
Aku berjalan pelan, menghampiri orang yang berdiri di dekat pintu ruang rawat inap tersebut. Dengan wajah yang bingung sambil menoleh kanan dan kiri aku pun semakin mendekat darinya.
'Dia! Kenapa dia kesini?' batinku bertanya, dan terus melangkah mendekat. "Kakak ipar? Kenapa kakak ipar ada disini?" tanyaku bingung dengan keberadaannya sekarang di Klinik ini.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" ucapnya berbalik tanya padaku.
"Iya, sebentar lagi aku selesai. Kenapa kakak ipar kesini? Apa perlu sesuatu?" ucapku mengulang pertanyaan yang tadi tidak terjawab.
"Menjemputmu. Kakakmu yang memintanya." jelasnya.
"Tapi, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, kakak ipar pulanglah saja dulu atau nanti kak Tia akan mengkhawatirkanmu!" titahku padanya.
"Justru nanti kakakmu akan marah padaku jika aku tidak pulang bersamamu. Dia yang memintaku untuk menjemputmu, jadi Mutia tak akan mencariku sekarang!" jawabnya membuatku mengerutkan dahi.
"Terserah kakak ipar saja, aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Kakak ipar bisa menungguku di Kantin atau di Lobby saja." ucapku berlalu melangkah meninggalkannya menuju keruanganku.
'Apa benar kak Tia yang menyuruhnya datang kemari, menjemputku?' tanyaku dalam hati, aku pun segera mengambil ponsel dilaciku dan segera bertanya pada kakak, belum sempat aku mengirimnya pesan, sudah ada beberapa pesan yang masuk dari kakak tercintaku itu.
💌 Kak Mutia
__ADS_1
Tiara, kamu pulang jam berapa?
Ara, nanti pulangnya bareng mas Bayu aja, ya?
Ra, mas Bayu lagi on the way ke Klinik, kamu jangan pulang dulu! Tunggu dia datang! Kasiankan nanti kalau dia sudah sampai Klinik dan kamu gak ada.
Semua pesan dari kak Mutia benar-benar membuatku pusing, 'apa orang hamil selalu bertingkah aneh dan semaunya seperti ini?' pikirku. Setelah selesai dengan pekerjaanku aku segera menghampiri kakak iparku yang menunggu di Lobby.
"Kakak ipar, ayo pulang!" ajakku dan dia berjalan menuju mobilnya dengan aku yang berjalan dibelakangnya. Kami masuk mobil dan kakak ipar segera melajukan mobilnya.
"Maaf sudah menunggu lama, besok lagi tidak perlu menuruti apa yang kak Tia minta lagi, jika itu menyangkut aku!" tuturku yang tak mendapat jawaban dari kakak ipar. Suasana begitu hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar ditelingaku, hingga sampai dirumah, aku turun dan melihat kak Mutia yang sudah duduk dikursi teras.
"Belum kak Tia sayang, lagipula kita masih bisa untuk makan malam bersama dirumahkan?" jawabku pada kak Mutia, yang menurutku adalah pertanyaan aneh.
"Iya, ayo pergi makan! Papa dan mama sudah menunggu dimeja makan!" ajak kak Mutia seraya menggandengku dan kakak ipar layaknya menggandeng balita, akupun hanya terheran dengan tingkah kak Mutia. Setelah makan, aku pergi kekamar untuk mandi lalu merebahkan tubuhku diatas kasur.
'Kenapa dia belum juga menghubungiku sekarang?' batinku berucap. Aku berinisiatif menghubunginya, aku mendial nomornya.
"Maaf nomor yang anda tuju . . .." Suara operator yang terdengar sangat mengesalkan buatku dengar saat ini, aku memejamkan mataku dan hanyut di alam mimpi.
-----
__ADS_1
Di Kamar Mutia,
"Sayang, besok lagi aku gak mau kamu paksa aku untuk jemput Tiara, dia sudah dewasa. Bahkan, jika aku meninggalkannya diluar Benua sekalipun dia bisa pulang sendiri tanpa harus aku pergi menjemputnya." jelas Bayu pada istrinya.
"Apa kamu marah? Aku hanya berniat baik kepada adikku mas, lagipula kalian kan satu arah, apa salahnya coba? Dan lagi, aku akan sangat senang kalau kalian berdua bisa dekat dan lebih akrab." kata Mutia sambil memijat lembut kepala sang suami yang berada dipangkuannya.
"Sudah malam tidurlah! Kasihan putri kita, jika kamu selalu tidur malam seperti ini." ucap Bayu melunak seraya mengelus pelan perut buncit istrinya dan mencium si calon anaknya.
"Sayang, apa kamu sudah punya nama untuk anak kita ini?" tanya Mutia dengan memegang perutnya.
"Tentu, nama yang sangat cantik untuk bayi putri cantik kita nanti."
"Siapa namanya, sayang?"
"Masih rahasia dong, kan belum lahir si baby? Nanti kalau sudah lahir, aku akan memberi tahu nama yang sangat cantik itu, seperti ibunya." jawab Bayu sambil mengelus perut istrinya dan merasakan pergerakan si baby didalam sana aktif menendang-nendang, tanpa terasa kantuk menyerang, keduanya mulai tetidur dengan begitu nyenyak.
( Ini dia orangnya, yang diam-diam memperhatikan kak Dokter Cantik Tiara saat sedang sibuk bekerja )
jangan lupa like dan vote sebagai bentuk apresiasi dari readers terhadap Novel MuB ini.
__ADS_1