
Uncle tampan itu mengulurkan tangannya membelai rambut Mutiara pelan. Namun, gadis kecil nan cantik itu hanya menatapnya acuh.
"Hey, Beauty girl!" sapa si uncle tampan. "Well. Maaf jika kamu tidak menyukai panggilan itu, sayang. Siapa namamu gadis cantik? Kenapa kamu bisa berada sini?"
"Uncle tampan, panggil saja aku Muti."
"Muti?"
"Iya, Muti."
"Ok. Muti bisa berjalan? Dan, apa ada yang sakit?"
"Tidak uncle tampan, Muti tidak merasa sakit dan lihatlah Muti bisa lompat juga berdiri tegak. Uncle tampan maafkan Muti, Muti harus segera pergi. Sampai jumpa, uncle tampan." Mutiara lari sekencangnya meninggalkan pekarangan rumah Rafa.
"Dasar anak kecil! Ayo masuk, kak!"
"Rere! Bisakah kamu bersikap lebih tenang dan tidak kasar terhadap anak kecil?"
"Kenapa kamu selalu memarahiku hanya karena tingkah anak-anak kecil yang sangat menyebalkan itu, kak?"
"Rere, cukup! Aku lelah menghadapi sikapmu yang terus saja seperti ini. Apa kamu tidak bisa bersikap lembut terhadap anak-anak walau sedikit saja? Cobalah untuk sabar dan bersikaplah seperti seorang ibu yang menyangi anaknya!"
"Aku tidak peduli itu, kak!" Rere berlalu meninggalkan pria dewasa itu dengan kekesalannya.
"Jika bukan karena kamu tengah mengandung anakku saat ini, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan wanita sepertimu, Re. Bagaimana aku bisa melakukan kesalah terbesar dalam hidupku kepada wanita seperti dirimu? Aku hanya sangat mengkhawatirkan masa depan anakku, benih yang kini tumbuh didalam rahimmu."
_____
"Mommy! Daddy!" teriak Mutiara saat setelah sampai dirumah grandmanya.
"Sayang kenapa berlari dan berteriak didalam rumah? Lihat, kamu sampai berkeringat seperti ini!" ucap Tiara sembari menghapus peluh sang putri.
"Mommy, Sherly ulang tahun hari ini dan Muti tidak punya kado untuknya, mom."
"Ohhh begitu rupanya. Lalu? Dimana grandma, sayang?"
"Masih dirumah Rafa mungkin. Mommy, ayo ajak daddy beli kado untuk Sherly!"
"Tapi sayang, daddy sedang tidur siang. Muti diantar mommy saja ya?"
Mutiara mengangguk cepat. "Iya mommy. Ayo cepat mommy!"
"Ya sudah mommy ambil tas sama kunci mobil dulu, Muti tunggu disini." Tiara melangkah menuju kamar dan mendapati Bayu yang memang tengah tertidur pulas. Ia mengambil kunci dan tas diatas nakas dan hendak pergi. Namun, ia melihat keringat begitu banyak dikening suaminya.
"Aku heran kenapa bisa orang tidur sepulas dirimu kini saat cuaca panas begini?" gumam Tiara sembari meraih remot ac dan menyalakannya. "Tidur yang nyenyak ya, daddy. Aku paham, akhir-akhir ini daddy memang kurang istirahat karena tuntutan pekerjaan hingga harus selalu pulang larut malam." Tiara menarik selimut dan melihat wajah damai suaminya yang terlelap. Baru Tiara akan mengulurkan tangan untuk menghapus peluh di wajah sang suami tiba-tiba suara melengking membuatnya harus segera beranjak pergi meninggalkan suaminya.
"Mommy, kenapa lama sekali? Ayo cepat, mom!" Tiara menggelengkan kepala dan menghampiri putrinya yang telah berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Maaf sayang. Ayo kita pergi!" Tiara menutup pintu kamarnya pelan.
Tiara dan Mutiara pergi ke suatu tempat yang menjual berbagaimacam boneka, mainan dan juga aksesoris yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Setelah memilih kado terbaiknya, Mutiara meminta mommynya membayar sekaligus membungkuskannya dengan kertas kado motif bunga. Setelah selesai keduanya masuk mobil untuk kembali.
"Mommy, nanti turunkan Muti dirumah Rafa saja ya, mom?" pinta Mutiara.
"Baik tuan putri kecil kesayangan mommy dan daddy." balas Tiara bahagia. Setelah beberapa menit kemudian sampai tujuan, keduanya turun dan melangkah menuju kediaman Rafa.
"Mommy, mommy tau? Tadi uncle tampan juga ada disini. Tapi, Muti tidak suka sama nenek sihir yang datang bersamanya itu, dia sangat kasar dan juga jahat, tidak seperti mommy yang lembut dan penyayang." Tiara tak terlalu menanggapi ucapan putri kecilnya itu.
"Sayang, Muti masuk dulu ya? Mama mau angkat telpon dulu." ucap Tiara saat menyadari ponselnya didalam tas bergetar.
"Hallo Tiara, kamu dimana sayang?" ucap seorang dibalik telpon.
"Kak Bayu? Sudah bangun?"
"Sayang, jawab saja pertanyaanku! Kamu dimana sekarang?"
"Kak Bayu, aku dirumah Rafa sekarang. Tadi Muti minta diantar beli kado untuk Sherly, jadi aku mengantarnya sebentar dan aku akan segera kembali."
"Cepatlah! Aku kesepian dirumah sendirian."
"Kak Bayu! Apa papa belum juga pulang?"
"Belum. Aku merindukanmu, Tiara sayang." Tiara menghembuskan nafas kasar, kesal. Ia memutar tubuh dan bersiap melangkah masuk kedalam rumah sambil kembali memasukan ponselnya didalam tas.
"K-kak Panji!" ucap Tiara sedikit gagu.
"Jadi, Muti adalah anak kak Mutia, maksudku dia putrimu. Ra?" Tiara hanya diam. Ia tak menyangka bahwa ia akan bertemu orang yang sangat dicintainya setelah lama menghilang dari kehidupannya.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan suamimu sekarang? Dan, berapa umur adik Muti sekarang?" Mendengar ucapan Panji, Tiara jadi kaku dan kelu. Entah apa yang ada dipikirannya itu. Apa para readers tau?
"Uncle tampan!" suara Mutiara berhasil mengalihkan pandangan keduanya. "Uncle tampan, mommy, ayo kemari! Sherly terlihat sangat cantik dengan gaunnya. Mommy, nanti di ulang tahun Muti yang ke 6 Muti mau dibuatkan pesta dan memakai gaun yang seperti Sherly." imbuhnya semangat.
"Hemb, iya sayang. Sayang, mommy pulang dulu ya? Daddy dirumah sendirian kasihan. Muti jangan nakal dan pulanglah segera bersama grandma setelah acara selesai jangan pulang sendiri dan berlarian seperti tadi! Ok, sayang?" Mutiara pun mengangguk. Tiara segera meraih dan memeluknya, lalu mencium kening gadis yang dianggap seperti putri kandungnya sendiri itu penuh dengan rasa kasih dan sayang. Lalu meninggalkannya dan Panji yang masih terdiam hingga Tiara masuk mobil dan melajukannya.
'Apa kamu masih mencintaiku, Tiara? Apa perasaan kita masih sama?' batin Panji yang mulai melangkah masuk rumah bersama Mutiara.
'Tiara berhentilah! Ingat bahwa kamu telah memiliki kak Bayu dan juga Mutiara. Aku memang telah menerima kak Bayu sebagai suamiku, tapi entah kenapa dengan hatiku ini? Saat kembali melihat wajah kak Panji. Seperti aku kembali jatuh hati setelah sekian lama. Tidak, ini tidak adil untuk kak Bayu dan Mutiara. Aku tidak boleh egois dan membiarkan perasaan seperti ini kembali hadir untuk kak Panji. Ini salah. Ini tidaklah benar, Tiara.' batin Tiara yang kini telah memarkirkan mobilnya didepan rumah.
_____
Tengah malam Harinya, Tiara, Bayu dan Mutiara berjalan menuju kamar mama Mila dan papa Ali. Ketiganya berencana memberi sedikit kejutan dan mengadakan pesta kecil.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tiara mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya. Sedangkan Bayu telah memegang kue tart ditangannya dan bersandar di dinding bersama Mutiara. Selesai mengetuk pintu berulang Tiara menyusul keduanya untuk bersembunyi.
"Kriettt." suara pintu terbuka. Terlihat mama Mila yang membuka pintu. "Siapa yang mengetuk pintu ditengah malam begini? Tidak ada orang disini."
"Siapa ma?" tanya papa Ali yang kini berdiri berdampingan dengannya.
"Tidak tau pa, tidak ada orang. Mungkin mama salah dengar, pa." keduanya hendak menutup pintu. Namun, tiba-tida keduanya dikejutkan oleh orang-orang yang sangat mereka kenal muncul dari balik tembok.
"HAPPY WEDDING ANNIVERSARY GRANDMA AND GRANDPA . . .." teriak ketiganya kompak dihadapan kedua orangtua Tiara.
"Ohhh, terimakasih banyak sayangnya mama dan papa." ucap mama Mila terharu.
"Ma, pa, ayo ke ruang tengah! Kita ada pesta kecil untuk mama dan papa." ajak Bayu pada kedua mertuanya.
"Tunggu! Grandpa and Grandma tiup lilin dulu, kak!" perintah Mutiara.
"Ok. Baik sayang." Keduanya meniup lilin bersamaan dan tertawa bahagia.
"Terimakasih nak Bayu, sudah repot-repot menyiapkan ini semua untuk kami berdua." ujar papa Ali.
"Papa? Kami berdua yang menyiapkan ini semua!" protes Tiara meraih Mutiara membawanya dalam dekapannya. Ia tak terima jika hanya suaminya saja yang mendapat ucapan terimakasih itu.
"Oh iya? Mama dan papa sangat menyayangi kalian bertiga." ucap papa Ali memeluk anak dan cucunya. Setelah merasa puas mereka turun keruang tengah yang telah dihias dengan beberapa balon dan juga lilin. Tak lupa diatas meja telah tersaji ikan bakar dan minuman hangat. Maklum ini sudah tengah malam.
"Grandpa, grandma suka kejutan dan pesta kecil dan sederhana ini?" tanya Mutiara.
"Tentu sayang. Ayo kita serbu sekarang!" ucap papa Ali. Seperti keluarga bahagia, kelimanya menikmati pesta kecil tersebut diselingi canda tawa bahagia.
"Mama papa ini hadiah kecil dari kami." ucap Tiara menyodorkan kotak kado diatas meja.
"Terimakasih putri mama."
"Mama dan papa buka nanti saja dikamar! Sekarang kita makan lagi dan istirahat." titah Tiara. Keduanya tersenyum bahagia. Dan tak henti-henti bersyukur didalam hati.
.
.
.
.
SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI 1441 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN PARA READERS SEDAYA.
__ADS_1