Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Menu Favorit Keluarga


__ADS_3

Siang ini, aku menemani Mutiara yang sedang tertidur sementara kak Bayu, aku lihat terakhir kali masuk ruang gym.


"Jam berapa sekarang? Aku seperti telah tertidur sangat lama." gerutuku menoleh jam beker diatas nakas yang menunjukan pukul 15.59 WIB.


"Aku akan buatkan susu untuk Mutiara dulu sebelum dia terbangun." ucapku menaruh bantal disisi kanan kirinya, memang kasurnya besar tapi jangan lupakan tingginya yang tak seberapa namun, sangat berbahaya untuk Mutiara yang terlalu mungil.


_____


"Nyonya Tiara sedang apa?" tanya mbok Inah.


"Buat susu untuk Mutiara, mbok."


"Nyonya, mau dimasakan apa saja untuk makan malam nanti?"


"Ehm, apa persediaan dikulkas masih lengkap mbok?"


"Iya nyonya, tadi pagi saya habis belanja di Pasar."


"Ya sudah mbok, nanti saya bantu masaknya karena mama dan papa disini jadi kita harus memasak lebih banyak."


"Tidak perlu nyonya, nanti biar mbak Lastri yang bantu-bantu saya."


"Tidak apa-apa, saya juga ingin memasak untuk papa dan mama."


"Baik nyonya."


"Saya keatas dulu mbok, takut Mutiara sudah bangun."


"Iya nyonya, monggo."


_____


Setelah aku masuk kamar, aku mendapati kak Bayu telah memangku putrinya duduk ditepi ranjang.


"Kakak pasti membangunkannya?" tuduhku.

__ADS_1


"Iya, habisnya Mutiara gemesin kalau lagi tidur, lagi pula ini sudah jam mandinya."


"Kak Bayu, lain kali jangan begitu atau dia akan rewel nanti!" larangku.


"Buktinya, Mutiara happy-happy saja. Coba sini lihat!"


"Terserah kakak, ini susu untuk Mutiara. Aku akan menyiapkan perlengkapan mandinya dulu." ucapku menaruh susunya diatas nakas dan berjalan menuju almari Mutiara mengambil pakaiannya lalu kekamar mandi untuk menyiapkan air.


"Mutiara sayang, mandi dulu sama mama ya, nak?" ucapku setelah beberapa menit, mengambil Mutiara dari pangkuan kak Bayu dan membaringkannya diranjang untuk melepas pakaiannya.


"Lepas dulu bajunya cantik. Uluh, perutnya Mutiara buncit ya, nak? Tadi, habis tidak susunya?" ucapku yang jelas tak mendapat respon dari Mutiara. Saat semua pakaian telah terlepas dari tubuhnya aku membawanya masuk kamar mandi sementara kak Bayu mendudukan diri disofa kamar sambil membaca buku.



"Sudah selesai mandi anak papa? Ehmm, wanginya." ucapnya kala aku memberi minyak dan bedak pada tubuh mungilnya.


Tok. Tok. Tok.


"Tiara sayang mama masuk, ya?" teriak mama Sekar dari luar. Dan, tanpa kami menjawab mama Sekar sudah berada disatu ruang yang sama dengan kami.


"Aduh, cucu oma sudah cantik, nak. Ikut oma, ya sayang? Kita main sama opa dibawah."


"Tiara, bolehkan mama mengajaknya turun?"


"Boleh ma, lagian Tiara udah janji mau bantu mbok Inah masak didapur."


"Denger itu Bay, istri kamu saja ngebolehin kok."


"Aku ini papanya ma, aku juga berhak!"


"Kak Bayu, biarkan mama mengajaknya dulu. Lagipula kakak hanya akan membuatnya menangis saja nanti."


"Tiara!"


"Sudah! Kalian berdua kenapa jadi berdebat. Sudah, buat lagi saja adik untuk Mutiara! Biar nanti masing-masing pegang sendiri."

__ADS_1


"Mama, Mutiara masih terlalu kecil untuk mendapat seorang adik."


"Bayu, nanti saat Mutiara berumur 1 tahun adiknya baru akan lahir bukan?"


"Mama, Tiara turun dulu! Pasti mbok Inah sudah menunggu dan bingung mau memasak apa?" ucapku menghindar dari topik yang membuatku tidak nyaman lagi.


"Owh. Iya Tiara sayang, pergilah! Mama akan menjaga cucu oma." jawab mama Sekar, aku segera meninggalkan mama Sekar bersama Mutiara dan kak Bayu.


"Bayu, apa tadi mama salah bicara?"


"Tentu!"


"Kok, Bayu begitu sama mama?"


"Mama lagian bahas soal adik untuk Mutiara didepan Tiara. Untuk apa?"


"Apa?"


"Mama Tiara, . . .."


"Tiara kenapa nak? Apa dia tidak mau memiliki anak dan melahirkan?"


"Mama jangan bahas masalah ini lagi, ya? Apalagi didepan Tiara, biarkan kami fokus pada Mutiara dulu, ma." ucap Bayu lalu keluar menuju ruang kerjanya. Ya, karena dia belum masuk kerja jadi hanya akan mengontrol pekrjaannya dari rumah saja.


_____


"Mbok, sudah mulai masak?" tanyaku saat memasuki dapur.


"Nyonya, ini baru ngupas bawang merah sama bawang putih, nyonya mau masak apa saja?"


'Mama sama papa sukanya apa, ya?' pikirku dalam hati.


"Bibik masak cah kangkung sama gulai ayam saja, nanti saya akan masak udang asam pedas sama goreng ikan, tahu, dan tempe."


"Baik nyonya." jawabnya, aku segera memakai clemek dan beraksi dengan ikan dan udang yang merupakan menu favorite keluarga kak Bayu.

__ADS_1


'Untung aku masih ingat saat kakak memberitahu apa menu favorit keluarga kak Bayu.' ucapku dalam hati.


Selesai memasak aku menata kedalam piring saji dan menyajikannya dengan rapi diatas meja makan.


__ADS_2