Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Kecewa


__ADS_3

"Ini sudah jam 16.39 WIB dan kak Bayu belum juga keluar dari ruang kerjanya." ucapku menghawatirkannya. Aku segera menghampirinya keruang kerja.


"Kak Bayu, buka pintunya! Kak Bayu! Kakak baik-baik saja kan didalam?" teriakku tak mendapat respon.


"Mbok Sumi!"


"Mbok Sumi!" teriakku lagi sekuat tenaga.


"Saya nyonya." ucapnya saat telah berdiri dihadapanku.


"Mbok Sumi, punya kunci cadangan pintu ruangan ini, bukan? Ambilkan sekarang juga!" perintahku pada mbok Sumi yang mengangguk dan berlari untuk mengambilkan kuncinya.


"Nyonya ini kuncinya!" ucapnya setelah beberapa saat.


"Kenapa banyak sekali mbok Sumi? Yang mana kunci pintu ruangan ini?" ucapku sambil mencoba satu persatu dari sekian banyak kunci itu.


"Maaf nyonya, apa yang sedang terjadi? Kenapa nyonya terlihat sangat khawatir?" tanya mbok Sumi padaku.


"Pak Bayu ada didalam mbok, dia melewatkan makan siangnya dan mengunci diri diruangan ini, saya takut sakit maghnya kambuh, mbok." ucapku apa adanya.


"Apa saya minta Jamal mendobrak pintunya saja."


"Tidak perlu mbok sudah terbuka." ucapku lalu aku masuk keruang kerja kak Bayu diikuti mbok Sumi dibelakangku.


"Nyonya, tuan sedang tidur atau pingsan?" tanyanya melihat kak Bayu menyandarkan tubuhnya dikursi kerja dan memejamkan kedua matanya.


"Kak Bayu! Kak Bayu bangun! Jangan buat Tiara takut! Kak Bayu!" teriakku membangunkan kak Bayu.


"Mbok, bantu saya papah bapak kekamar!" ucapku lalu kami memapahnya membawa kekamar.

__ADS_1


_____


Setelah sampai dikamar, aku membaringkan tubuhnya perlahan diranjang dan menyelimutinya.


"Nyonya apa perlu saya panggilkan Dokter?"


"Tidak perlu mbok, saya yang akan memeriksanya keadaannya, mbok Sumi lanjutkan saja pekerjaan mbok Sumi!" ucapku lalu mengambail tas alat periksaku. Ya, meski aku dokter anak aku bisa menangani penyakit yang diderita kak Bayu.


"Aku sudah bilang bukan jangan tinggalkan makan siangmu! Sekarang lihatlah apa yang terjadi! Kenapa kakak harus menyiksa diri sendiri untuk hal yang sepele? Kesehatan itu adalah hal utama." gerutu saat memeriksa keadaannya. Setelah itu, aku memberinya obat yang memang selalu kak Bayu siapkan jika sewaktu-waktu kambuh dan membiarkannya untuk istirahat.


"Tidurlah! Aku akan buatkan bubur untukmu."


_____


"Nonya, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Inem juru masak disini.


"Tidak perlu, saya hanya mau membuat bubur saja." ucapku mulai memasak.


"Kak Bayu, bangun! Ayo makan dulu! Tiara buatkan bubur untuk kak Bayu." ucapku membangunkan kak Bayu yang mulai membuka mata perlahan.


"Ra . . .."


"Sudah! Kak Bayu jangan banyak bicara padaku! Buka mulut kakak!" ucapku menyodorkan bubur dimulutnya dan ia mulai membuka mulut, memakan buburnya hingga habis tanpa tersisa, lalu aku mengambilkan air putih yang ada diatas nakas.


"Ra, maafkan aku."


"Tiara tidak marah, Tiara hanya kecewa dengan sikap kakak. Menyiksa diri sendiri hanya karena masalah sepele. Kakak tahu sehat itu harganya sangatlah mahal. Kenapa kak Bayu harus mengorbankan kesehatan kakak untuk masalah kecil? Aku tidak suka kakak seperti itu." ucapku lembut namun penuh penekanan.


"Tiara, aku hanya ingin kamu melakukan apa yang Mutia lakukan!" jawabnya. Sementara aku hanya menatapnya pedih.

__ADS_1


"Apa maksud kakak, aku adalah aku dan bukan kak Mutia atau orang lain. Biarkan aku jadi diriku sendiri kak. Dan kakak sudah memamakai banyak pelayan bukan? Masak, bersih-bersih, mengurus Tiara, semua ada tugasnya masing-masing. Lalu, untuk apa gunanya aku berada disini?"


"Aku tidak mungkin membiarkanmu mengurus rumah ini sendirian Ra, kamu hanya akan mengurusku dan Mutiara, Lilis hanya akan membantumu saja. Kamu jangan salah paham."


"Terserah kak Bayu, ini rumah kakak aku tidak berhak atas apapun disini!" ucapku meninggalkan kak Bayu sendiri dikamar.


_____


"Mutiara, mama kangen kamu sayang." ucapku saat masuk kamar Mutiara.


"Mutiara ternyata nyenengin ya bu. Tidak rewel." puji Lilis.


"Iya dong mbak Lilis, kan anak mama pinter. Ya, sayang?" ucapku mengecup pipi gembulnya.


"Mbak Lilis umur berapa? Kayak masih anak sekolah saja?"


"20 tahun bu Tiara, saya anak bu Lastri."


"Owh, kenapa tidak mencari pekerjaan lain?"


"Saya hanya orang miskin yang tak mampu sekolah tinggi bu Tiara, beruntung pak Bayu menerima kami berdua, pak Bayu orang yang baik, bersyukur sekali ibu Tiara bisa memilikinya sebagai suami."


DEG!


'Apa ini alasan kak Bayu memperkerjakan banyak pelayan dirumahnya?' gumamku dalam hati.


"Bu Tiara, kenapa bengong bu? Apa saya salah bicara? Maafkan saya bu yang sudah lancang!"


"Tidak Lis, saya baik-baik saja. Ya sudah Lis, biar saya mandikan Mutiara dulu."

__ADS_1


"Baik bu Tiara, saya akan membantu ibu saya dulu." pamitnya lalu pergi meninggalkan kamar Mutiara.


__ADS_2