Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Tak Ingin Berpisah dengan Mutiara


__ADS_3


Di kamar, Bayu sedang memandangi foto yang selalu dibawanya setiap pergi keluar kota. Meski dilaptopnya juga banyak foto wajah tersebut. Tapi, Bayu sangat menyukai foto yang satu ini, karena dari foto ini hubungan awal mula mereka terjalin. Hingga tak sadar Bayu tertidur dimeja kerjamya sembari meletakkan tangannya diatas foto itu.



_____


Pagi hari, aku sudah rapi bersiap pergi ke Klinik, tak lupa aku menengok Mutiara sebelum berangkat kerja. Namun, sayang aku tak menemukan bayi mungil itu.


"Pagi mama!" sapaku pada mama yang tengah sibuk menyiapkan sarapan didapur. "Mama dimana Mutiara? Kenapa tidak ada di kamar mama?"


"Mutiara lagi sama ayahnya, lagi berjemur didepan sayang." jawab mama santai.


"Apa kak Bayu tidak pergi ke Kantor? Kenapa dia tidak bersiap pergi kekantor dan malah berjemur dengan Mutiara?" gumamku yang mendapat tatapan aneh dari mama. "Mama, apa menurut mama, aku harus menikah dengan kak Bayu?" tanyaku begitu saja.


"Tiara, keputusan itu ada ditanganmu. Semalam Bayu bilang pada papa agar kami tak perlu mendesakmu menikah dengannya, meski sebenarnya kami semua juga sangat mengharapkan hal itu terjadi sayang." jawab mama.


"Ma, Tiara bersedia menjadi pengganti kak Tia untuk Mutiara dan juga kak Bayu." jawabku membuat mama terharu karena saking bahagianya.


"Sungguh, Ra? Terimakasih sayang. Pasti kakakmu sangat bahagia disana karena ada kamu disisi mereka berdua."

__ADS_1


"Ehm. Ya sudah ma, Tiara berangkat ke Klinik dulu. Nanti malam Tiara akan bicara sama papa dan juga kak Bayu."


"Ya. Hati-hati Tiara sayang."


Setelah Tiara pergi, beberapa menit kemudian papa Ali turun untuk sarapan yang tak lama kemudian juga disusul Bayu.


"Papa, nak Bayu, tadi sebelum pergi Tiara bilang jika nanti malam ingin berbicara pada kalian!" kata mama Mila dengan raut bahagia.


"Mungkin ini tentang permintaan terakhir Mutia." kata Bayu menebak.


"Semoga Tiara tersentuh hatinya untuk mewujudkan permintaan terakhir mendiang istrimu, nak Bayu." ucap papa Ali.


"Tiara hanya butuh waktu pa, ini tidaklah mudah baginya, mungkin juga sama halnya dengan nak Bayu." ucap mama Mila sendu. Selesai sarapan Bayu bersiap dan pergi ke Kantor, sementara Bayu telah menitipkan Mutiara kepada mama Mila dan juga bibik Minah.


_____


"Sayang, tadi mama punya pasien cantik sekali, sama cantiknya seperti Mutiara. Besok kalau Mutiara sudah besar jadilah anak yang baik dan nurut sama kedua orang tua, ya?"


"Tiara, kok sudah dirumah? Mana sudah rebahan nemenin cucu mama lagi." tegur mama.


"Iya ma, habisnya kangen sama Mutiara. Yah! Mama, kayanya cucu mama ngompol deh, lihat saja bajuku sampai basah semua, mama!" ucapku manja.

__ADS_1


Mama malah tersenyum mendengar rengekanku. "Kamu harus belajar ngurus Mutiara dengan benar, Ra."


"Iya ma, tapi untuk sekarang kan masih ada mama." ucapku sambil mengamati mama yang sedang mengganti popok Mutiara.


"Maka dari itu belajarlah dari mama, agar nanti kamu tidak kaget Ra, mengurus anak itu tidaklah mudah, susah-susah gampang lho! Apalagi ketika nanti si anak mulai bertambah besar dan tumbuh dewasa." tutur mama padaku.


"Ma, sebenarnya aku masih sangat mencintai kak Panji. Tapi, aku juga tidak ingin berpisah dari Mutiara, itu sebabnya mengapa aku bersedia melakukan permintaan kakak." jujurku pada mama.


"Jika Panji memang bersungguh-sungguh padamu dia tak akan menggantungmu selama ini Ra, kalau dia memang serius denganmu harusnya dia berbicara pada papamu mengenai hubungan kalian kedepannya nanti mau dibawa kemana?"


"Tapi, aku juga tidak yakin bisa mencintai kak Bayu, ma. Mungkin juga kak Bayu tak akan pernah bisa mencintaiku." perasaan takut tidak bisa saling mencintai satu sama lain tumbuh dipikiranku.


"Cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Mungkin kalian berdua saat ini masih mencintai orang yang berbeda, tapi nanti perlahan cinta diantara kalian akan tumbuh tanpa kalian sadari."


"Benarkah begitu, ma?"


"Kamu tidak percaya? Mama pernah merasakannya, karena dulu papa sama mama korban perjodohan orang tua kami. Tapi, kamu bisa lihat sendirikan? Sekarang mama sama papa sangat saling menyayangi satu sama lain."


"Jadi, dulu mama dan papa juga tidak saling mencintai? Tidak sama sekali? Lalu, kapan cinta itu tumbuh ma? Apa perlu waktu lama?" tanyaku pada mama penasaran.


"Kami mulai saling mencintai ketika kami mulai hidup bersama." jawaban mama simple. Aku hanya berfikir, 'apa aku bisa mencintai suami kakak kandungku sendiri? Bukankah itu terlihat jahat? Jahat, ketika seorang adik menikah dan mencintai suami dari kakak kandungnya sendiri.'

__ADS_1


----------------------------------------


Jangan ketinggalan jempolnya raeders!!!


__ADS_2