
Hari telah berganti malam. Bayu mengurungkan niatnya untuk membawa keluarganya makan malam diluar dan menikmati keindahan Pulau Dewata Bali malam hari di Hotel. Mereka hanya memesan makanan dan menikmatinya dikamar masing-masing.
"Tiara ayo makan dulu!"
"Iya, tunggu Mutiara tidur dulu!"
"Makanlah dulu, aku yang akan menjaganya."
"Baiklah."
Tiara duduk dimeja makan dan melihat makanan Bayu yang belum disentuhnya sama sekali. Tiara menatap kedua makhluk berharga yang kini ia miliki itu. Dan yang tak pernah ia impikan sama sekali sebelumnya.
"Kenapa hanya memandanginya saja? Makanlah!" Bayu mendekati Tiara dan duduk disampingnya sambil memangku Mutiara yang masih saja terjaga.
"Kamu belum makan? Ayo kita makan bersama, aku akan mengambil kereta dorong Mutiara. Agar kita bisa mengisi perut dengan nyaman." Tiara mengambil kereta dorongnya dan Bayu membaringkan putrinya disana.
"Ini terlihat sangat enak." Bayu menyendok makananannya dan memasukkannya kemulut.
"Makanlah yang banyak!" ucap Tiara tersenyum, Bayu membalas senyum manis Tiara dan mereka melanjutkan makan malam.
_____
Pagi harinya, semua sudah berkumpul dikamar Bayu dan bergegas keluar menuju mobil. Pagi ini mereka akan pergi ke Pantai Pandawa. Terlihat jelas kebahagiaan diraut wajah masing-masing saat bisa berkumpul bersama orang mereka sayangi. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai pantai tersebut.
Pemandangan bukit kapur disisi kiri dan kanan jalan menyambut mereka ketika memasuki kawasan Pantai Pandawa. Pantai itu terletak dibalik tebing kokoh yang membuatnya tampak eksotis. Tak hanya hamparan tebing, pengelolapun memasukkan unsur budaya dipantai ini. Terdapat patung ksatria Pandawa Lima yang diletakkan di antara dinding-dinding tebing, mereka adalah Arjuna, Bima, Yudistira, Nakula, dan Sadewa.
Kelima patung tersebut diukir dengan apik. Di lokasi yang sama, ada pula patung Dewi Kunti yang merupakan ibu dari kelima ksatria Pandawa. Semua patung-patung tersebut berwarna putih dengan tinggi sekitar lima meter, yang diberi kain warna ungu dibagian pinggang, dan berjajar menghadap ke pantai.
"Sungguh pemandangan yang sangat indah." gumam Tiara yang duduk didepan bersama Bayu yang sedang mengemudikan mobilnya.
_____
Setelah meninggalkan area parkir, mereka menuju gazebo yang ada ditepi pantai. Tiara mengeluarkan camilan sehat yang ia bawa dari Hotel, disana.
"Kak Bayu, aku cari minuman dulu ya?"
"Dimana? Tunggu saja disini! Aku yang akan membelikannya." Bayu mendekati salah satu warung yang ada disana dan mengambil benerapa botol air mineral. Setelah membayarnya Bayu kembali pada keluarganya.
"Cepat sekali?" protes Tiara.
"Untuk apa berlama-lama?" jawab Bayu menyodorkan kantong berisi air mineral padanya.
"Mama, papa, ini minumannya." ucap Tiara menaruh botol mineral itu dihadapan kedua orangtua dan mertuanya.
__ADS_1
"Nak, kalian tidak ingin jalan-jalan?" tanya papa Ali.
"Nanti pa, kita baru saja sampai. Papa dan mama duluan saja biar Mutiara bersama kami dulu." saran Bayu sambil memasukkan potongan red valvet dimulutnya.
"Kalian berdua yakin?" tanya mama Sekar meyakinkan putra dan menantunya.
"Iya. Mama Sekar, mama Mila, papa Ali, dan papa Surya keliling saja duluan tidak apa-apa." jawab Tiara yakin. Mereka berempat akhirnya berlalu mendekat bibir pantai dan meninggalkan Tiara, Mutiara, juga Bayu.
"Kamu tidak ingin mendekat untuk bermain air?" tanya Bayu tiba-tiba.
"Tidak. Aku lebih suka menikmati keindahannya dari kejauhan." jawab Tiara.
"Lalu, untuk apa kita pergi sejauh ini?"
"Aku tidak pernah meminta apapun. Seseorang mengharuskanku ikut kemana saja dia akan pergi." jawab Tiara menatap sendu pada Mutiara.
"Kamu tidak suka aku mengajakmu berlibur?" tanya Bayu dengan raut wajah kecewanya.
"Tidak. Bukan itu maksudku." ucap Tiara memutar mata tak ingin melihat kekecewaan suaminya itu.
"Bli! Come here!" teriak Tiara saat melihat fotografer keliling melitas didepannya. Setelah mendekat Tiara memintanya untuk mengambilkan gambarnya dan Mutiara.
"Nona. Fotonya tidak terlihat buruk, tapi seperti ada yang kurang?"
"Apanya yang salah mungkin karena pencahayaannya, Bli."
"Bagaimana sekarang? Apa masih ada yang kurang?" tanya Bayu yang telah berdiri disisi Tiara dan merangkul pinggangnya. Orang itu pun memberi kode 'ok' dan memotret keluarga kecil itu. Setelah selesai, Tiara melihat hasilnya dan memilih beberapa untuk dikirim melalui ponselnya.
"Kalian sudah kembali, kenapa cepat sekali?" tanya Tiara yang telah melihat mertua dan orangtuanya duduk santai digazebo.
"Iya nak, capek jalan menyusuri tepi pantai, panas juga sayang, biasa tulang sudah tua." ujar mama Sekar.
"Tiara dari mana?" tanya mama Mila.
"Ambil hasil foto, ma."
"Foto apa, nak?"
"Foto keliling, tadi ada yang lewat." mama Mila mengangguk paham.
"Bay, bukannya kamu suka menikmati keindahan alam? Ajaklah Tiara terbang bersamamu!" usul papa Surya membuat Tiara dan semua orang keheranan.
'Terbang bersama?'
"Apa pa? Terbang bersama? Kak Bayu bisa terbang?" papa Surya menganguk lalu tersenyum, tak lama kemudian jari manisnya menunjuk arah langit yang biru dan memperlihatkan benda yang melayang diudara.
"paragliding?" seru Tiara syok. "Tidak-tidak, aku takut ketinggian, pa." imbuh Tiara menatap Bayu, berharap suaminya itu sedang tidak tertarik.
__ADS_1
"Itu jika kamu terbang sendiri Ra, kalau sama Bayu ya pasti beda rasa." ucap papa Ali menggonda putrinya.
"Kak Bayu tidak sedang tertarik, pa. Iya kan, kak Bayu?"
"Siapa bilang? Ayo pergi!" Bayu berdiri dan menarik tangan Tiara, mengandengnya dan membawanya menuju tempat itu.
Sesampainya di Bukit Timbis, Bayu memesan sebuah paragliding atau paralayang untuknya dan Tiara terbang bersama. Selesai jasa penyewa menyiapkan dan memasang perlengakapan terbang mereka, Bayu menatap dalam wajah Tiara.
"Kamu jangan panik. Ini akan sangat menyenangkan saat kita sudah diatas nanti."
"Aku takut ketinggian! Kenapa memaksaku? Cuaca juga sangat panas sekali siang ini. Kulitku bisa saja terbakar dan hangus nanti."
"Kita akan melawan rasa takutmu bersama. Pejamkan matamu! Buka mata saat aku sudah menyuruhmu!" Tiara hanya menurut apa kata Bayu. Bayu mulai berlari saat mendapat arahan dan beberapa menit kemudian meraka sudah berada diatas.
"Tiara buka matamu!" Tiara membuka mata perlahan dan sedikit ragu. Bayu terus menatapnya.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Tiara saat menengok kebawah.
"Tenanglah, jangan biarkan rasa takut menguasai dirimu. Lihat aku! Lihat ujung tanganku! Dan tersenyum!" ucap Bayu memberi arahan pada istrinya.
"Kau membawa semua ini? Bagaimana kalau sampai ponselmu terjatuh nanti?"
"Aku bisa membeli yang terbaru."
"Kak Bayu?"
"Ayo tersenyumlah!" Bayu telah mengambil beberapa foto mereka. Tiara juga mulai merasa aman dan nyaman. Bahkan ia terus saja tertawa lepas, berbicara dan tak henti memuji keindahan alam yang dilihatnya.
"Kak Bayu terimakasih."
"Hanya terimakasih?
"Lalu apa lagi?
"Tidak." Mereka terus saja berdialog saat berada diatas udara dan Tiara merasa sangat senang. Ini penerbangan terindah pertama kalinya bagi Tiara bersama orang yang berstatus sebagai suaminya. Dan ia berharap mereka berdua akan bisa saling mencintai satu sama lain suatu saat nanti.
,
,
,
,
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya kakak. Agar author lebih semangat dalam nulis.
Happy reading...