Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Tidak Adil Bagiku


__ADS_3


Malam telah datang dan kini kami sedang menikmati makan malam. Tentunya hanya bertiga karena memang kak Bayu baru akan pulang besok.


"Ra, kalau kamu nanti sudah jadi istri sah Bayu, apa kamu akan berhenti dari pekerjaanmu?" tanya mama seketika menyita perhatianku.


"Entahlah ma. Tiara sangat mencintai pekerjaan Tiara saat ini."


"Tapi, kamu kan harus mengurus Mutiara dan suamimu nanti." papa pun ikut angkat bicara.


"Pa, bahkan waktu kak Mutia hamil, dia tetap bekerja dan kak Bayu tidak melarangnya."


"Itu karena Mutia belum melahirkan. Ingat, Ra! Kewajiban seorang istri ada pada keluarga dan rumah."


"Mama."


"Ya sudah, berdiskusikanlah masalah ini pada calon suamimu, nanti!" perintah papa.


'Apa-apaan ini? Setelah mereka berhasil menyuruhku menikah dengan kak Bayu dan sekarang mereka mencoba memintaku berhenti dari pekerjaanku. Sungguh kejam dunia ini!' gumamku dalam hati.


_____


Aku membaringkan tubuhku diatas kasur dan mulai memikirkan perkataan kedua orangtuaku tadi.


"Aku sangat mencintai pekerjaanku, ini adalah cita-citaku sedari kecil. Apa kak Bayu akan melarangku bekerja setelah kami menikah? Tapi, dia dulu membiarkan kak Mutia tetap kerja meski sedang hamil. Kenapa harus aku yang berada diposisi seperti ini? Ini sangat sulit untukku!" pikirku melayang terbang.


_____


"Bippp. Bipppp. Bippppp." dering ponsel yang menandakan bahwa ada pesan masuk.


📩 Milea

__ADS_1


[bukan Milea pacar Dylan ya readers, tapi Milea yang ini teman SMA Tiara yang kini telah menetap di Bangkok bersama suami dan keluarganya]


Ra?


Ra, kamu masih ada hubungan sama kak Panji, kan?


Aku baru saja melihatnya bersama perempuan di Mall, sepertinya mereka sedang mencari cincin untuk mereka tunangan deh, Ra.


Begitulah kiranya pesan yang masuk diponselku. Meski aku tak mengharapkan kak Panji lagi karena aku akan segera menikah dengan kak Bayu? Tapi, aku merasa sangat sakit mengetahui orang yang aku cinta kini telah memiliki cintanya sendiri. Dan tanpa memutuskan hubungan kami terlebih dahulu dan justru malah mengabaikanku begitu saja.


'Mungkin memang ini takdir yang telah ditentukan-Nya untukmu Ra, menikah dengan seorang Bayu Fajar Putra Pradana mantan istri dari Faiza Mutia Azahra yang merupakan kakak kandungmu sendiri.' tegasku dalam hati.


Ra!


Milea kembali mengirim pesan. Aku pun berniat untuk membalasnya.


Biar saja, Mil! Biarlah dia bahagia dengan pasangannya. Dia bahkan tidak mengingatku lagi, dan aku tak akan menunggunya lagi!


"Aku sangat mencintainya, kami tumbuh bersama sejak kecil, bahkan TK sampai SMA kami selalu berada dikelas yang sama. Meski kami baru menyadarinya tujuh tahun yang lalu, tapi itu bukanlah waktu yang singkat dan inikah akhir dari penantian panjangku? Kandas."


"Terkadang aku merasa hidup terlalu kejam padaku, sungguh rasanya ini sangat tidak adil bagiku." imbuhku.


_____


Pagi ini papa, mama, sangat sibuk mengurus keperluan pernikahanku. Aku telah memumutuskan cuti satu minggu dengan alasan akan melangsungkan pernikahan. Aku menggendong Mutiara ditanganku membawanya berjemur di bawah terik matahari.



"Mutiara sayang, kangen ya sama papa? Nanti papa pulang sayang." ucapku sambil menatap wajah comelnya.


"Gemesnya anak mama!" ucapku sambil mencium keningnya berulang-ulang. Tiba-tiba mobil Lamborghini Veneno Roadster berwarna Dark Grey melintas memasuki halaman rumahku.

__ADS_1


"Mobil siapa itu? Apa itu tamu papa? Tapi, beliau tidak bilang apapun saat pergi tadi." ucapku heran sambil terus menatap mobil yang belum terparkir sempurna, dan betapa terkejutnya aku saat melihat kak Bayu yang keluar dari dalam mobil tersebut. Bukan karena mobilnya readers, tapi karena kepulangannya yang tiba-tiba.


"Ra!" sapanya dengan ekspresi dinginnya.


"Kak Bayu? Sudah pulang? Bukannya nanti malam baru sampai? Lalu, mobil itu?" ucapku bingung menatapnya.


"Karena pekerjaanku sudah selesai jadi aku bisa segera pulang, dan mobil itu aku mengambilnya dari rumahku sebelum aku keluar kota karena aku harus sendiri." jawabnya sambil mendekat ke arah kami dan hendak menyentuh Mutiara.


"Tidak! Jangan menyentuhnya! Kamu belum cuci tangan, lagi pula kamu habis melakukan perjalanan jauh, jadi masuklah dulu dan bersihkan badanmu!" teriakku melarang, kalau kata orang jawa sih ya ndak keno sawan.


"Baiklah." ucapnya sambil berlalu pergi.


"Ya, dia orang kaya bukan? Kenapa aku harus bingung saat melihatnya berganti mobil? Dirumahnya pasti banyak mobil koleksinya yang lebih mahal lagi!" gumamku sambil menatap mobil super mewah itu.


"Ayo sayang kita masuk! Papamu pasti sangat merindukanmu juga." kataku pada si kecil. Aku masuk dan menyiapkan makanan untuk kak Bayu dan menaruh Mutiara dikereta dorong yang berada disampingku.


"Kenapa rumah sepi sekali, Ra? Dimana papa, mama, dan bibik?" tanya kak Bayu yang mendekat pada Mutiara.


"Entahlah, papa mengajak mereka untuk mengurus keperluan pernikahan kita."


"Kenapa tidak menungguku setelah pulang?" tanyanya membuatku mengerutkan dahi.


"Kak Bayu, pernikahan kita tinggal tiga hari lagi dan itu tidak mungkin dilakukan jika harus menunggu hingga kakak pulang." jawabku menatapnya heran, sementara dia hanya menatapku sembari menggendong Mutiara.


"Ayo kita susul mereka!" ajak Bayu.


"Tidak. Mama menyuruhku agar tidak keluar rumah sesampainya hari pernikahan kita terjadi." Readers tahu istilah dipingitkan ya?


"Lagipula kak Bayu pasti capek dan lagi belum sarapan kan? Jadi, makanlah dan istirahatlah saja dulu!" imbuhku. Kak Balayu meletakkan kembali Mutiara dan mendudukkan diri dikursi meja makan dan mulai menyantap makan yang telah aku siapkan. Setelah selesai dia pun pergi kekamarnya dengan membawa Mutiara digengongnya.


'Dia pasti sangat merindukannya, dan aku tidak mungkin melarangnya, meski aku tahu dia tak akan bisa beristirahat dengan baik saat Mutiara bersamanya.'

__ADS_1


__ADS_2