
"Suami pelit." umpatku saat mendudukan diri dimeja rias dan memoles bedak tipis pada wajahku. "Dia benar-benar tidak membiarkanku mengemudi sendiri? Menyebalkan sekali!"
"Kenapa?" tanya kak Bayu yang mungkin tak mendengar dengan jelas kata-kataku. Ia mengambil pakaian yang ada diatas ranjang.
"Ti-Tidak. Bukan apa-apa."
"Ini untukmu." ucapnya menaruh sebuah kunci dimeja rias. Setelah rapi dengan pakaiannya, dan berdiri disampingku. Aku mengambil kunci itu dan memandanginya tak percaya.
"Kunci mobil? Untukku? Aku boleh mengemudikan mobil sendiri? Tanpa, pak Somad?" tanyaku yang hanya diangguki kak Bayu. Secara reflek aku memeluk tubuhnya.
"Maaf." ucapku saat sadar akan tingkahku, lalu aku melepas pelukanku dan sedikit mundur, menciptakan jarak diantara kami berdua.
"Kenapa kamu selalu mengucapkan maaf dan terimakasih padaku? Tiara aku . . .."
"Kak Bayu?" ucapku hendak meraih tas.
"Tiara, apa kamu hanya akan menyiapkan pakaianku saja? Aku akan pergi kekantor bukan kembali tidur. Aku butuh jam tangan, sepatu dan juga dasi."
"Ini." ucapku setelah menaruh sepatu didekat sofa, lalu mendekat padanya dan memberikan arloji dan juga dasi padanya.
"Apa ini? Aku ini suamimu, dan kamu itu istriku." ucapnya mengulurkan tangan.
"Apa kamu tidak bisa memakainya sendiri? Seperti hari sebelum aku menjadi istrimu?" ucapku memasang arloji dipergelangannya.
"Tentu saja bisa. Tapi, mengingat aku memiliki istri jadi tidak ada salahnya kan jika aku meminta istriku melayaniku?" jawab kak Bayu.
"Tiara, Ingat! Jangan ngebut saat mengemudi dan jangan sampai merusak mobilku." ucapnya lagi saat aku hendak memasangkan dasi.
"Awawawawww! Hentikan ini! Apa kamu akan membunuh suamimu yang tampan dan mempesona ini?" teriaknya saat dengan sengaja aku melilitkan dasi dilehernya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa memasangkan dasi, dan tadi niatku hanya bercanda saja. Sungguh. Dan ini? Ambil kembali! Jika memang tidak ikhlas meminjamkannya pada istrimu." ucapku memberikan kembali kunci mobil ditangannya, lalu keluar kamar meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Dasar wanita! Sensitif jika sedang datang bulan. Aku hanya bercanda!" ucap kak Bayu sambil membetulkan dasinya kembali sendiri.
_____
"Tiara, dimana Bayu? Kenapa tidak turun bersamamu?" tanya papa Surya.
"Sebentar lagi juga turun, pa."
"Mutiara sayang, anak mama, cinta mama. Tidak nakal kan ya sama oma dan opa? Lupa ya sama mama, sayang? Keasyikan main sama opa dan oma?"
"Oe.oe.oe...." tangis Mutiara pecah tiba-tiba.
"Lah, ada mamanya malah nangis, kangen dimanjain sama mama Tiara ya, sayang?" ucap mama Sekar pada Mutiara. Aku menggendongnya dan mencium kedua pipi gembulnya. Dan tanpa senaja melihat kak Bayu yang sudah duduk manis dimejanya.
"Sayang, anak mama yang pintar jangan menangis lagi, jangan nakal." ucapku menyentuh pucuk hidungnya yang sedikit mancung dan meletakkannya kembali di kereta dorong yang ada disamping mama.
"Ingat Bay, kamu nanti harus pulang awal." ucap papa Surya memberi peringatan.
"Iya pa."
"Tiara, nanti ikut mama ke Butik ya."
"Iya ma, tapi aku harus menjemput papa Ali dan mama Mila terlebih dulu."
"Mereka akan kemari?" tanya mama membuatku memandang ke arah kak Bayu.
"Iya ma, besok kita akan pergi ke Bali, jadi aku mengajak mama Mila dan papa Ali juga, Dan nanti kita akan pergi bersama ke pesta pernikahan rekan bisnis papa itu, jadi biar papa Ali dan mama Mila bisa bermain dengan Mutiara malam ini. Karena tidak mungkin jika kita mengajak Mutiara bukan? Mengingat acaranya malam dan takutnya nanti rewel. Benar begitu bukan, Tiara sayang?" ucap kak Bayu panjang lebar memberi penjelasan.
'Oh Tuhan, dia mempermainkanku dengan kata, sayang?' ucapku dalam hati.
"Itu sangat bagus, nak."
"Jika kalian berniat untuk pergi ke Butik maka pergilah, biar nanti aku yang akan menjemput mama Mila dan papa Ali. Dan, Tiara kamu telah menolak mobil pemberian dariku. So, hari ini pergilah dengan pak Somad karena aku ada metting pagi ini dengan klien." ucap kak Bayu.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. 'Suami menyebalkan!' teriakku dalam hati.
"Ma, pa, Tiara, aku berangkat dulu. Sayang, papa pergi kerja dulu. Besok kita jalan-jalan sama mama dan nenek juga kakek." ucap kak Bayu pamit pada semua orang lalu mencium kening Mutiara. Hanya Mutiara.