
Aku yang kaget mendengar ucapan mama jadi salah tingkah karenanya. Sementara, aku lihat kak Bayu dia hanya pasrah, mungkin tidak enak bila harus menolak perkataan mama.
"Ma, kak Bayu pasti lelah. Dia baru saja pulang kerja, belum mandi dan ganti baju, bahkan belum sempat istirahat. Dia pulang sore mungkin karena sangat merindukan Mutiara." kataku mencari alasan yang masuk akal.
"Gak papa kok, Ra?" jawab kak Bayu datar.
'Bodoh! Sungguh pria tidak peka.' pikirku.
"Itu kan? Nak Bayu saja tidak keberatan, kamunya saja Ra yang susah dibilangin." ucap mama gemas.
"Ya sudah, kalian berdua pergilah bersiap!" perintah papa. Aku dan kak Bayu melangkahkan kaki kekamar masing-masing.
"Bagaimana dia bisa dengan mudahnya mengiyakan perkataan mama tanpa berusaha untuk menolak? Sungguh pria itu, aku sungguh dibuatnya heran dengan sikapnya itu." ucapku mengomel sambil membongkar isi lemari, entah apa lagi yang merasukiku? Hingga tanpa sadar aku membongkar semua isi lemariku.
"Sayang, kenapa belum bersiap? Dan apa ini? Kenapa semua baju berantakan dilantai?" tanya mama tiba-tiba masuk kamarku.
"Tiara cari baju yang cocok, ma." jawabku sekenanya.
"Ternyata putri mama bersemangat untuk kencan. Biar mama bantu carikan! Kamu pergilah mandi! Mama carikan sekalian merapikan semua pakaianmu ini, sayang." ucap mama yang mulai mencari pakaian yang cocok untukku malam ini, sementara aku bergegas kekamar mandi atau mama akan terus mengomel jika aku salah bicara sedikit saja. Setelah persiapan selesai dan aku mengenakan pakaian pilihan mama aku pun segera turun.
"Wah, lihatlah putri kecil kita pa! Dia sangat cantik!" ucap mama membuat semua orang menoleh padaku dan tak terkecuali kak Bayu yang memperhatikanku dengan tatapan misterius.
Aku berhenti melangkah beberapa waktu melihat kak Bayu yang sedang menatapku, aku jadi grogi sendiri.
Setelah puas dengan tatapan masing-masing kami berdiri bersampingan dan berpamitan pada mama dan papa.
"Pa, ma, Bayu dan Tiara pergi dulu! Kita titip Mutiara." kata kak Bayu penuh sopan dan santun.
"Ya, nak. Kalian hati-hati dijalan!" ucap mama tersenyum bahagia.
"Mutiara sama grandpa and grandma dulu ya sayang? Biar papa dan mamamu jadi anak muda dulu!" ucap papa pada Mutiara. Kak Bayu menatapku mengisyaratkan untuk segera pergi. Kami menuju mobil dan melaju menuju ke Restaurant. Selama diperjalanan tak ada percakapan, seperti biasa jika sudah seperti ini aku hanya akan menyalakan audio dimobilnya untuk mengusih kesunyian.
🎵 separuh langkahku saat ini
berjalan tanpa terhenti
hidupku bagaikan keringnya dunia
tandus tak ada cinta
__ADS_1
hatiku mencari cinta ini
sampai ku temukan yang sejati
walau sampai letih ku kan mencarinya
seorang yang ku cinta
kini ku menemukanmu
di ujung waktu ku patah hati
lelah hati menunggu
cinta yang selamatkan hidupku
kini ku tlah bersamamu
berjanji tuk sehidup semati
sampai akhir sang waktu
kita bersama tuk selamanya
di ujung waktu ku patah hati
lelah hati menunggu
cinta yang selamatkan hidupku)
kini ku menemukanmu
di ujung waktu ku patah hati
lelah hati menunggu
cinta yang selamatkan hidupku
kini ku tlah bersamamu
berjanji tuk sehidup semati
sampai akhir sang waktu
kita bersama tuk selamanya
__ADS_1
sampai akhir sang waktu
kita bersama tuk selamanya
(Lirik Lagu Menemukanmu - Seventeen)
Aku mendengarkanya sembari memandang keluar mengarah jendela mobil, tanpa aku sadari mobil telah berhenti. Saat kak Bayu menutup pintu mobilnya, saat itu pula aku baru menyadarinya.
"Turunlah!" perintah Bayu yang telah membukakan pintu untukku.
"Terimakasih." balasku tersenyum. Kami memasuki Restauran yang berada dilantai atas dibagian balkon sehingga bisa sambil menikmati langit gelap dengan kemerlap cahaya bintang.
"Kamu mau pesan apa, Ra?" tanya kak Bayu padaku saat pelayan berdiri diantara kursi kami.
"Tenderloin Steak and Orange juice!" jawabku karena aku memang suka Steak yang rendah lemak.
"Ok. Tenderloin Steak 1, Striploin Steak 1 dan Orange juice 2!" ucapnya kepada pelayan yang mulai mencatat dan berlalu setelah meminta kita menunggu. Setelah pesanan datang kami mulai makan, tak ada obrolan saat kita makan sesekali kami hanya saling mencuri pandang.
"Tiara?" Suara seseorang memanggilku aku menoleh kearahnya.
"Rizal, Shinta? Kalian berdua disini? Mari duduk bersama kami!" ucapku sembari memeluk dan mencium Sinta dan menyalami Rizal. Mereka adalah teman SMA ku yang juga merupakan teman kak Mutia dan juga kak Panji.
"Ra, dia siapa? Apa dia suamimu? Lalu, dimana Panji?" bisik Sinta ditelingaku, aku hanya tersenyum dengan pertanyaannya. Memang mereka tidak mengetahui kalau Bayu ini adalah kakak iparnya sekaligus calon suaminya.
"Sinta, Rizal kenalkan dia kak Bayu. Kami akan menikah dua minggu lagi. Dan kak Bayu dia Rizal dan ini Sinta yang merupakan teman SMA Tiara dulu." ucapku yang diangguki dan mereka saling menyapa satu sama lain.
"Selamat ya untuk kalian berdua, kalian sangat serasi tampan dan cantik." ucap Sinta.
"Terimakasih." ucapku malu-malu.
"Kami tunggu undangannya, Ra!" timpal Rizal yang hanya mendapat senyum dari kami berdua. Mereka memutuskan untuk pergi dari meja kami, karena tidak ingin mengganggu dan merusak memoment romantis kami, menurut mereka. Suasana kembali hening setelah kepergian mereka, hingga aku akhirnya mengajak kak Bayu untuk pulang.
_____
Sesampainya dirumah, kami masuk kamar masing-masing karena hari sudah sangat larut dan semua orang juga telah tidur. Aku selesai cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka tak lupa gosok gigi (takut si sapi membuat lubang digigi cantiku) setelah beberapa menit berbaring akhirnya aku pun lelap.
,
,
,
,
Jangan kasih kendor jempolnya ya readers!
__ADS_1