
Aku melangkahkan kakiku keluar kamar, menuruni setiap anak tangga, ada rasa takut setiap aku menuruni tiap anak tangga hingga saat aku berhenti ketika aku kembali melihat kenyataan yang kini ada dihadapanku.
'Apa lagi ini? Apa aku masih dialam mimpi dan belum terbangun dari tidurku?' kataku dalam hati.
"Mama!" ucapku lemas duduk dipertengahan tangga. Mama yang mendengarku memanggilnya segera mendekat padaku.
"Tiara apa yang kamu lakukan disini, nak? Ayo kita kembali kekamarmu!"
"Ma, tolong katakan jika ini hanya mimpi, ma! Mama, bangunkan Tiara! Tolong bebaskan Tiara dari mimpi buruk ini, ma!" teriakku histeris.
"Sayang, kamu harus kuat, yang ikhlas nak, biarkan kakakmu bahagia disana." kata mama menasehatiku.
"Mama? Kenapa bicara seperti itu, ma? Tolong bangunkan kakakku, ma! Jangan biarkan dia pergi walau hanya dalam mimpi sekalipun!"
"Nak tenanglah, ayo turun! Duduklah dibawah bersama mamamu dan ikut doakan kakakmu!" pinta papa menuntunku duduk diantara mama dan para tetangga yang sedang berdoa didepan jenazah kak Mutia.
"Pa, Tiara tidak bisa terima kepergian kakak yang mendadak seperti ini." ucapku masih tetap menangis.
"Kamu harus mengikhlaskannya Ra, biarkan Mutia tenang dialam sana." ucap kakak ipar tiba-tiba kepadaku dengan suara seraknya.
"Kak Bayu mencintai kakakku, bukan? Kenapa kakak membiarkanya pergi meninggalkan kita semua? Kenapa kakak biarkan kakakku pergi? ka- . . .." belum selesai bicara dengan kakak ipar, aku kembali pingsan lagi.
__ADS_1
_____
Dikamarku,
"Tiara, bangun sayang jangan buat mama semakin terpuruk dengan keadaanmu yang seperti ini, cukup untuk kehilangan kakakmu saja." ucap mama sambil memberi cipratan air diwajahku.
"Mama, Tiara sangat menyangi kak Mutia, ma?" gumamku yang mulai membuka mata.
"Mama tahu itu, kami semua juga menyayangi kakakmu, tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan Ra, kita harus bangkit dan tetap hidup untuk yang masih hidup, Ra."
"Mama benar. Ayo kita keluar, ma!" meski awalnya mama ragu, pada akhirnya aku dan mama turun untuk mengikuti upacara pemakaman kak Mutia dan setelah selesai mendoakan mendiang kak Mutia mereka pergi dan hanya tinggallah aku dan kakak ipar saja disini.
"Kak Mutia, maafkan Tiara kak! Tiara tidak bisa melakukan permintaan terakhir kakak. Tapi, Tiara janji sama kakak. Tiara akan mengurus Mutiara seperti anak kandung Tiara sendiri, kak. Tanpa harus Tiara menikah dengan suami kakak."
"Putri kecilku, ini mama sayang. Ibumu pasti sangat bahagia bisa melahirkanmu ke Dunia." ucapku sembari menggendongnya. "Sayang jadi anak yang sholehah ya, biar bisa do'ain ibu kamu yang sudah pergi mendahului kita." ucapku terhenti saat melihat mama memperhatikanku didepan pintu. "Mama?" panggilku tak membuatnya mendekat padaku.
"Ayo nak! Ikut mama sebentar, ada yang mau kami sampaikan padamu." ajak mama Mila, akupun menaruh kembali Mutiara dan mengekor dibelakang mama menuju ruang tengah yang juga telah ada papa dan kakak ipar yang duduk menunggu disana.
"Pa, ada apa? Kenapa mengumpulkan kami disini?" tanyaku bingung.
"Papa dengar mendiang kakakmu memberi pesan terakhir terhadap kalian berdua?" ucap papa pelan dan penuh dengan rasa was-was.
"Pa, Tiara tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin seorang adik menikah dengan suami kakak kandungnya sendiri?" jawabku dengan suara tinggi dan telah beranjak dari tempat dudukku. Semua terlihat syok dengan sikapku.
Hening.
"Tentu bisa nak, apalagi kakakmu sendiri yang menginginkannya sayang, ini yang disebut dengan istilah turun ranjang nak, lagi pula kamu masih sendiri, kasian nanti jika Mutiara tidak memiliki seorang ibu atau punya ibu sambung yang tidak bisa menerimanya dengan baik." tutur mama yang aku rasa memang benar.
"Ma, kakak baru saja meninggal bahkan tanahnya belum kering, tapi kalian malah sibuk mengurus hal aneh seperti ini."
"Ra, ini bukan hal aneh! Ini amanat yang diberikan oleh kakakmu kepadamu, menikah dengan nak Bayu dan membesarkan Mutiara dengan kasih sayang kalian berdua." ucap papa tegas.
"Cukup pa, ma, Tiara lelah. Biarkan Tiara istirahat dan memikirkan hal ini dulu." pamitku berlalu pergi.
"Nak Bayu, maaf. Bagaimana pendapatmu tentang pesan terakhir mendiang istrimu." tanya papa Ali pada menantunya.
"Bayu juga bingung pa, Bayu sudah mencintai Mutia sebagai istri Bayu. Tapi, jujur Bayu masih perlu seseorang untuk membesarkan dan menjaga Mutiara yang masih sangat butuh sosok seorang ibu. Jika memang Tiara tidak ingin melakukannya tolong jangan mendesaknya, pa."
"Kamu yang sabar nak, Tiara hanya butuh waktu dan berilah dia sedikit waktu untuk memikirkannya." kata mama Mila. Setelah selesai membahas hal tersebut mereka pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat.
----------------------------------------
Hai readers jangan lupa like dan komen, ya?
Happy reading
__ADS_1