
Bayu mendekat padaku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ia memegang kedua pipiku, mengangkat wajahku yang tertunduk, lalu menyentuh keningku dan segera beralih menyentuh keningnya sendiri.
"Suhunya normal." gumam kak Bayu masih menatapku bingung. "Tiara, apa kamu sakit?" tanyanya lagi sangat khawatir saat melihat wajahku.
"Tidak kak Bayu, Tiara hanya kelelahan saja. Setelah istirahat juga pulih sendiri."
"Yakin? Apa tidak ingin pergi ke Dokter?"
"Tidak perlu kak, aku akan tidur saja."
"Ayo aku bantu!" ucap kak Bayu membawaku keranjang dan membantunya duduk bersandar.
"Terimakasih, kak."
"Tidak perlu sungkan. Aku ini suamimu, bukan orang lain, Ra. Tidurlah, aku akan buatkan teh jahe untukmu!" kata kak Bayu membuatku tersenyum, entah senyum bahagia atau senyum meledeknya.
"Tidak perlu kak Bayu! Aku sudah merasa agak baikan sekarang. Ini sudah malam, tidurlah saja!" pintaku.
"Baiklah. Kita istirahat sekarang!" ucap kak Bayu berbaring disampingku, lalu memintaku agar tidur dengan berbantal lengannya.
"Kak singkirkan lenganmu atau nanti tangan kakak akan kram!" ucapku memberi peringatan.
"Biarkan. Ayo cepat tidurlah! Dimana yang sakit?" tanyanya membuatku terdiam hingga lama menunggu jawabku.
"Kak, aku tidak apa-apa kok."
"Jika kamu baik-baik saja, wajahmu tidak akan seperti ini. Dan, lihatlah tubuhmu sampai lemas, bahkan suaramu hampir tak terdengar lagi ditelingaku. Katakan, dimana yang sakit atau aku akan panggilkan mama sekarang juga." ucap kak Bayu sedikit mengancam.
"Kak Bayu jangan! Mereka pasti sudah tidur, aku tidak ingin mengganggu siapapun. Sekarang kak Bayu lebih baik tidur saja! Dan biarkan aku juga tidur."
"Ok." jawab kak Bayu mulai memejamkan mata.
Aku terus bergerak memiringkan tubuh kesana-kemari mencari posisi yang kurasa nyaman, aku mencoba memejamkan mataku sabil menekan perutku dam bergerak memunggungi kak Bayu yang tidur menghadap pada tubuhku.
__ADS_1
"Apa ini sakit?" ucap Bayu memegang tanganku yang berada diatas perutku yang terasa sakit, membuatku kaget dan langsung memutar tubuhku untuk bisa menatapnya.
_____
Tengah malam, aku terbangun saat merasa perutku sangat sakit, seperti ditusuk beberapa jarum. Aku membuka mataku dan menyingkirkan tangan kekar yang melingkar perutku. Aku mencoba turun untuk mengambil air hangat.
"Mau kemana?" tanya kak Bayu yang ikut terbangun.
"Aku hanya akan turun sebentar mengambil air hangat. Kak Bayu tidurlah kembali!"
"Kembalilah berbaring! Biar aku yang ambil!"
"Iya." jawabku pasrah dan kembali berbaring, aku meremas perutku yang terasa semakin sakit.
"Ada apa dengan perutku? Kenapa terasa begitu sakit sekali? Aku tidak sedang diare atau keracunan makanan, tapi ini sangat menyiksaku. Apa jangan-jangan aku . . .?" tanpa berfikir lama lagi aku segera memasuki toilet.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin . . .."
"Kak Bayu?" ucapku menunduk berjalan mengikutinya mendekat kasur.
"Hhm." jawabnya berdehem.
"Kak!"
"Iya. Ada apa, Ra? "
"Kak, apa Tiara boleh minta tolong?"
"Iya. Minta tolong apa? Katakan saja! Jangan membuatku bingung, Ra. Kamu mau apa?"
"Kak Bayu, Tiara ternyata lagi datang bulan dan lupa . . .."
"Ya sudah, biar aku belikan!"
__ADS_1
"Kak Bayu serius? Mau membelikan itu untukku?"
"Sudah jangan banyak bicara! Istirahatlah dan jangan lupa minum air hangatnya!" ucapnya menyaut kunci mobil yang berada diatas nakas dan berlalu keluar kamar.
'Sungguh pria yang manis.' batiku bicara. Bibirku pun tersenyum kecil.
_____
Bayu terlihat memasuki mobil dan melajukan mobilnya menuju indomart. Menembus gelapnya malam yang sunyi sepi. Sesampainya disana ia memarkirkan mobil dan segera keluar. Mengingat ini sudah tengah malam jadi tokonya tidak terlalu ramai lagi.
"Arghhhhh, aku lupa bertanya merk apa yang biasa dia pakai?" ucap Bayu sembari mengusap kasar wajahnya. "Aku akan menghubunginya. Tidak, aku tidak membawa ponsel lagi!" ucap Bayu sadar akan kebodohannya. "Biarlah. Biar saja Tiara yang akan memilihnya sendiri nanti." gerutu Bayu mulai mengambil beberapa merk pembalut dan membawanya kekasir.
"Pak Bayu?" ucap seseorang membuat Bayu kaget.
"Ar-. . .?"
"Saya Arlin pak, OG dikantor pak Bayu."
"Owh iya. Kamu bekerja disini juga? Dan masuk shif malam?" tanya Bayu setelah mengingat Arlin, yang ternyata memang sering mengantar minuman untuknya saat dikantor.
"Iya pak. Part time, untuk mencukupi kebutuhan saya. Bapak membeli ini semua? Tidak salah?" ucapnya tak percaya. Bayu mengguk.
"Iya, untuk istri saya, cuma saya tidak tau merk yang biasa dipakainya jadi saya beli semua macam merk-nya saja."
"Kenapa bapak tidak bertanya istri bapak saja dulu?" ucapnya sambil men-skan barang belanjaan dikomputernya dan memasukkannya kekantong belanja setelahnya.
"Lupa, tidak bawa ponsel juga. Berapa semuanya?"
"Seratus lima puluh ribu, pak."
"Ini, terimakasih." ucapku menyodorkan beberapa lembar uang kertas dan mengambil kantong belanja dimeja kasir dan berlalu segera masuk mobil.
"Sungguh lelaki yang manis, selain bos yang berwajah tampan ternyata juga memiliki hati yang penyayang." ucap Arlin menatap kepergian lelaki yang merupakan bosnya itu. "Tak disangka, ternyata pak Bayu yang begitu sinis dan angkuh ketika dikantor, bisa lembut dan manis seperti itu. Ya Tuhan, sisakan satu lelaki yang sepertinya untukku." do'a Arlin diakhir kalimat dan berharap Tuhan mengabulkannya.
__ADS_1