
Tiara keluar dari ruangannya dengan rapi dan telah lengkap dengan segala atributnya. Ia merjalan menuju sebuah ruang.
"Dokter Tiara!" panggil salah satu perawat yang berdiri di depan suatu ruang.
"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Tiara dengan langkah cepat mendekat.
"Dokter Tiara, pasien terus saja mengeluarkan banyak darah, Dok." papar sang perawat. Mereka hendak masuk namun tiba-tiba tangan Tiara tertahan.
"Tolong selamatkan anak saya Dokter! Saya akan sangat merasa bersalah jika sampai terjadi hal buruk padanya. Saya akan mati perlahan tanpanya Dokter! Tolong! Tolong selamatkan anakku, Dok!" ucap seorang ibu. Wanita seumuran dengannya yang terus menangis dan memohon padanya.
"Saya akan berusaha semampu saya. Ibu tenang dan jangan lupa berdoa pada-Nya, untuk keselamatan dan kesembuhannya. Maaf bu, saya harus segera masuk untuk menanganinya." Tiara segera masuk untuk memeriksa pasiennya itu.
_____
Di Kantor, Bayu terlihat sedang berusaha menghubungi seseorang, namun ia tak kunjung mendapat jawaban dari tindakannya. Bayu terus berusaha dan tak henti mengerutukinya.
"Aku sudah menelpon hingga sepuluh kali! Pergi kemana dia?"
"Bukankah dia bilang akan berangkat siang? Harusnya dia masih dirumah saat ini. Ini baru jam 07.25 WIB. Apa terjadi sesuatu dirumah?" pikir Bayu jauh menerawang. Ia putus asa setelah berulang-ulang kali mencoba menghubungi istrinya namun tak juga dijawab. Ia segera beralih menekan nomor yang lain pada kontak ponselnya.
"Hallo tuan. Ada yang bisa saya bantu, tuan Bayu?" tanya seorang dibalik ponselnya.
"Hallo. Pak Somad, tolong kirimkan berkas saya yang tertinggal di ruang kerja, SEGERA! Oh iya, dimana Tiara? Kenapa saya tidak bisa menghubunginya? Apa terjadi sesuatu pada Mutiara?"
"Baik tuan, saya akan segera mengantar berkasnya ke Kantor. Nyonya Tiara sudah pergi ke Klinik tuan. Dia terlihat sedang sangat terburu-buru tadi, mungkin sedang ada pasien darurat, tuan Bayu."
"Kamu mengantarnya tadi?"
"Tidak tuan Bayu. Nyonya Tiara menolak tawaran saya. Nonya bilang akan lebih cepat kalau membawa mobilnya sendiri tuan."
"Lain kali jangan biarkan dia pergi membawa mobil sendiri di saat kondisi seperti itu! Mengerti?"
"Baik tuan Bayu."
"Cepat antar berkasnya, segera! Diatas meja ruang kerja, MAP WARNA MERAH." ucap Bayu kembali mengingatkan dengan menekan ucapannya diakhir kalimat.
"Baik tuan Bayu, saya akan segera mengantar berkasnya ke Kantor." Bayu mengakhiri panggilannya dan segera melanjutkan pekerjaannya, namun dia seketika terdiam mematung. Ya tentu, ia mencemaskan keadaan istrinya.
"Dia pasti baik-baik saja, Bay. Mungkin saat ini dia sibuk menangani pasiennya, hingga dia tidak sempat mengangkat telpon darimu." ucap Bayu meyakinkan dirinya sendiri. Ia kembali fokus pada layar laptop dan beberapa tumpukan berkas disampingnya.
_____
Tiara keluar dari ruang periksa. Ia disambut sepasang suami istri yang merupakan orang tua pasiennya.
__ADS_1
"Dokter, Bagaimana keadaan putra saya?" tanya si ayah pasien.
"Dokter, bisa kami melihat anak kami?" saut sang istri.
"Bapak, ibu, kondisi putra kalian berangsur membaik. Kalian tidak perlu terlalu cemas. Hanya saja kita perlu menunggunya sadar untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut. Kalian boleh masuk setelah perawat memindahkannya ke ruang inap. Saya permisi." tutur Tiara.
"Terimakasih bu Dokter." Tiara membalas senyuman keduanya. Tiara melangkahkan kaki menuju kembali keruangannya. Ia membereskan meja kerjanya dan meletakkan tasnya diatas meja. Ia merasa ponselnya bergetar, Tiara mengambilnya di dalam tas, membuka salah satu pesan yang masuk.
💌 Mama Sekar
Sayang, bagimana kabar kalian? Mama merindukan kalian, nak.
Alhamdullilah, Tiara dan keluarga baik dan sehat, mama jangan khawatir dan jaga kesehatan disana. Kami juga merindukan mama dan papa disini. Nanti kalau Tiara sudah dirumah pasti segera Vcall mama. Tiara lanjut kerja dulu ya, ma."
Iya, nak. Maaf mama mengganggu kerjamu. Ya sudah, lanjutkanlah pekerjaanmu, nak. Mama tunggu Vcall dari kalian.
Tiara mengakhiri percakapan dengan mertuanya. Ia melihat notifikasi beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya.
"Kak Bayu? Ada apa dia memanggilku hingga lima belas kali? Bukankah dia bilang sedang banyak pekerjaan? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" Tiara tak mau berfikir yang tidak-tidak. Ia menghubungi Bayu kembali namun belum sampai Bayu mengangkatnya suara ketukan pintu mengharuskannya menutup telponnya.
"Masuk!" ucap Tiara pada orang dibalik pintu.
"Dokter Tiara, pasien yang tadi sudah siuman." ucap seorang perawat padanya.
"Baik. Kita kesana." Tiara kembali menaruh ponselnya didalam tas. Ia menuju ruang inap bersamaan dengan seorang perawatnya.
_____
"Ini hampir jam makan siang, bukan?" tanya Bayu pada diri sendiri.
"Mungkin dia akan makan siang di Kantin. Aku akan pergi menemuimu saja!" ucap Bayu mengurungkan niatnya untuk kembali menghubungi istrinya. Ia keluar menuju parkiran dan bergegas menemui istrinya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai Klinik Tiara. Ia segera menuju keruangan istrinya, namun zonk, ia tak menemukan sosok istrinya, ruangannya tampak kosong. Bayu duduk dikursi milik Tiara dan menyandarkan tubuhnya, mencari posisi nyamannya.
"Apa dia masih lama? Aku akan tidur sebentar sambil menunggunya." ucap Bayu sebelum tertidur. Tak lama kemudian, Tiara masuk keruangannya dan hendak duduk dikursinya.
"Kenapa terasa berat?" gerutu Tiara saat ingin memutar kursinya. "Kak Bayu! Disini? Kenapa?" ucap Tiara kaget.
Bayu membuka matanya perlahan dan menguceknya "Kamu sudah makan siang?"
"Aku baru akan pergi ke Kantin. Kak Bayu kenapa kemari? Apa kak Bayu sakit?" tanya Tiara memegang kening bayu. "Tidak panas." ucap Tiara menjauhkan tangannya.
"Apa aku harus sakit untuk bisa bertemu istriku? Aku lapar, ayo kita makan diluar saja."
__ADS_1
"Bukannya kak Bayu banyak pekerjaan?"
"Bukan berarti aku tak boleh menemuimu bukan, ayo!" ajak Bayu menarik tangan Tiara.
"Tunggu. Biar aku bersiap dulu." Tiara meletakan stetoskop yang melingkar dilehernya diatas mejanya dan melepas jas putih kebesarannya. Bayu mengambil stetoskop dan berdiri mendekat pada Tiara.
"Kak Bayu!" ucap Tiara kaget saat Bayu memeluknya tiba-tiba.
"Kak Bayu mau apa? Lepaskan atau aku tidak akan pergi denganmu!" ancam Tiara.
"Aku hanya ingin mendengar detak jantungmu saat aku didekatmu." ucap Bayu menempelkan benda itu didada Tiara.
Dag
Dig
Dug
Duarrr
Mungkin suara-suara seperti itu yang kini Bayu sedang dengarkan.
"Apa kamu takut denganku? Kenapa detak jantungmu sangat cepat sekali dan tak beraturan?" tanya Bayu pelan dan tenang.
"Tidak, untuk apa aku takut?" jawab Tiara mencoba untuk tetap tenang.
Bayu mengikis jarak diantara mereka hingga begitu dekat "Bagaimana jika sekarang?" Bayu bisa merasakan dengan sangat jelas detak jantung Tiara.
"Apa kamu akan mencintaiku Tiara?" ucap Bayu terus menghujani Tiara bermacam pertanyaan aneh, menurut Tiara.
"Aku sudah berusaha untuk membuatmu nyaman saat sedang denganku. Apa aku bisa membuatmu jatuh hati padaku? Aku ingin kita bisa saling mencintai satu sama lain dan melupakan masa lalu kita."
"Kak Bayu?" ucap Tiara lemah.
"Kapan kamu akan menerimaku sebagai suamimu? Kapan kita akan seperti pasangan lain pada umumnya. Aku hanya ingin bahagia denganmu dan putri kecil kita."
"Bagaimana aku bisa memenangkah hatimu, Ra? Hanya cintaku saja tidak akan cukup untuk membahagiakan keluarga kecil kita. Cintaku tidak sempurna jika kamu tidak membalasnya."
"Kak Bayu? Kak Bayu sungguh mencintaiku? Bukan hanya karena aku adik mantan istri kakak? Bukan karena wajah kami yang sangat mirip?"
'Aku mencintaimu Tiara. Jauh sebelum aku meminang kakakmu, Mutia.' teriak Bayu, namun hanya di dalam hati. Ia mengangguk atas pertanyaan Tiara.
Bayu melepaskan pelukannya dan memandang wajahnya, kemudian menatap dalam manik matanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Tiara. Aku bisa hidup tanpa cintamu, tapi apa artinya cintaku jika tanpa cintamu? Aku tidak bisa memaksamu. Aku akan terus berusaha agar cintaku saja cukup untuk keluarga kecil kita." Bayu menghapus air matanya yang hendak jatuh. "Lupakan! Ayo kita pergi makan siang. Aku sudah membuang banyak watku. Anggap aku tidak pernah mengucapkan apapun hari ini!" Bayu meletakkan kembali Stetoskop diatas meja dan menarik tangan Tiara.
'Aku akan mencobanya kak Bayu, aku akan berusaha untuk menyempurnakan cintamu. Aku akan menguatkan cintamu untuk keluarga kecil kita. Aku akan belajar menerima dan mencintaimu lahir maupun batin!' bantin Tiara menggebu.