
Hari terus berganti hari, dan hari ini merupakan hari jadi antara aku dan kak Panji. Namun, sampai saat ini belum ada kabar sama sekali tentangnya, yang membuat hatiku jadi tak menentu.
'Apa dia benar-benar telah melupakanku?' kataku dalam hati.
"Tiara! Tiara! Tiara tolong mama, sayang!" teriak mama dari luar kamarku menggema. Aku segera berlari menuju asal suara. Aku terkejut bukan main saat melihat kak Mutia telah terbaring dilantai dan bersimbah darah.
"Mama? Apa yang terjadi dengan kak Mutia? Dimana semua orang, ma?" tanyaku sambil mendekat pada kak Mutia yang terbaring lemah di lantai tak berdaya menahan sakit.
"Kakakmu terjatuh Tiara. Ayo Ara, cepat kita bawa kakakmu ke Rumah Sakit!" ucap mama sangat khawatir, kami memapah kak Mutia dan membawanya ke Rumah Sakit, semantara mama terus menghubungi papa dan kakak ipar bergantian. Namun hasilnya nihil, tidak ada jawaban dari keduanya.
"Mutia, buka matamu nak! Jangan tidur! Jangan buat mama takut, sayang." ucap mama tak ingin kak Mutia sampai hilang kesadaran.
"Mama tenang, kak Tia akan baik-baik saja ma, karena sebentar lagi kita sampai." ucapku menenangkan mama. Meski hatiku sendiri merasa sangat takut, jika sesuatu yang buruk terjadi pada kak Mutia dan bayi dalam kandungannya. Sesaat sampai di Rumah Sakit beberapa petugas dengan segera membawa kak Mutia ke ruang IGD dan beberapa dokter menyusul keruangan kak Mutia berada.
"Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi?" ucapku kesal karena tak berhasil menelpon papa atau kakak ipar.
"Tiara! Mama takut mereka dalam bahaya, sayang." kata mama langsung memelukku ketika aku hendak duduk disampingnya. Aku merangkulnya, mengelus pundaknya, mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
_____
Dirumah.
"Kemana mama? Kenapa rumah sepi begini?" ucap papa Ali celingukan melihat setiap sudut rumah, namun tak menemukan siapapun.
"Tuan, nyonya Mutia dibawa ke Rumah Sakit karena pingsan." ucap bibik Mirna memberitahu papa Ali. Ya, sebelum Tiara pergi tadi, ia telah menitipkan pesan padanya melalui memo yang ditempelnya dipintu depan.
"Baiklah bik. Saya akan segera kesana. Apa Bayu juga sudah ada disana?" tanya papa Ali yang mendapat gelengan kepala dari si bibik, lalu beliau segera berlari menunju mobil dan melajukannya dengan cukup kencang.
"Arrrgh! Kenapa ponselku harus mati!" kesal papa Ali yang hendak berniat untuk menghubungi menantunya, seraya melemparkan ponselnya kekursi belakang. "Mutia kamu baik-baik saja kan, nak?"
_____
"Dengan keluarga pasien nyonya Mutia?" tanya sang Dokter yang baru saja keluar.
"Ya, kami keluarganya Dokter, bagaimana kaadaan anak saya?" tanya mama tak sabaran.
"Kami membutuhkan suami atau keluarga pasien untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi caesar segera." kata Dokter.
__ADS_1
"Tapi Dok, kakak ipar saya sedang bekerja dan tidak bisa dihubungi, lalu apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanyaku yang bingung dengan kakak ipar, disaat istrinya sedang membutuhkan kehadirannya disisinya seperti saat ini malah tak ada kabar beritanya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan semakin dekat, aku menolehkan arah pandanganku kearah langkah kaki tersebut.
"Papa?" gumamku yang kecewa karena bukan Kakak ipar yang datang terlebih dulu, tapi malah papa.
"Dokter, bagaimana kalau Ayah pasien yang menandatanganinya?" tanya mama kepada Dokter.
"Yang pasien butuhkan saat ini adalah tindakan operasi secepatnya karena ini sangat berisiko untuk nyawa si ibu maupun bayinya." ucap Dokter tegas kemudian dengan segera papa pergi untuk mengurus dan menandatangani persetujuan operasi. Saat kak Mutia telah dipindahkan keruang operasi dan operasi berlangsung kami merasa sangat khawatir dan terus mendoakan yang terbaik untuk kak Mutia dan juga bayinya.
"Bagaimana keadaan istri dan bayiku?" tanya seseorang kepada kami.
"Tenang nak Bayu, Dokter sedang berusaha didalam sana. Dan istrimu, dia sedang berjuang antara hidup dan mati." kata papa tetap pada posisi duduknya. Kakak ipar pun tak kalah khawatirnya, ia mondar- mandir, jalan kesana-kemari selama operasi masih berlangsung.
"Maafkan aku Mutia, aku tak bisa berada disisimu saat kamu dalam masa sulit." gumamnya yang telah berdiri didepan pintu sembari memegang kaca dengan kedua tangannya, seolah dia melihat kak Mutia berdiri dibalik pintu kaca itu.
----------------------------------------
Jangan lupa tinggalkan like ya readers.
__ADS_1
Happy reading