Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Uncle Tampan


__ADS_3

Bayu, Tiara dan Mutiara telah kembali meneruskan perjalanan mereka menuju ke rumah papa Ali. Tak lupa mereka mampir mengambil kue tart yang sebelumnya telah dipesan oleh Tiara. Bayu memarkirkan mobilnya dengan mulus dipekarangan rumah mertuanya. Dari dalam mobil dapat dilihat dengan jelas mama Mila yang sedang duduk sendirian di kursi teras rumahnya.


"Muti sayang." teriak mama Mila yang telah melihat kehadiran cucunya yang segera berlari ke arah grandmanya itu dan memeluknya.


"Mama." ucap Tiara yang kemudian juga mencium kedua pipinya dan memeluknya penuh rasa kerinduan.


"Dimana papa, ma?" tanya Bayu setelah menyalami mertuanya.


"Papa sedang pergi ke Butik, sebentar lagi juga akan pulang, nak Bayu. Ayo masuk dulu! Kalian apa kabar? Mama sangat merindukan kalian bertiga. Terutama cucu grandma yang cantik, pintar dan menggemaskan ini." Mutiara tersenyum mendengar pujian sang nenek.



"Grandma juga masih cantik. Mommy juga sangat cantik. Iya kan, daddy?" ucap Mutiara yang sukses membuat semuanya tertawa, Bayu pun menganggukan kepala dan mencubit gemas kedua pipi cabi putrinya. Tiara segera pergi kedapur untuk membuatkan minuman. Bayu mendudukan diri di sofa ruang tengah dimana ada Mutiara dan mama Mila yang sedang asyik bercanda ria.


"Grandma, tadi Muti beli boneka besar sekali. Sangat besar." ucap Mutiara semangat. "Daddy, dimana tadi boneka baru Muti?" imbuhnya bertanya pada sang ayah.


"Masih didalam mobil, sayang." jawab Bayu santai.


"Ambil sekarang daddy, Muti mau pakai bermain sama grandma!" rengek Mutiara manja.


"Muti, biarkan daddy istirahat dan minum dulu ya sayang? Nanti mommy yang akan ambilkan untuk Muti." ucap Tiara yang telah keluar dengan nampan yang berisi beberapa gelas teh dan irisan bronis dipiring lalu menaruhnya dimeja tempat Bayu berada.


"Ok mommy. Apa mommy dan grandma tau? Tadi, Muti ketemu uncle tampan di toko tempat Muti beli boneka besar."


"Uncel tampan? Siapa itu, sayang?" tanya mama Mila dan Tiara hampir bersamaan.


"Muti? Muti tidak boleh dekat dengan orang yang Muti tidak kenal, nak!" ucap Tiara melarang sang putri untuk tidak dekat dengan orang asing.


"Kenapa begitu mommy, uncle tampan itu baik. Uncle tampan yang bantu ngambil boneka yang Muti inginkan. Dia orang yang sangat baik grandma. Uncle tampan menggendong tubuh Muti, hingga Muti bisa meraih boneka yang Muti mau dengan begitu mudahnya." ucap Mutiara bercerita dengan begitu semangatnya.


"Kak Bayu, pasti tidak memperhatikan Muti tadi saat aku meninggalkannya." gerutu Tiara yang didengar oleh Bayu dan mama Mila.


"Tidak apa sayang, lagi pula dia bukan orang yang jahat. Dan kamu lihat, putri cantik kita baik-baik saja." ucap Bayu tenang, Tiara menghembuskan nafas dengan kasar.


"Maka beruntunglah kita, karena dia bukan orang yang jahat, kak Bayu! Bagaimana kalau dia sampai menculik Muti dan membawanya pergi jauh atau melakukan hal buruk padanya? Aku sudah berjanji untuk selalu menjaganya."


"Tiara, sudahlah nak. Lagi pula benar kata nak Bayu, Muti tidak apa-apa. Cukup jadikanlah ini pelajaran untuk masa mendatang agar kalian berdua bisa lebih berhati-hati dalam menjaga Muti dikemudian hari." tungkas mama Mila.


"Sayang, Muti mau main ke rumah Rafa? Ayo, sayang! Biarkan mommy dan daddy menyelesaikan masalah mereka." ajak mama Mila.


"Tidak mau grandma. Aku tidak suka Rafa. Dia teman yang sangat membosankan dan sangat menyebalkan juga. Grandma tau, dia selalu saja mendiamkanku saat aku mengajaknya bermain dan malah membiarkanku bermain sendirian dirumahnya. Dia teman yang buruk grandma." Tiara menggelengkan kepala mendengar ucapan putrinya.


"Benarkah? Sayang sekali, padahal Sherly sedang berada disana."


"Sherly? Sungguh grandma? Ayo kita kesana grandma, Muti mau main bersama Sherly!" ucap Mutiara menarik baju grandma-nya.


"Mommy, daddy, Muti ikut grandma main ke rumah Sherly dulu ya, bye." pamit Mutiara yang mulai berlari kecil diikuti mama Mila dibelakangnya. Tiara mengangguk dan pergi ke kamar untuk berberes sementara Bayu masih berada diruang tengah menonton televisi.


_____


Sesampainya dirumah Rafa, Mutiara berlari dan meneriakan nama Sherly berulang kali. Namun, gadis cilik temannya itu tak juga kunjung keluar.

__ADS_1


"Muti, jangan berteriak sayang, itu tidak sopan! Ayo kemari, sayang!" perintah mama Mila menggandeng tangannya. Keduanya masuk rumah Rafa dan Sherly yang merupakan putra dan putri dari sepasang suami istri Gerry dan Rissa yang juga tetangga mama Mila. Rumah mereka sebenarnya bersebelahan namun terhalang tiga rumah kepala keluarga. Keluarga tersebut baru tinggal kurang lebih tiga tahun lamanya. Namun, mereka sudah sangat dekat, dan Sherly? Gadis kecil itu, ia lebih senang tinggal di Jogja bersama sang ibu. Ya, Rissa adalah ibu tirinya. Namun, ia tak jahat seperti kebanyakan ibu tiri yang dilayar tv.


"Tante Mila, Muti?" ucap seseorang wanita kurang lebih berusia tiga puluh tahunan.


"Hallo aunty Rissa! Dimana Sherly, aunty?"


"Muti, mereka sedang bermain ditaman belakang sayang."


"Aunty Rissa, Muti boleh pergi kesana ya?"


"Tentu, boleh sayang." Mutiara segera pergi berlari mendatangi temannya.


"Nak Rissa, lagi sibuk apa?"


"Ini tante, hari ini adalah ulang tahun Sherly, jadi dia datang kemari ingin merayakannya bersama saudaranya disini, tante."


"Owh maaf, jadi mengganggu waktu nak Rissa."


"Tante tidak perlu sungkan, Rissa sudah nganggep tante Mila dan keluarga seperti saudara sendiri. Tante mau minum apa, tan?"


"Tidak nak Rissa, boleh tante bantu memasak saja?"


"Tidak perlu tante, sudah banyak yang nanganin juga kok."


"Tidak apa nak, tante senang jika bisa membantu."


"Baiklah kalau tante Mila tidak keberatan."


_____


Mutiara berlarian menuju halaman belakang. Namun, ia tak melihat keberadaan Rafa ataupun Sherly disana.


"Kemana mereka berdua? Aunty Rissa bilang mereka ada ditaman belakang tapi mengapa tidak ada seorangpun disini?"


"Dorrr!" Mutiara terperanjat kaget.


"Rafa? Kenapa kamu mengagetkanku?"


"Kenapa kamu kemari? Apa yang sedang kamu cari? Kau mencariku? Aku tidak akan bermain denganmu."


"Tunggu! Aku datang kemari karena aku ingin bertemu dan bermain dengan Sherly! Bukan dirimu! Dimana dia, Rafa?"


"Dia tidak ada disini! Apa kau tidak bisa melihatnya?"


"Mana mungkin? Grandma bilang Sheyla datang kemari, dan aunty Rissa juga bilang kalau kalian sedang bermain ditaman belakang."


"Ayo ikut aku!" Rafa meraih pergelangan Mutiara dan menggandengnya.


"Rafa tunggu, kita mau kemana?" Rafa tak menjawab hingga sampai tiba didepan suatu pintu kamar.


"Rafa, kita main diluar saja! Kata mommy, kita tidak boleh masuk kamar orang sembarang." Mutiara menghempas lengan Rafa kasar.

__ADS_1


"Kau ini gadis kecil yang kasar." Rafa bicara dengan dinginnya. "Dengar! Kamu bilang ingin menemui Sherly, bukan?" Mutiara segera menganggukan kepala cepat berulang kali. "Sherly sedang didalam kamar ini! Dia sedang mencoba gaun untuk pesta ulang tahunnya nanti sore." jelas Rafa.


"Sherly ulang tahun hari ini? Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?"


"Tentu. Kamu tidak pernah mau bertanya padaku atau Sherly? Dan ini untuk pertama kalinya dia merayakannya bersama kami disini."


"Kamu juga tidak berinisiatif memberi tahu padaku."


"Bagaimana akan aku akan mem- . . .."


"Hey, Muti? Kamu ada disini?" ucap seorang gadis yang telah berdiri didepan pintu. Yang membuat Rafa tak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Sherly, aku merindukanmu." ucap Mutiara yang segera menghambur memeluknya.


"Dan, kamu tak merindukanku?" sahut Rafa sebelum Sherly memberi jawaban.


"What you say?" Rafa tak berselera menanggapi pertanyaan Mutiara. Ia berlalu meninggalkan keduanya dengan langkah yang berat.


"Kenapa dia?" tanya Sherly.


"Biarkan saja dia. Laki-laki memang membingungkan. Kadang ia akan marah tak jelas, kadang juga bawel, dan masih banyak kadang-kadang yang lainnya. Ya, dia bahkan sudah seperti pria dewasa yang hobi ngambek diusianya yang baru sembilan tahun. Aku tak yakin dia akan tumbuh tampan saat dewasa nanti, karena akan ada banyak keriputan diwajahnya." ucap Mutiara yang didengar teman gadisnya itu. "Ehm, Sherly? Kamu ulang tahun hari ini?" imbuhnya.


"Iya, Muti. Ayo masuk, aku akan tunjukan gaun yang akan aku pakai nanti saat pesta!"


"Tidak." tolak Mutiara. "Maksudku nanti saja, Sherly. Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus aku ambil. Aku pulang dulu Sherly dan aku janji akan segera kembali." Mutiara menjauh dari gadis itu dan melangkah keluar rumah tanpa pergi menemui neneknya terlebih dulu yang sedang bersama Rissa didapur.


"Brukkk!" Mutiara menabrak tubuh seseorang saat sedang berlari, hingga tubuhnya jatuh perpental ditanah.


"Maafkan aku!" ucap orang yang ditabrak Mutiara dengan masih menatap permukaan tanah. Sebuah tangan yang besar terulur didepan wajah gadis cilik itu.


"Uncle tampan?" kaget Mutiara saat menatap wajah tampan pria dewasa yang sempat ditemuinya di Mall pagi tadi ada di rumah Rafa.


"Kak, siapa dia?" tanya seorang wanita dewasa yang berdiri dibelakangnya. "Anak kecil, saat berlari gunakan kedua matamu juga selain kaki! Untung kamu sendiri yang jatuh dan terluka. Bagaimana kalau orang lain harus menanggung luka karenamu?" ucapnya mencerca Mutiara yang kini telah berdiri.


"Diam!" kesal uncle tampan menatap tajam pada arah wanita dewasa yang bersamanya itu.


.


.


.


.


Kira-kira siapa pria dewasa yang dipanggil Mutiara 'uncle tampan' itu? Dan, siapakah wanita dewasa yang berani membentak gadis kecil nan cantik itu?


Temukan jawabannya diepisode selanjutnya.


Happy reading all


Jangan lupa dukung author selalu readers, thx

__ADS_1


__ADS_2