Mutiara Untuk Bayu

Mutiara Untuk Bayu
Sah


__ADS_3


"Tiara! Lihatlah kemari!" teriak kak Bayu dari kamarnya.


'Kak Bayu? Kenapa dia teriak-teriak begitu?' tanyaku dalam hati, lalu aku pergi kekamarnya karena memang papa, mama, dan bibik juga belum kembali.


"Kenapa kak Bayu?" tanyaku setelah sampai kamarnya.


"Mutiara, Ra!" ucapnya ketakutan.


"Kenapa Mutiara menangis seperti itu? Apa dia demam? Apa kak Bayu membuatnya terjatuh?" tanyaku khawatir mulai mendekati ranjang kak Bayu dan Mutiara.


"Tidak tahu, semula dia baik-baik saja, mendadak menangis begini aku kan jadi khawatir!" ucap kak Bayu bingung.


"Ya ampun, kak Bayu? Mutiara, dia ngompol!" ucapku setelah mengecek keadaannya.


"Hanya ngompol saja? Kenapa harus menangis seperti ini, sayang?" ucapnya mencolek pipi gembul sang putri.


"Namanya juga masih bayi kak Bayu, bisanya baru nangis saja, ya nak?"


Aku mulai membersihkan putri kecilku, mulai dari mengambil air lalu membersihkan area vitalnya dengan kain yang sangat lembut lalu memasang popok yang baru. Kak Bayu yang memperhatikannya dengan sangat jeli, berpindah menatap wajahku beberapa kali.


"Ra, apa kamu gak merasa jijik atau risih?" tanyanya tiba-tiba.


"Tidak, untuk apa? Apa kak Bayu merasa begitu?" tanyaku melempar kembali perkataannya yang hanya digelengi olehnya.


"Tidak. Hanya saja, kamu kan bukan ibu kandungnya, biasanya orang lain akan tidak suka melakukan hal seperti ini bukan?"


"Kak Bayu, Mutiara sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri, lagipula untuk apa aku harus merasa demikian? Jika kita mengurus anak kita dengan baik maka kelak mereka juga akan mengurus kita dengan baik juga dimasa yang akan datang nanti." ucapku yang membuat kak Bayu bengong, entah dia paham atau tidak dengan penuturanku itu.

__ADS_1


_____


Kini kami sudah berada dimeja makan untuk makan malam dan saat ini mama, papa juga sudah pulang jadi bisa makan malam bersama.


"Papa, mama, tadi kalian kemana saja? Kenapa sampai pulangnya malam?" tanyaku penasaran.


"Oh iya, tadi kami pergi ke Hotel, tempat dimana acara pernikahan kalian akan digelar. Terus kami juga pergi ke WO, ngurus chatering juga, dan semuanya. Kalian tidak perlu khawatir semuanya sudah beres, iya kan papa?" ucap mama menjelaskan.


"Iya, kalian tinggal terima jadi." jawab papa.


"Terimakasih papa, mama, dan maaf karena Bayu selalu saja merepotkan kalian terus."


"Nak Bayu, tidak perlu sungkan begitu lagi, kami sangat bahagia karena kalian telah bersedia menikah."


'Dengan demikian kami tidak akan takut kehilangan ataupun jauh dari anak, cucu dan menantu kami pada akhirnya.' sambung mama dalam hati.


_____


"Wah anak mama cantik sekali." ucap mama memuji takjub.


"Putri ibu ini memang sudah sangat cantik dari awal, ditambah lagi polesan setebal ini makin terlihat lebih cantik lagi." ucap salah satu MUA.


"Mbak bisa saja." ucapku tersipu malu.


"Mbak Tiara pasti grogi, ya?" tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng meski sebenarnya . . .. Iya.


"Wajar mbak, hal itu dirasakan semua pengantin wanita sebelum akad bahkan tak jarang pengantin pria juga merasakannya."


Setelahnya kami menuju tempat dilangsungkannya ijab qabul. Aku berjalan begitu angun dengan balutan kebaya putih ditubuhku sedangkan aku melihat dari kejauhan kak Bayu telah duduk dikursinya.

__ADS_1


"Ananda Bayu Fajar Putra Pradana Bin Surya Pradana saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Naila Tiara Azahra Binti Ali Moehammad dengan maskawin berupa uang 100jt dan emas 100gram tunai." suara penghulu menggema ditelingaku.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naila Tiara Azahra Binti Ali Moehammad dengan maskawin tersebut diatas tunai." ucap kak Bayu lantang hanya dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah." jawab saksi serentak.


Selesai dengan mengucapkan alfatihah dan menandatangani buku nikah, kak Bayu menyematkan cincin dijariku, demikian aku melakukan hal sama memakaikan cincin dijarinya, lalu aku mencium punggung tanganya yang kemudian dibalasnya dengan mencium keningku.


Setelah kami berganti pakaian, beberapa menit kemudian kami keluar untuk acara resepsi, aku memakai gaun dengan ekor yang sangat panjang dan terlihat sangat elegan sedangkan kak Bayu dia mengenakan setelan jas dengan warna senada yang menambah ketampanannya, kami berjalan menuju pelaminan yang didekorasi dengan sangat begitu indah, megah dan mewah.



"Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua akhirnya resmi jadi suami-istri, samara untuk kedua mempelai. sungguh pernikahan yang megah." ucap Sinta menyalami kami dan mencium serta memelukku, tak lupa kami juga mengambil beberapa foto selfie.


"Selamat ya. . .."


"Selamat. . .."


"Samawa Bayu, Tiara. . .."


Setelah semua para tamu undangan memberi selamat dan acara telah selesai kami menuju salah satu kamar dihotel ini yang telah dipesan oleh papa dan mama.


"Ra, papa, mama, Mutiara dan bibik pamit pulang dulu, ya? Kasian Mutiara sudah tertidur." ucap mama sebelum kami masuk kamar.


"Kami juga akan segera menyusul, ma." ucapku tersenyum.


"Tiara? Kalian ini pengantin baru, nak. Kalian menginap disini malam ini! Kalian pasti sangat lelah jadi cepatlah masuk!" ucap mama mendorong tubuhku dan kak Bayu masuk kedalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2