Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Pasien Darurat


__ADS_3

Bayu dan Tiara telah sampai dirumah. Semua pelayan telah menunggu didepan pintu utama untuk menyambut kedatangan mereka.


"Bu Tiara, bagaimana keadaan baby Mutiara?" tanya Lilis menundukan kepala.


"Lilis, Mutiara tidak apa-apa. Kamu tidak perlu takut. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Meski hanya demam biasa saja, Dokter juga perlu memeriksanya keadaan sebenarnya."


"Syukurlah. Bu Tiara maaf, tadi saya sangat panik saat mengetahui Mutiara demam tinggi, saya langgsung meminta pak Somad mengantarkan ke Rumah Sakit terdekat. Tanpa menelpon atau menunggu pak Bayu atau bu Tiara pulang terlebih dulu."


"Tidak apa-apa, Lis. Hanya ketika Mutiara sakit tetaplah untuk tenang dan jangan panik. Kalian boleh kembali bekerja. Saya sendiri yang akan merawat Mutiara untuk saat ini." ucap Tiara yang membuat semua pelayan menganggukan kepala dan kembali melakukan aktifitas mereka.


_____


Sesampainya dikamar, Tiara mengelap tubuh Mutiara yang kini terbaring diatas ranjang, memaikan minyak juga bedak dan memakaikan pakaian. Tak lupa ia juga memakaikan sarung tangan dan sarung kakinya. Bayu tak henti memperhatikan keduanya dengan begitu jeli dari sofa kamarnya.



"Kenapa kak Bayu?" tanya Tiara tanpa mengalihkan pandangannya. "Anak mama sudah cantik." imbuhnya menggendong, mencium lalu memberi susu pada Mutiara.


"Tidak. Apa putri kita baik-baik saja?"


"Tentu. Dokter sudah mengatakannya tadi."


"Dokter Ryan? Apa dia bekas pacarmu?"


"Kenapa kak Bayu bertanya begitu? Kami hanya teman biasa, teman satu fakultas saja."


"Tidak. Dia terlihat sangat kaget saat aku bilang kamu ibunya."


"Tentu. Aku bahkan belum pernah hamil sebelumnya." jawab Tiara apa adanya, Bayu berdiri mendekatinya. "Tapi, aku sangat menyayanginya. Dia adalah putri kecilku. Meski tidak lahir dari rahimku tapi aku akan selalu menyanginya seperti putri kandungku sendiri." imbuh Tiara tak ingin Bayu salah paham.


"putri kecil kita." tegas Bayu yang kini memeluk Tiara dari belakang dan memandang mata putrinya.


"Baik. Mutiara putri kecil kita. Kak Bayu, lekaslah pergi mandi!" perintah Tiara agar Bayu segera melepas pelukannya.


"Tentu. Tunggu! Kenapa mereka tadi begitu lama memeriksanya, jika memang benar Mutiara baik-baik saja?" ucap Bayu tanpa melepas pelukannya dan memandang sembarang arah.


"Kak Bayu, demam pada bayi yang berusia kurang dari 3 bulan perlu segera diperiksa Dokter, karena demam pada usia ini bisa menandakan bahwa bayi mengalami kondisi yang serius. Bayi berusia 3 bulan ke bawah belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Ini memungkinkan kuman dan virus dapat lebih mudah menyebar dan merusak jaringan tubuhnya dengan cepat. Bayi yang masih kecil juga tidak menunjukkan tanda-tanda khusus jika mengalami infeksi yang parah. Jadi dibutuhkan tes darah atau tes urine untuk mengetahui apakah ada infeksi serius, seperti meningitis atau pneumonia." tutur Tiara memberi Bayu penjelasan.


"Aaarghhh. Aku bahkan sampai lupa jika dirumah ini ada seorang Dokter. Apa mereka melakukan kedua hal itu pada putri kecil kita?"

__ADS_1


"Benarkah kak Bayu lupa itu? Bagaimana bisa demikian? Tentu saja itu tidak akan dilakukannya, kak Bayu. Putri kita ini baik-baik saja. Benar kan, Mutiara sayang? Tentu itu Benar. Sekarang kak Bayu cepatlah pergi mandi!"


"Aku tidak benar-benar lupa. Baiklah aku pergi mandi."


"Kak Bayu!" Bayu berhenti melangkahkan kaki dan menoleh memandang istrinya.


"Maaf untuk kejadian semalam dan terimakasih untuk mobilnya, aku menyukainya dan berjanji tidak akan membuatnya tergores meski hanya sedikit saja." Bayu mengangguk dan tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya kembali. Ya, tadi pagi pak Somad memberi sebuah kunci mobil titipan kak Bayu, saat Tiara memintanya mengantar ke Klinik. Tiara tidak mungkin menolak pemberian suaminya kan? Apalagi saat itu Bayu sedang dalam mode marah. Apa jadinya, jika ia menolak mobil itu? Mungkin akan membuat Bayu semakin marah nantinya.


_____


Pagi harinya baik Tiara maupun Bayu telah duduk berada dimeja makan. Mereka telah rapi dengan pakaian formal masing-masing dan siap sarapan pagi.



"Apa kamu tidak ingin tinggal dirumah saja dulu?"


"Tidak kak Bayu. Mutiara sudah pulih. Dia akan baik-baik saja, aku juga akan berangkat siang dan pulang lebih awal nanti." jawab Tiara mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Hari ini aku mungkin akan pulang larut."


"Kenapa? Apa ada masalah di Kantor?"


"Tidak. Hanya sedang banyak pekerjaan yang harus aku tangani." Tiara menganggukan kepala.


"Hati-hati dijalan!"


"Kamu yang harus berhati-hati. Jangan bawa mobil kencang-kencang!"


"Iya. Aku sudah berjanji tidak akan membuatnya lecet, bukan?" Tiara menjawabnya dengan tersenyum dan Bayu hanya bisa ikut tersenyum melihat dan mendengarnya.


"Mutiara sayang, papa mau berangkat ke Kantor tuh. Cium papa dulu, ya." Tiara mengambil alih Mutiara dari gendongan Lilis dan mengantar Bayu hingga depan pintu utama.


"Sayang, papa berangkat dulu. Jangan sakit lagi ya." ucap Bayu mencium kedua pipi gembulnya dan kening Mutiara.


"Iya papa, Mutiara akan minum vitamin agar tetap sehat. Papa hati-hati dijalan!" ucap Tiara dengan suara yang dibuat-buat. Bayu tersenyum, mengelus lembut rambut Tiara dan mengecup kening Tiara cukup lama.


"Aku pergi!" Bayu mencubit kedua pipi Tiara, hingga membuatnya meringis kesakitan dan menggerutu tak jelas.


"Ehm. Papamu sudah pergi kerja, Mutiara sama mama dan mbak Lilis dulu ya." ucap Tiara saat mobil Bayu melaju keluar pekarangan rumah.

__ADS_1


"Bu Tiara tidak pergi ke Klinik?" tanya Lilis.


"Berangkat Lis, nanti agak siangan. Pengen ajak Mutiara dulu, sebentar. Lilis, bisa tolong ambilkan vitamin Mutiara dikamar saya?"


"Iya bu Tiara. Saya ambilkan. Saya permisi."


"Nyonya Tiara, ada telepon dari Klinik." ucap mbak Lastri. Tiara segera melangkah pada telpon rumahnya.


"Hallo, dengan Dokter Tiara disini."


"Dokter, ada pasien darurat yang harus segera ditangani."


"Baik. Kalian lakukan langkah awal. Aku akan segera sampai dalam beberapa menit." Tiara menutup telpon dan segera bergegas.


"Lilis!" seru Tiara sedikit berteriak.


"Saya terburu-buru. Tolong beri vitaminnya pada Mutiara. Sayang, mama pergi dulu ya, nak." Tiara menyiuminya dan pergi keatas untuk mengambil tas dan kunci mobilnya, saat Lilis telah mengambil alih Mutiara dan ia kembali kebawah dengan sedikit berlari kecil.


"Pagi nyonya Tiara, kok tergesa begitu? Perlu saya antar, nyonya?" ucap pak Somad yang sedang mengelap mobil dan memberi tawaran saat melihat nonyanya.


"Tidak perlu pak Somad, akan lebih cepat bila saya berangkat sendiri." tolak Tiara. Ia mulai menjalankan mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"Maaf sayang, karena ada pasien darurat mama terpaksa harus meninggalkanmu." gerutu Tiara terus melajukan mobil dan menambah kecepatan tak ingin membuang waktu terlalu lama dijalan.



.


.


.


.


.


.


Para readers yang author sayangi. Maafkan author yang tidak bisa up rutin tiap hari. Semoga kalian bisa memakluminya.

__ADS_1


Tetap stay di MuB ya readers.


Happy reading


__ADS_2