
Tiara bangun sangat pagi. Ia terlebih dulu masuk kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi lalu turun ke lantai dasar dan melangkah menuju dapur untuk membantu mama Mila memasak. Setelah beres dengan sang mama didapur, tak lupa Tiara membuatkan kopi dan susu untuk kedua orang terkasihnya.
"Tiara sayang, biar mama yang antar susu Muti ke kamar dan membangunkannya, nak." pinta mama Mila saat melihat kesibukan putrinya. Tiara tersenyum lalu memberikan segelas susu pada mama Mila.
"Terimakasih mama. Tiara antar kopi kak Bayu dulu ya, ma." mama Mila mengangguk dan menatap Tiara yang telah melangkah menjauh darinya. Setelah tak melihat sosok putrinya, ia juga berlalu pergi ke kamar Muti yang ada dibawah yang mana dulu adalah kamar mendiang Mutia, sang ibu yang mengandung dan melahirkannya.
_____
Tiara membuka pintu perlahan dan benar saja suaminya masih pulas belum terbangun. Ia meletakkan kopi di atas nakas lalu berusaha membangunkannya.
"Kak Bayu!"
"Sayang, bangun!"
"Kak Bayu bangunlah! Kakak pergi ke Kantor bukan? Ayo cepat bangunlah!" tak ada gerakan sama sekali membuat Tiara kesal sendiri.
'Dasar kebo. Selalu saja sulit untuk dibangunkan!' batin Tiara gedumel. Ia memperhatikan wajah suaminya yang tidur lelap dan damai. Tita-tiba ia tersenyum usil melihatnya. Tiara memegang bibirnya sendiri, sedetik kemudian menatap bibir sexy milik suaminya itu. Ia mencondongkan wajahnya dan mencium bibir suaminya kilat. Namun, saat hendak melepas dan menjauhkan wajahnya, Bayu membuka mata dan dengan sigap tangannya memeluk tubuh Tiara begitu erat, membuat sang istri meronta. Lalu dengan cepat pula Bayu membalas ciuman bibir istrinya dan ********** dengan rakus.
"Kak Bayu!" bentak Tiara tak suka dengan kelakuannya itu. Bahkan saat ini Tiara sudah berada dibawah Bayu yang mengungkung tubuhnya.
"Iya sayang. Apa kamu mau lagi?" Tiara memelototkan matanya. Ia melengos saat Bayu berniat kembali menciumnya.
"Kak Bayu! Kakak belum cuci muka dan juga gosok gigi malah main serang saja! Jorok tau!" protes Tiara kesal.
"Hey! Apa kamu lupa kalau kamu yang telah menggodaku terlebih dulu, sayang! Tiara? Tiara, look me please!" Tiara menoleh dan kembali menatap wajah tampan suaminya. "Jika kamu terus saja menghindar seperti ini bagaimana Muti akan punya adik? Apa diam-diam kamu masih mengonsumsi pil itu hingga sekarang?" Tiara merona. Bayu memang sudah lama menginginkan bayi dari rahim Tiara. Dan, Tiara tidak pernah menolak saat Bayu menginginkan hak atas dirinya karena itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri, melayani suami. Tapi, ia terus berusaha untuk mencegah kehamilannya hingga sekarang. Bukan karena tak ingin mengandung anak dari Bayu, bukan. Ia hanya ingin menunggu hingga Mutiara besar, tak ingin sampai putrinya itu kekurangan kasih sayang, meski ia sangat begitu menyangi Mutiara lebih dari putri kandungnya sendiri. Jangan tanya bagaimana reaksi suami kala mengetahui hai itu? Saat Bayu tak sengaja mengetahui tentang pil itu untuk pertama kalinya, bisa kalian bayangkan seberapa besar kekecewaan dan kemurkaannya, ia sangat marah, ya. Karena Tiara memang tidak pernah menolak Bayu sama sekali, hingga timbul kecurigaan terhadap istrinya yang berulang kali melakukan itu tapi, hingga setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Tiara tak kunjung hamil juga. Namun, setelah mendengar apa alasan dari Tiara, Bayu mencoba untuk bisa memahami dan menerima keputusan istrinya.
"Aku akan berhenti mulai sekarang. Kakak senang, bukan? Ayo, sekarang cepat bangun dan minum kopimu sebelum dingin! Bersiaplah dan kita pergi sarapan bersama. Kamu ingat bukan? Ini hari Senin dan besok siang adalah hari istimewa putri kita?" ucap Tiara menjauhkan diri dari tubuh Bayu.
"Ya, kita akan memberinya kado terbaik untuk itu, bukan? Sayang, apa kamu sungguh akan memberi Muti adik dan mengandung anakku?" Tiara mengangguk iya, Bayu berbinar begitu bahagia mendapat jawaban sang istri. Ia menggulingkan tubuhnya, memiringkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan telapak tangan dan mata indah yang menatap mendamba kearah istrinya.
__ADS_1
Tiara menggeleng pelan ketika menoleh dan mendapati tingkah konyol sang suami yang telah menggodanya dipagi hari. "Tentu aku akan mengandung anak kita. Tapi, tidak untuk sekarang kak Bayu."
"Ya. Aku sampai khatam kalimat itu. Tunggu Muti besar, belum saatnya, tidak untuk sekarang?" ucap Bayu meniru kata-kata istrinya yang kini tengah sibuk menyiapkan pakaian untuknya pergi ke Kantor.
'Lima tahun telah berlalu Tiara dan hatimu, masihkah berada ditempat yang sama? Aku tahu benar apa alasanmu belum mau mengandung benih cinta kita, karena memang kamu belum sungguh mencintaiku. Dan dimana pria yang terakhir kali menyebutkan dirinya kakak dihadapanku kepadamu itu sekarang? Pria yang singgah didalam hatimu paling dalam? Apakah dia juga masih menjaga hatinya untukmu, istriku?' ucap Bayu dalam hati, mendudukan diri sembari meraih cangkir kopi diatas nakas dan menyruputnya pelan.
_____
"Grandpa, grandma, Muti berangkat sekolah dulu! Nanti Muti pulangnya dijemput Grandpa ya? Jam sebelas." tutur Mutiara setelah mencium dan berpamitan pada keduanya.
"Siap cucu cantik Grandpa. Belajar yang rajin ya cucuku." jawab papa Ali melambaikan tangan.
"Ma, pa, kami berangkat dulu ya." ucap Bayu yang telah menyalami kedua mertuanya.
"Hati-hati dijalan, nak Bayu." jawab keduanya.
Bayu melangkah mendekat mobil dan menatap Tiara yang masih berdiri di pintu tempat duduk Mutiara yang masih terbuka. Istrinya nampak menutup pintu mobil setelah memasangkan sabuk pengaman pada tubuh putrinya tak lupa untuk mencium kedua pipi juga keningnya. Setelahnya Tiara melangkah menghampiri Bayu yang masih berdiri disisi pintu kursi kemudi. "Aku berangkat duluan, jangan lupa persiapkan dirimu nanti malam, sayang!" ucap Bayu berbisik menggoda istri lalu mencium keningnya begitu lama. Tiara hanya memberi senyuman indahnya sebagai jawaban.
"Daddy! Ayo cepatlah! Muti bisa telat masuk sekolah nanti!" teriak Mutiara yang keras dan cempreng tak membuat Bayu mengakhiri aktifitasnya dan malah semakin memeluk erat istrinya yang berusaha memberontak.
"Kak Bayu tidak dengar? Kenapa malah memelukku? Cepat masuk dan kemudikan mobilnya dengan hati-hati!" ucap Tiara menggiring suaminya masuk mobil.
"Kamu juga hati-hati nanti. Sampai jumpa nanti malam, sayang!" ucap Bayu memandang wajah Tiara dari jendela mobilnya yang terbuka. Ia bisa melihat ekspresi lucu istrinya yang sedang kesal karena ucapannya itu.
"Dah mommy!" teriak Mutiara saat mobil mulai melaju. Tanpa sadar kedua pasang mata yang melihat kebahagiaan anaknya itu pun tersenyum bahagia. Ya, kedua orangtua Tiara masih berdiri diteras hingga puntrinya itu hendak melangkah masuk kerumah. "Mama, papa? Kenapa belum masuk?" Tiara hanya bisa tersenyum.
"Mama bahagia melihat keahagiaan kalian, nak. Jaga baik-baik apa yang kamu miliki sekarang, sayang." ucap mama Mila. Meski ia sangat ingin melihat Tiara hamil dan memberi cucu kedua untuknya, tapi ia tak pernah memaksakan putrinya itu, sama seperti juga Bayu, sang suami dari putrinya. Cukup melihat keluarga kecil putrinya langgeng dan bahagia saja sudah Alhamdullilah.
"Ayo masuk nak, papa antar ke Klinik setelah kamu bersiap nanti." ucap papa Ali.
"Papa akan pergi ke Butik?"
__ADS_1
"Ya, nanti papa antar jemput kamu."
"Papa juga akan menjemput Muti, kan? Tiara bawa mobil sendiri saja pa, ya?"
"Tidak. Papa mau antar putri papa ini. Lagipula, papamu ini bukan orang sibuk, tidak seperti suamimu itu!"
"Papa?" rengek Tiara tersipu.
"Kenapa? Kok mendadak memerah begitu wajah putri papa?"
"Papa! Mama, lihat papa selalu saja menggodaku seperti ini."
"Biarkan saja, papamu sangat merindukan masa seperti itu, nak."
"Ahhh mama. Tiara pergi ke Kamar siap-siap dulu ya, mama."
Ya, seperti itulah. Dan, seperti beberapa tahun belakangan ini, Tiara selalu berangkat pukul 08.00 WIB mengurus kedua orang terkasihnya terlebih dulu sebelum bekerja, sementara Bayu dan Mutiara akan berangkat sebelum jam 07.00 WIB. Tiara membereskan kamar dan pergi mandi, setelahnya berdandan bersiap pergi kerja.
.
.
.
.
|Loha!!!
Apa ada yang rindu Bayu dan Tiara?
Maaf jika part ini kurang memuaskan.
__ADS_1
Thor berusaha memberi yang terbaik untuk readers.
See you next time and happy reading, readers