Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Pernikahan? Segera?


__ADS_3


Waktu telah menunjukkan pukul 22.45 WIB, aku masih berada dimeja makan menunggu kak Bayu pulang. Entahlah, rasanya aku enggan untuk pergi tidur, tak tahu kenapa? Tapi, hatiku tiba-tiba merasa sangat gelisah.


"Ceklek!" terdengar suara pintu terbuka, aku segera menuju pintu depan.


"Tiara? Kenapa belum pergi tidur?" ucapnya kaget melihatku menghampirinya.


"Entahlah, rasanya belum ngantuk saja. Kakak, kenapa jam segini baru pulang atau memang sering pulang malam?" tanyaku ragu.


"Kebetulan saja tadi lagi banyak kerjaan, Ra." jawabnya sambil melangkah.


"Apa kakak mau makan? Biar Tiara ambilkan!" ucapku kala melihatnya duduk dimeja makan, aku pun mengambilkan nasi dan lauk untuknya juga menuangkan air putih digelasnya. Entahlah, tapi secara reflek aku melakukannya.


"Makasih Ra. Kamu pergi tidurlah!" katanya sambil menatapku heran. Akupun mengangguk dan berlalu pergi kekamar.


"Kenapa dengannya? Apa dia sedang sakit?" ucap Bayu mengamati Tiara yang mulai hilang dari pandangannya.


_____


Di kamar, aku mendudukan tubuhku dilantai bersandar pada sisi ranjang, mengingat apa yang baru saja terjadi, rasanya sungguh memalukan, 'kenapa aku harus memperlakukannya seperti itu?'


"Apa sebenarnya yang terpikir diotakku ini? Kenapa aku harus menunggunya hingga pulang? Lalu, memperlakukannya seperti suamiku! Kakak, ada apa denganku? Kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku, kak?" kataku bergumam, perlahan aku mulai tertidur dengan posisi duduk dilantai, hingga saat pagi tiba aku baru merasakan punggungku yang terasa sangat sakit.


"Tiara! Kenapa belum bersiap?" tanya mama menatapku heran karena masih mengenakan baju tidur.


"Badan Tiara sakit ma, nanti berangkat agak siangan saja!" ucapku sambil berjalan mendekat mama membantunya menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau sakit libur saja dulu! Kamu Dokter, tapi tak peduli dengan kesehatanmu sendiri!" ucap mama bergurau.


"Mama, Tiara hanya pegel karena semalam tertidur dilantai, ma." ucapku membela diri.


"Kamu tidur dilantai? Kenapa, Ra? Cuaca dingin begini kok tidur dilantai?" sahut papa tiba-tiba yang beriringan dengan kak Bayu disampingnya.


"Papa? Kayak tidak tahu anak muda saja, kalau lagi galau ya tidurnya dimana saja!" celoteh mama pada papa. Kini semua orang telah duduk dimeja makan menikmati sarapan pagi sebelum pergi bekerja.


"Masakan mama memang yang terbaik." ucap papa memuji masakan istrinya, entah sejak kapan? Tapi, akhir-akir ini papa sering membuka obrolan ketika sedang berada dimeja makan.


"Ah papa, pasti ada udang dibalik bakwan kan, ya? Makanya muji masakan mama segala." ucapku sedikit tertawa.


"Memang masakan mamamu enak, buktinya kalian tak pernah melewatkan masakan mama kan?" ucap papa membela diri.


"Nak Bayu, semalam pulang jam berapa?" tanya mama menatapku. Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku.


"Jam sebelas ma, kebetulan kerjaan di Kantor sedang banyak, ma." jawab Bayu apa adanya.


"Mama, kita sedang sarapan bukan? Kenapa harus membahasnya sekarang, ma?" ucapku setelah meminum air putih.


"Tiara, mama pikir jika pernikahan kalian disegerakan akan lebih baik. Bukankan segala sesuatu yang dilakukan lebih cepat akan lebih baik dari pada terus menerus menunda?" ucap mama terlihat panik seketika.


"Tapi kenapa, ma?"


"Tiara, hati mama mengatakan agar kalian segera melangsungkan pernikahan kalian berdua, ingat bahwa kakakmu meminta disaat terakhirnya, Ra! Biar kakakmu tenang disana, sayang." ujar mama mendesakku.


"Baiklah. Begini saja, bagaimana kalau pernikahannya dilakukan dua minggu lagi. Itu sudah cukup bagi kita untuk mempersiapkan segalanya, bukan begitu nak Bayu? Tiara?" ucap papa memberi usul yang terlihat asal diotakku.

__ADS_1


"Dua minggu?"


"Ya, tidak mungkinkan bulan atau tahun bukan, sayang?" kata mama.


"Bagaimana denganmu nak Bayu?" tanya papa lagi meminta pendapat kak Bayu.


"Bayu ikut bagaimana baiknya saja pa, ma."


"Ya sudah, dua minggu lagi kalian menikah!" ucap mama terlihat begitu bahagia. Setelah sarapan selesai, papa juga kak Bayu telah berangkat bekerja, beberapa menit kemudian aku juga bersiap untuk berangkat kerja.


"Ma, Tiara berangkat dulu ya." pamitku pada mama Mila.


"Iya nak hati-hati! Jangan ngebut dan jangan pulang malam!" perintah mama yang kini tengah menggendong Mutiara dihalaman depan.


"Mutiara sayang, mama kerja dulu ya? Jangan nakal sama grandma, oke sayang?" ucapku sambil mencium keningnya. Aku pun masuk mobil dan menjalankannya, dapatku lihat dari kaca spion, mama terus menatap kepergianku.



( Tiara otw Klinik dulu ya readers . . . Bye! )


,


,


,


,

__ADS_1


Minta like & komennya ya!


Terimakasih.


__ADS_2