Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Tidak Bisa untuk Tidak Mencintaimu


__ADS_3

Maaf ya readers baru sempat up setelah beberapa hari, dikarenakan author sedang sakit.


Happy reading


_____________________________________


"Ma, pa, Tiara, aku berangkat dulu. Sayang, papa pergi kerja dulu, besok kita jalan-jalan sama mama dan nenek juga kakek." ucap kak Bayu lalu mencium kening Mutiara. Hanya Mutiara.


"Iya Bay, hati-hati dijalan. Dan ingat untuk pulang lebih awal!" ucap papa Surya.


'Apa kak Bayu marah padaku? Bukannya kemarin saat mengantarku . . .. Arghh, apa yang sedang aku pikirkan ini?' ucapku dalam hati, aku memandangi punggung yang hampir tak terlihat lagi, tanpa aku sadari dua pasang mata memperhatikanku.


"Nak, ada apa?" tanya papa Surya.


"Tiara?" panggil mama Sekar sedikit berteriak karena aku tak merespon pertanyaan papa Surya.


"Aaaa. Iya ma, ada apa?"


"Kamu kenapa, kok melamun?" jawab mama Sekar bertanya.


"Tidak apa-apa. Ma, pa, Tiara juga berangkat dulu ya?" pamitku pada keduanya dan hanya mendapat anggukan, lalu keduanya saling menatap satu sama lain seakan berfikir ada apa gerangan dengan sikapku. Aku segera berlari dan berharap kak Bayu masih berada diteras depan.


_____


"Pak Somad! Antar Tiara ke Kliniknya dan jemput dia pukul 14.00 WIB." ucap Bayu pada pak Somad yang tengah mengelap mobil.


"Baik tuan Bayu." jawab pak Somad.

__ADS_1


"Kak Bayu?" teriakku mendekat saat melihat kak Bayu masih diluar mobil.


"Ada apa, Ra? Berangkatlah dengan pak Somad! Aku sedang terburu-turu, aku berangkat dulu!" ucap kak Bayu.


"Mari Nyonya Tiara kita berangkat!" kata pak Somad yang telah membukakan pintu.


"Ayo pak!" ucapku saat melihat kak Bayu sudah masuk kemobilnya dan mulai menyalakan mesin.


Mobilku berjalan dibelakang mobil kak Bayu. Aku melihatnya mengemudi dengan kencang, hingga mobilku terhenti saat mendapati bagian lampu merah menyala.


'Sepenting apakah kliennya? Dia bahkan sampai membahayakan nyawanya sendiri. Apa dia tidak berfikir? Dia seorang ayah dan juga suami. Ada orang yang selalu menunggunya.' umpatku panik dalam hati, saat melihat mobilnya menerobos lampu merah.


_____


"Pak Somat, nanti jemput saya jam tiga ya!" pintaku.


"Jam dua? Baiklah." ucapku pasrah, Aku keluar dari mobil setelah pak Somad membuka pintuku dan segera berlalu saat telah mengucapkan "terimakasih".


"Selamat pagi bu Dokter Tiara. Tidak diantar suami, bu Dokter?" ucap pak Anto menyapa.


"Pagi pak Anto. Tidak pak Anto, suami lagi sibuk banyak kerjaan. Mari pak Anto!"


"Tiara?" suara tiba-tiba yang sangat aku kenal memanggil namaku dengan lantang, aku menoleh ke belang dan benar saja orang itu sangat aku aku kenal.


"Kak Panji? Ada apa datang kemari sepagi ini?" tanya heran dan kaget pastinya.


"Tiara, kita bisa bicara sebentar? Just five minutes only, Ra. Please!" ucapnya memohon.

__ADS_1


"Baik. Ayo kita bicara dikantin saja!" jawabku setelah beberapa detik berfikir.


Kami berjalan beriringan menuju kantin yang ada di Klinik ini. Antara senang dan tidak, begitulah perasaanku saat ini. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku tahu akulah yang salah atas apa yang terjadi pada hubungan kami berdua, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku istri sah kak Bayu sekarang.


"Katakan ada apa kak?" ucapku setelah duduk dan memesan minuman, bahkan sampai sudah tersaji diatas meja.


"Ra? Aku tahu diantara kita berdua telah berakhir, tapi aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu. Meski aku tahu pada akhirnya kamu akan mencintainya dan bahagia bersamanya nanti, tapi aku tetap tidak bisa menghapusmu dari hatiku. Namamu singgah terlalu dalam dilubuk hatiku, Ra. Dan aku tidak bisa berhenti untuk mencintaimu. Aku akan berusaha melawan diriku sendiri demi kamu, Ra. Aku ingin kamu bahagia, meski itu dengan orang selain aku. Aku akan berusaha melepasmu dengan ikhlas. Aku harap kamu tetap akan berhubungan baik denganku dan mau menerimaku sebagai kakakmu." ucap kak Panji sukses membuatku berderai air mata.


'Maafkan aku, kak Panji. Aku telah melukai dan mematahkan hatimu, hati orang yang sangat begitu baik.' ucapku dalam hati membuat air mataku jatuh semakin deras.


"Tiara?" ucapnya hendak menghapus air mataku, namun dengan cepat aku menghapus sendiri dengan kedua tanganku.


"Maaf kak, aku harus bekerja sekarang. Permisi." ucapku meninggalkan kak Panji yang masih setia dengan posisinya dan memandangiku hingga benar-benar tak terlihat.


"Kamu tahu betul Ra, bahwa aku sangat mencintaimu. Dan aku bisa melihat cintamu masih untukku. Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untukmu dan kamu berusahalah menjadi adik yang baik untukku." ucapnya sebelum akhirnya berlalu.


Aku memasuki ruanganku dan berlari menuju toilet. Aku menangis sejadi-jadinya dan setelah merasa lebih baik aku segera keluar, bersiap mulai melakukan pekerjaanku.


,


,


,


,


Ok guys, dukung terus MuB dengan cara like dan vote. Terimakasih dan selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2