
Sore hari di Klinik, saat aku sedang sibuk beres-beres ruangan aku dikagetkan dengan kehadiran seseorang.
"Sudah mau pulang?" tanyanya.
"Kakak, kenapa kemari?" jawabku kaget.
"Tiara, aku ingin bicara empat mata denganmu. Ayo ikut denganku!"
"Katakan saja disini, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Ayolah! Sebentar saja, aku akan menunggumu, disini." ucapnya tetap bersikeras dan malah duduk didepanku. Aku menghela nafas panjang.
"Kak Panji, sekarang aku sudah menikah, aku tidak bisa lagi bebas bertemu dan pergi dengan lelaki selain suamiku, tanpa sepengetahuan dan izin darinya. Maafkan aku!" tolakku hati-hati.
"Ok, dengarkan aku! Aku tahu kamu masih mencintaiku! Aku juga masaih sangat mencintaimu! Kita saling mencintai satu sama lain, Ra. Kenapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri dengan menikahi orang yang tidak kamu pernah cinta?"
"Apa sudah cukup? Atau masih ada pernyatanyaan lagi yang terlewat?" tanyaku mencoba untuk tetap tenang.
"Tiara, aku sangat mencintaimu. Aku tidak rela kamu menikah dan hidup menderita dengannya."
"Kak Panji, aku tidak menderita karena pernikahan ini kak, aku bahagia bisa menjaga Mutiara dan juga kak Bayu. Kak Panji harus melupakanku dan mencari penggantiku!" Aku bangkit dari kursi kerjaku. "Maaf kak Panji, aku harus pergi!"
Aku melangkahkan kakiku, meninggalkan kak Panji yang terus memanggil namaku. Aku tidak bisa menahan gejolak dihatiku, aku meneteskan air mataku untuk orang yang sangat aku cintai.
Brugggggg!
"Maaf." ucapku tanpa menatap wajah yang telah ku tabrak dengan tak sengaja. Dan hendak kembali melangkah sebelum mendengar orang itu berujar padaku.
"Sudah pulang? Kenapa jalan menunduk seperti itu? Apa yang sedang kamu cari?" ucapnya bertanya, aku memutar tubuhku yang telah memunggunginya dan mengangkat wajahku lalu memandang orang didepanku yang aku rasa sangat familiar dengan suaranya, tentu karena orang itu tak lain adalah suamiku.
"Kak Bayu?"
"Hey! Tiara, ada apa denganmu? Kamu menangis?" tanyanya mendekat selangkah padaku.
__ADS_1
"Tidak kak Bayu. Tiara tadi kelilipan pas bersih-bersih meja kerja Tiara." ucapku berbohong.
"Kamu tidak perlu berbohong padaku, Ra!"
"Kak Bayu?" ucapku tak percaya, lalu aku melihat apa yang ditatapnya kini. Ya, mataku mengikuti pandangan yang kak Bayu lihat dan aku merasa sungguh bodoh sekarang.
"Kak, ayo kita pulang!" ucapku menarik tangannya yang masih berdiri menatap lelaki dibelakangku. "Kak Bayu, ayo!" ajakku lagi.
"Apa urusan kalian sudah selesai?" tanya kak Bayu membuatku memutar wajah melihat kak Panji yang juga masih berdiri ditempat.
"Sudah kak Bayu. Ayo pulang! Mama dan papa pasti sudah menunggu dirumah sekarang. Ayo!" ucapku pada kak Bayu.
Aku dan kak Bayu berjalan kearah mobil dan meninggalkan kak Panji yang dengan setia memandang kami yang mulai menjauh dari posisinya.
-----
Didalam mobil suasana benar-benar canggung, tak ada obrolan diantara kami, hingga kita sampai dirumah mama Mila dan papa Ali.
"Eh, anak dan menantu papa datang. Dimana Mutiara? Kenapa kalian tidak mengajaknya?" tanya papa Ali saat kami mulai menyalami tangan keduanya.
"Pa, kami hanya mampir sebentar saja. Kangen sama mama dan papa."
"Iya, ayo sayang masuk dulu! Tadi, mama sudah masak masakan kesukaan kalian berdua."
"Iya ma."
-----
Dimeja makan, mama Mila mulai mengambil piring untuk kami dan mengambilkan makanan untuk kami berdua dan juga papa.
"Ayo, nak Bayu dimakan! Ini menu favorit kamu, loh." ucap mama Mila menaruh ikan asam pedas dipiringnya.
"Kenapa nak Bayu?" tanya papa Ali yang melihat kak Bayu hanya diam, bahkan dia tidak bisa sedikit saja berakting bahagia didepan mertuanya meski memang sedang benar-benar badmood.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pa. Bayu hanya kecapaian saja." jawabnya sedikit membuatku lega.
"Benarkah? Kalian berdua lagi tidak berantem kan?" tanya papa Ali meragukan hubungan kami.
"Tidak pa, sudah ayo makan! Setelah ini aku bantu mama bersih-bersih." ucapku mengalihkan topik pembicaraan. Kami mulai menikmati makanan dan setelah selesai aku membantu mama didapur, sejak aku menikah mama tak lagi memakai art selain memang bibik yang mendadak pulang kampung.
"Kemana kak Bayu, pa?" tanyaku yang hanya melihat papa sendiri diruang tengah.
"Dikamar, Ra." jawab papa Ali, aku segera menyusulnya keatas. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu aku masuk kamar, dan saat menutup pintu aku terkejut bukan main. Tangan kekar kak Bayu melingkar diperutku, memelukku dengan erat, aku menikmati suasana ini untuk beberapa detik. Namun, saat merasa bibirnya menggigit kecil daun telingaku, aku segera tersadar.
"Kak lepasin, Tiara akan ambilkan kemeja untuk kakak!" titahku menyadari bahwa kak Bayu hanya mengenakan selembar handuk untuk membungkus tubuhnya. Namun, kak Bayu malah semakin mengeratkan pelukannya dan berbisik tepat ditelingaku membuatku merasa geli dibuatnya.
"Aku harap kamu tetap berada disisiku apapun yang terjadi, Ra."
"Kak Bayu ini bicara apa? Tiara tidak akan pernah meninggalkan kakak dan Mutiara. Sekarang lepasin Tiara, atau akan ada yang melihat kita nanti! Kak Bayu!"
"Biarkan saja mereka melihat! Mereka tahu bahwa kamu istriku dan mama dari putriku sekarang." ucapnya masih tetap memelukku, aku berfikir mungkin kak Bayu takut aku kembali bersama kak Panji.
"Apa kak Bayu sedang cemburu?" tanyaku membuatnya sedikit membuat jarak antara kami.
"Cemburu?" tanyanya seolah berfikir. "Tidak." jawabnya kemudian melepas pelukannya.
"Takut?" kak Bayu menggelengkan kepala.
"Lalu, apa ini?" tanyaku merasa kesal.
"Kenapa, Ra? Aku ini suamimu. Apa aku tidak boleh memeluk istriku sendiri?" ucapnya yang kini mengekoriku menuju lemari untuk mengambilkan pakaian untuknya. Aku mengambil kemeja dan celana untuknya.
"Pakai dulu, setelah itu kita pulang. Aku sudah merindukan Mutiara." ucapku menaruh pskaiannya diatas ranjang.
"Kamu tidak mau mandi disini sekalian?"
"Tidak. Nanti saja dirumah!"
__ADS_1