Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
She is My Wife


__ADS_3

Kami telah tiba digedung pernikahan rekan bisnis papa Surya. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat sosok yang pagi tadi menemuiku di Klinik sekarang berdiri didepan mataku.


"Hai Tiara, senang bisa bertemu kembali disini. Selamat malam pak Bayu." kak Bayu hanya tersenyum.


"kak Panji disini juga?" tanyaku berusaha tenang.


"Ya, benar pepatah bilang bahwa dunia tak selebar daun kelor, atau memang mungkin kita ini berjodoh, Ra? Owh, tenang pak Bayu, saya hanya sedang menggoda adik saya." ucap kak Panji.


"Adik?" kak Bayu sungguh sangat bingung dengan manusia satu ini. Tentu, aku bahkan tidak pernah menceritakan tentang kak Panji padanya atau bahkan orang lain sekalipun.


"Kak Panji, kami permisi. Kak Bayu, ayo kita cari mama Sekar dan papa Surya!" aku menarik lengan kak Bayu untuk membawanya menjauh dari orang yang sangatku cintai. Kak Bayu memperhatikan raut wajahku yang mendadak berubah.


"Kalian dari mana? Kenapa lama?" tanya mama Sekar saat kami mulai mendudukan diri disampingnya.


"Mama kan yang sengaja meninggalkan kami sedari sejak dirumah." protes kak Bayu kesal.


"Ssttt, jangan berisik! Malu dilihat orang!" kata papa Surya angkat bicara.


"Tiara? Ada apa denganmu, nak? Kenapa matamu berair? Apa Bayu melukaimu?"


"Mama?" elak kak Bayu tak terima.


"Bayu, diam! Kamu apakan istri kamu?" tanya mama Sekar serius.


"Mama, Tiara tidak apa-apa. Tadi, hanya karena terkena butiran debu, nanti juga sembuh sendiri." ucapku tak ingin memperkeruh keadaan.


"Owh, hallo pak Surya Pradana?" ucap seseorang pada papa Surya.


"Mr. Dasson? Senang berjumpa anda disini. Mari bergabung!" ucap papa Surya berbinar menjabat tangannya dan ikut duduk kembali setelah rekannya duduk.


"Is she your wife?" tanyanya menatap mama Sekar.


"Yes, she is my wife. Dan mereka adalah putra dan menantuku." jawab papa Surya memperkenalkan kami.


"Owh, bersyukurlah anda memiliki dua bidadari yang cantik." ucapnya memujiku dan mama Sekar.


"Not two, but three, sir." imbuh papa Surya membuatnya kaget.


"Ahhh, rupanya seorang Surya Pradana memiliki banyak wanita?" jawabnya membuat mata kami saling tatap.


"No. Bukan seperti itu maksud saya. Dia adalah baby berusia satu bulan yang merupakan cucu pertama kami." jelas papa Surya. Seketika tawa renyah keluar dari mulut Mr. Dasson.


"Pak Surya, anda mempermainkan saya rupanya." ucapnya lega.


"No."

__ADS_1


"Apa ini Bayu? Sungguh sangat gagah, seperti duplicate seorang Surya Pradana kala masih muda." pujinya pada kak Bayu.


"Yes, sir." jawab kak Bayu dengan mengangguk.


"Tentu. Dia putraku. Pasti mirip denganku."


"Andai Bayu belum menikah, pasti saya akan bersedia melamarmu untuk putriku." ucapnya dengan raut kecewa.


"Sayang sekali tuan, saya telah menikah dan sudah memiliki putri kecil, diantara kami."


"Ya, saya sungguh menyesal sekarang." ucapnya masih dengan raut wajah kecewa.


"Tidak perlu menyesal, mari kita menikmati hidangannya, Mr."


"Daddy!" suara seorang perempuan berteriak dan mendekat pada meja kami.


"Gia?" ucap kak Bayu sedikit ragu.


"Bay? Serius ini Bayu?" tanpa ragu wanita bernama Gia itu mendekati kak Bayu, memeluk dan memberi ciuman padanya yang masih setia pada posisi awalnya, duduk.


'Aku bahkan belum pernah menyentuh wajahnya.' gerutuku dalam hati. Mama Sekar yang memperhatikan semburat kekecewaan diwajahku hanya bisa tersenyum tipis.


"Gia, duduklah sayang!" pinta Mr. Dasson.


"Maaf semuanya. Bay, bagaimana kabarmu? Lama sudah kita tidak bertemu." ucap Gia.


"Tentu. Aku teman gadisnya selama kuliah di London, tante." jawabnya.


'Teman gadisnya? Apa maksudnya? Pacar atau TTM?' batinku bergejolak.


"Mama, papa, Tiara izin ke toilet sebentar."


"Apa perlu mama temani, nak?"


"Tidak ma, Tiara sendiri saja." ucapku mulai berdiri dan menatap kak Bayu beberapa saat.


"Jangan lama-lama dan segerah kembali!" ucap kak Bayu tersenyum. Aku meninggalkan meja itu tanpa menjawab kalimat kak Bayu.


"Apa dia adikmu, Bay?" tanya Gia dengan PD-nya.


"No, Gia. She is my wife." jawab Bayu datar.


"Uhkkk. uhukkk . . .." Gia tersedak saat mendengar pernyataan dari Bayu.


"Hati-hati saat makan, sayang!" ucap Mr. Dasson memberinya air putih.

__ADS_1


"Maaf!"


_____


Aku mendudukan diri pada sebuah kursi ditaman yang lumayan jauh dari keramaian. Mengabaikan hawa dingin yang menusuk tubuhku.


"Dia bahkan tidak memperkenalkanku pada teman wanitanya itu. Dia juga membiarkan wanita lain menyentuh, bahkan menciumnya." ucap Tiara gusar.


'Tiara, apa yang kamu harapkan darinya? Harusnya kamu sadar! Siapa kamu dimata kak Bayu? Kamu sangat bodoh, Ra!' batinku berteriak. Aku memandang keatas kala tiba-tiba merasa sebuah balutan jas menghangatkan tubuhku.


"Kenapa duduk disini, menyendiri? Apa didalam sangat panas, hingga kau mencari angin disini?" ucapnya yang telah duduk disampingku. "Apa kamu menyesal dengan keputusan yang kamu ambil sekarang?" imbuhnya lagi.


"Apa yang kak Panji katakan? Aku baik-baik saja. Dan, tidak sedang menyesali apapun." elakku atas tuduhan kak Panji.


"Kamu bisa saja membohongi suamimu atau orang lain. Tapi, tidak dengan aku, Ra." ucapnya.


"Kak Panji maaf, aku harus segera kembali. Mereka pasti tengah menghawatirkanku, aku sudah terlalu lama berada disini." aku berdiri dan melepas jas yang membalut tubuhku lalu mengembalikannya pada si pemiliknya.


"Tiara! Sampai kapan kamu akan seperti ini? Terus menghindar dan menyakiti perasaanmu sendiri." Seketika ucapannya berhasil membuat langkahku terhenti, namun setelah mendengar hingga akhir kalimat, aku melangkah kembali.


_____


Aku mendekati meja dimana keluargaku berada. Namun, aku tak lagi melihat sosok Gia dan Mr. Dasson berada disana.


'Mungkin sudah pulang.' pikirku.


"Kenapa sangat lama?" tanya kak Bayu.


"Antri." jawabku berbohong.


"Ayo kita pulang nak, ini sudah malam." ajak mama Sekar. Kami menuju altar dan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai. Lalu, menuju mobil untuk kembali kerumah.


Selama dimobil hingga memasuki kamar, kami berdua hanya saling berdiam diri tanpa berbicara sepatah kata pun. Aku sibuk memikirkan kan Bayu dan begitu pula sebaliknya juga, mungkin. Kami hanya berfikir sesuka hati kami tanpa ada niatan untuk membahasnya.


"Tidurlah! Besok kita akan pergi pagi." aku bahkan hampir lupa jika besok kami akan pergi berlibur bersama keluarga. Aku bangun dan menuju ke lemari.


"Aku memintamu tidur, kenapa kamu malah berkemas? Ayo tidur, aku sangat mengantuk."


"Kak Bayu tidur saja, aku akan melakukannya sendiri." jawabku bersikeras.


"Tiara? Apa kamu tidak bisa jika tidak membantah ucapanku sekali saja? Aku sangat lelah sekarang, kita packing besok saja dan aku janji akan membantumu." aku sadar seharian ini kak Bayu memang sangat sibuk, bahkan aku sendiri merasakan lelah itu. Kami kembali berbaring dikasur dan tidur.


"Kak Bayu, jangan dekat-dekat! Aku gerah." aku yang merasa risih pun mencoba menjauhkan diri dari tubuh kak Bayu.


"Cepatlah tidur!" ucap kak Bayu berbisik ditelingaku membuatku merasa geli ketika itu. Tanpa berkata, kak Bayu memeluk tubuhku dengan sangat erat hingga dia terlelap. Namun, tidak denganku yang masih dibuat bingung dengan sikap kak Bayu sendiri belakangan ini.

__ADS_1


"Kak Bayu? Siapa aku untukmu?" tanyaku menunggu lama jawabnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari kak Bayu, sampai pada akhirnya kedua mataku terpejam dalam pelukan hangat kak Bayu.


__ADS_2