Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Apa Tadi Aku Sedang Mimpi Buruk?


__ADS_3


Setelah beberapa jam berada didalam ruang operasi, akhirnya Dokter membuka pintunya dan kami berlari ke arah sang Dokter.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya kakak ipar.


"Dokter bagaimana? Apa operasi berjalan lancar Dok?" tanya mama dan papa saling bersautan.


"Dokter bagaimana keadaan kakak dan juga keponakanku?" kali ini aku pun ikut bersuara.


Dan begitulah kiranya sederet pertanyaan yang didapat Dokter itu ketika keluar dari ruang operasi.


"Kalian tenang saja ibu dan bayi selamat. Tapi, kondisi ibu bayi saat ini sedang kritis, dia mengalami pendarahan hebat." tutur sang Dokter membuat kami merasa sedih pada akhirnya.


"Dokter tolong selamatkan istriku! Aku mohon! Lakukan apapun dan berapupun biayanya, lakukanlah yang terbaik untuknya!" titah sang suami.


"Tentu. Itu pasti kami lakukan." jawab sang Dokter.


"Dokter? Pasien saat ini ingin bertemu dengan suami dan adiknya, Dok!" kata seorang suster yang baru saja keluar dari ruang operasi, dan karena Dokter telah memberikan izin maka kami berdua, aku dan kakak ipar segera masuk.

__ADS_1


Terlihat sosok wanita kuat yang terbaring lemah tak berdaya. Wajah ayunya dulu terlihat pucat pasi. Aku tak kuasa melihatnya lebih lama.


"Sayang, terimakasih untuk hadiah indah darimu, kamu harus segera sembuh agar bisa dengan cepat merawat putri kita sayang!" kata kakak ipar seraya memegang kedua tangan kak Mutia dan mencium keningnya berulang kali hingga kak Mutia menyadari keberadaanku yang masih diambang pintu.


"Ra, ke-ma-ri-lah!" ucap kak Mutia terbata karena menahan rasa sakit yang dirasakannya saat ini.


Aku mendekat tak kuasa menatap wajahnya. "Kakak, istirahatlah agar kakak cepat pulih! Jangan banyak berbicara dulu. Istirahatlah yang cukup. Aku senang kak Tia memberiku keponakan yang sangat cantik dan menggemaskan. Cepatlah pulih kak Tia!"


"Tiara, berjanjilah satu hal dengan kakak."


"Apa itu kak Tia? Jika aku bisa melakukannya, aku berjanji dengan senang hati akan melakukan semua hal yang kakak mau."


"Sayang, apa yang kamu katakan? Kita akan merawatnya bersama, tidak perlu orang lain. Baby sister, Tiara, ataupun orang lain tak akan merawat anak kita, karena kita sendirilah yang akan merawat dan membesarkannya sayang."


"Kak Tia, kakak jangan berfikir yang tidak-tidak. Tiara tidak akan mungkin menikah dengan suami kak Tia. Bagaimana dengan perasaan kak Panji nanti, kalau dia sampai tahu aku menikah dengan kakak iparku sendiri? Kakak harus sembuh dan kakak pasti sembuh! Kakak harus merawat juga membesarkan putri kakak sendiri! Jangan lagi meminta Tiara untuk melakukan hal seperti itu, aku tak bisa dan tidak mau kak Tia, kakak harus bertahan dan sembuh demi putri kakak!" kataku yang tak bisa lagi menahan tangisanku yang semakin menjadi.


"Ra, mas Bayu, Mutia mohon. Mutia merasa sangat kesakitan dan tidak kuat lagi mas Bayu, Tiara, berjanjilah untuk itu dan aku minta agar kalian memberi nama putri kita Mutiara, karena aku sangat ingin baik Mutia dan Tiara akan ada selalu untuk kamu mas Bayu dan biarkan Mutiara terlahir untuk mas Bayu, Ra. Berjanjilah untukku, Ra! Kakak yakin mas Bayu bisa membahagiakanmu dan anak-anak kelak." ucap kak Mutia yang kemudian menutup matanya diringi layar monitor yang menunjukan garis lurus. Seketika aku berteriak keras dan kakak ipar yang tak percaya dengan kejadian ini pun mengguncang tubuh kak Mutia dan memintanya agar bangun demi dirinya dan juga bayi mungilnya.


"Mutia bangun! Kamu harus memberi asi putri kita, memandikannya, mengganti popok saat dia ngompol, menyiapkan pakaian dan makananku, juga menemaniku sampai kita tua bersama. Mutia, bangun! Aku mohon, demi aku dan putri kita. Bangunlah Mutia! Aku tahu kamu tak bahagai hidup denganku, tapi aku mohon bangunlah untuk putrimu!" ucap kakak ipar memohon pada kak Mutia yang sudah jelas tak bisa lagi menjawab perkataannya. Pandanganku mulai buyar, kakiku terasa sangat lemas hingga tak kuat lagi menopang tubuhku sendiri. Aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


-----


Saat aku membuka kedua mataku, aku telah berada didalam kamarku. Aku mencoba mendudukan tubuhku yang terasa begitu lemas.


'Apa aku tadi sedang bermimpi? Kenapa mimpiku terlihat begitu nyata dan sangat lama? Apa kak Mutia baik-baik saja? Dimana mereka semua?' gumamku dalam hati, pertanyaan seperti itulah yang kini ada dikepalaku, aku merasa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi buruk yang tak akan pernah aku ingin mimpikan lagi, apalagi jika harus sampai sungguh-sungguh terjadi. Itu akan sangat menyakitkan bagiku.


,


,


,


,


Ok. Readers apa yang sedang Tiara alami sebenarnya? Ini sungguhan atau hanya sebatas mimpi?


Jangan lupa tinggalkan like dan komen dibawah !!!


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2