
Dikamar aku sedang asyik bermain dengan Mutiara dan sesekali mengajaknya berbicara, betapa senangnya rasa hati saat rindu ini telah terobati.
"Tiara, mama mencarimu ternyata kalian ada disini." ucap mama mendekat padaku.
"Mama, menangnya ada apa mencari Tiara?"
"Ada tamu mencarimu, turunlah dan ajaklah Bayu bersamamu!"
"Kenapa harus mengajaknya bersamaku?" aku memberikan Mutiara pada mama dan turun untuk menemui tamu yang telah menungguku diruang tamu.
_____
Sesampainya diruang tamu, aku melihat kak Bayu dan papa sedang duduk dan ngobrol ria dengan seorang pria yang tak asing dimata dan telingaku. Ya, aku sangat mengenal betul suara itu.
"Kak Panji?" ucapku membuat beberapa pasang mata menatap kearahku tak terkecuali pria yang telah ku sebut namanya. Ya, dia pun menoleh kearahku dan tersenyum.
"Tiara, aku sangat merindukanmu." ucap kak Panji yang kini telah berdiri dihadapanku.
"Kak Panji jangan!" ucapku menahan tubuhnya yang akan segera memelukku. Meski aku sangat merindukannya, tapi dia datang disaat yang salah dan kak Bayu tak luput untuk menatapku, aku pun sadar diri sudah menjadi istri sahnya dan aku tidak ingin melukai perasaannya, meski aku tahu dia tak akan mempedulikannya.
"Kenapa Ra?"
__ADS_1
"Kak Panji, duduklah kembali! Ada apa kakak datang kemari?" Kami duduk saling berhadapan dan aku tetap memilih berdampingan dengan suamiku.
"Aku datang kemari untuk merayakan hari jadi kita. Ya, meski ini sangat terlambat karena aku benar-benar sangat sibuk, Ra. Aku harap kamu bisa mengerti posisiku. Ini hadiah untukmu, bukalah!" ucapnya menyodorkan kotak kecil padaku. Aku membukanya dan dibuat kaget.
"Apa kamu menyukainya?" tanya kak Panji.
"Cincin? Untuk apa ini? Kak Panji maaf, aku tidak bisa menerima ini."
"Aku sengaja membelinya dan memberikan padamu sebagai bukti bahwa aku beraungguh-sungguh padamu dan ingin segera menikahimu, Ra." uncapnya berhasil membuat semua orang menganga termasuk aku sendiri dan mama Mila yang baru akan bergabungpun terkejut dibuatnya. Lalu, mama pun duduk disamping papa.
"Nak Panji, mohon maaf sebelumnya karena kami tak memberi kabar pada nak Panji mengenai hal serius seperti ini." ucap papa Ali membuat kak Panji bingung sendiri.
"Maksud om apa?"
"Iya om, saya tahu mas Bayu menantu om, istri Mutia saudara kembar Tiara dan kakak ipar satu-satunya Tiara, karena sebelumnya Tiara sudah memberitahu kepada saya saat pernikahan keduanya dilangsungkan, kurang lebih satu tahun yang lalu." ucap kak Panji menjelaskan apa yang pernah aku katakan dulu padanya.
"Itu benar nak, tapi sekarang Bayu adalah suami sah dari Tiara, nak Panji. Dan, mereka berdua baru melangsungkan pernikahan kemarin pagi." ucap mama Mila bagai cambukan keras untuk kak Panji. Dan tentu ini tidaklah mudah baginya, sama sepertiku.
"Kak Panji terlambat karena baru menemuiku sekarang, kini statusku bukan lagi pacar kak Panji melainkan istri sah dari kak Bayu."
"Omong kosong apa ini, Ra? Kalian kalau mau bercanda jangan konyol seperti ini, dimana Mutia? Panggil dia! Biarkan dia yang menjalaskan semuanya padaku!" ucap kak Panji naik pitam.
Tanpa aku menjawab perkataannya, aku menarik pergelangan tangannya, membawanya masuk kedalam mobil dan melajukan mobilku kecang menuju kesuatu tempat.
__ADS_1
_____
"Ra, kamu kenapa mengajakku ketempat ini?" tanya kak Panji heran, karena aku membawanya ketempat pemakaman.
"Bukannya tadi kamu ingin minta penjelasan pada kak Mutia? Maka, inilah jawabannya kak Panji!" ucapku sembari menunjukan makam kak Mutia.
"Tiara, katakan jika ini tidaklah benar! Jangan bercanda seperti ini, Ra! Kamu membuatku sangat takut, Ra." ucapnya menangis saat melihat nisan bertuliskan nama kak Mutia terukir jelas dibatu nisan, dimana juga terdapat tanggal dia meninggal. Ya, tepat dihari jadinya dan Tiara yang ketujuh dan itu membuatnya semakin tidak percaya akan kebenaran ini.
"Kak Mutia meninggal saat setelah melahirkan putri pertamanya dan dia memintaku agar menikah dengan kak Bayu, suaminya." ucapku dengan berderai air mata.
"Kamu tidak mencintai mas Bayu, kamu hanya mencintaiku Ra, aku tahu itu. Kenapa kamu bersedia menikah dengannya tanpa memberitahuku!"
"Aku hanya ingin melakukan keinginan terakhir kak Mutia dan tetap berada disisi Mutiara, karena aku tidak ingin dia memiliki ibu sambung yang tak bisa menerimanya dengan setulus hati."
"Kenapa tidak kita yang merawatnya saja Ra, aku dengan senang hati akan menerimanya. Asal selalu bersama denganmu, Ra. Aku bersedia untuk itu."
"Mutia masih memiliki ayah biologisnya dan sekarang dia sudah memilikiku sebagai mamanya, sebaiknya kak Panji melupakanku dan menikahlah dengan tunanganmu itu!"
"Tunganan? Tunangan apa, Ra? Siapa tunanganku?"
_____________________________________
__ADS_1
Sedihnya Tiara, author jadi ikut sedih nih readers.