
Kini aku sedang berada di kamarku, mengenang saat-saat bersama dengan kak Mutia. Semua hal yang aku lakukan pasti ada kak Mutia didalamnya karena kami selalu bersama, kami berpisah saat mulai kuliah karena fakultas kami yang memang berbeda. Tapi, setidaknya kami masih bisa sering bersama. Beda halnya dengan yang terjadi sekarang ini, sangatlah jauh dari mata meski tetap dekat dihati. 'Kakak akan selalu hidup dihatiku.' batinku memandang foto kami.
"Kakak! Tiara sangat menyayangi kakak. Kenapa kakak meninggalkan aku, Mutiara dan semua orang? Aku sangat bahagia atas kehadiran Mutiara, tapi aku sangat sedih jauh dari kakak. Dan bagaimana bisa kakak memintaku untuk menikah dengan kak Bayu, sementara kak Tia juga tahu kalau Tiara hanya mencintai kak Panji? Tiara bingung dengan permintaan kakak! Apa yang harus Tiara lakukan sekarang, kak? Tiara tidak ingin menyakiti perasaan kakak, kak Bayu ataupun kak Panji." ucapku monolog, berbicara pada kak Mutia lewat foto yang kini aku pegang. Tak terasa, air mataku menetes difoto itu. Aku menghapus kasar air mataku, menaruh kembali foto kami diatas nakas samping ranjangku.
"Papa baru pulang?" tanyaku pada papa sambil melangkah menuruni anak tangga.
"Iya, sayang. Papa ke kamar dulu." ujar papa yang mulai masuk kamar.
"Mama, di mana bibik? Kenapa mama hanya masak sendirian?" tanyaku yang kini sudah berada didapur.
"Bik Minah mama suruh jaga Mutiara, karena mama lagi pingin masakan yang spesial untuk semuanya, Ra."
__ADS_1
"Tiara bantu ya, ma?"
"Iya nak, kamu potong sayuranannya terus goreng ayam, ikan, sama tempenya saja ya?"
"Siap ma." Setelah beberapa menit bergulat didapur akhirnya masakan sudah matang, kini aku sedang menyajikannya dimeja makan dan menatanya dengan sangat rapi.
_____
Di Kantor, Bayu terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya, sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Mutia, kenapa kamu pergi secepat ini? Tak ada lagi tempatku untuk berbagi atau mengeluh selain dirimu. Apa kamu tahu aku tak pernah ada waktu untuk putri kecil kita, dan kamu tahu? Aku selalu teringat denganmu ketika melihat wajah polos Mutiara, apalagi adikmu. Kalian berdua bagai pinang dibelah dua." Kini mata Bayu beralih pada foto yang selalu dibawanya. "Namun, mau bagaimana lagi? Dia bukanlah dirimu dan mungkin tak akan pernah bisa menjadi seperti dirimu." ucap Bayu panjang lebar pada foto-foto itu seakan gambar itu benar-benar nyata.
_____
Kini, aku telah duduk di meja makan bersama papa dan mama untuk makan malam, sementara Mutiara sedang tertidur di kamar ditemani oleh bibik. Semenjak pulang dari Rumah Sakit, Mutiara selalu tidur di kamar mama dan papa supaya ketika terbangun ditengah malam, mama akan siap siaga untuknya.
__ADS_1
"Kenapa Bayu belum pulang jam segini." kata papa memecah keheningan.
"Mungkin banyak kerjaan di Kantor, pa. Papa tak perlu mencemaskannya." jawab mama.
"Bagaimana tidak khawatir ma, suasana hatinya masih kacau. Papa takut terjadi sesuatu dengannya." perkataan papa membuatku berpikir 'mungkin, jika masih ada kak Tia disini kak Bayu akan memberi kabar pada kak Tia atau malah akan pulang tepat waktu, karena kini kak Tia tidak ada lagi siapa yang akan memperhatikan dan diperhatikannya disini selain Mutiara?'
"Ra, tadi pagi mamamu bilang kamu mau bicara sama papa dan nak Bayu. Apa kamu sudah memiliki jawaban untuk permintaan terakhir kakakmu?" tanya papa.
"Iya pa, Tiara akan melakukannya untuk Mutiara dan mewujudkan permintaan terakhir kakak."
"Papa bangga padamu, nak. Nanti kalau nak Bayu sudah pulang, papa akan segera memberi tahunya!" kata papa yang kemudian berlalu pergi ke kamar diikuti mama dibelakangnya. Sementara tak berselang lama bibik datang untuk membereskan meja makan.
_____________________________________
Like, Vote dan Komen readers.
__ADS_1