
"Mbok sumi dan pelayan lainnya tinggal dikamar yang mana?" tanyaku saat aku tak melihat tempat yang mereka tinggali didalam rumah sebesar ini.
"Kami tinggal dipafiliun belakang, bu Tiara. Tempatnya tidak jauh dari taman belakang, sedangkan pak Somad dan pak Jamal disamping pos satpam depan, bu Tiara." ucapnya menjelaskan.
"Owh baiklah. Mbok saya mau kekamar dulu beresin baju-baju saya dulu ya." ucapku pamit, dan berlalu meninggalkan mbok Sumi yang telah mengangguk.
_____
Sesampainya didepan pintu kamar kak Bayu, aku ragu untuk masuk dan malah mondar-mandir tak jelas disana.
"Apa kak Bayu ada didalam?" pikirku terus berjalan kesana-kemari hingga tak menyadari kak Bayu telah berdiri diambang pintu dengan melipat kedua tangannya didada dan bersandar dipintu.
"Ra, kamu kenapa?" ucapnya membuatku kaget.
"Kak Bayu, kenapa berdiri disitu?" kataku bertanya.
"Kamu ini aneh, suami bertanya kok malah tanya balik!" ucapnya membuatku bingung sendiri.
"Kak, aku akan membereskan barang-barangku dulu, permisi." ucapku melewati kak Bayu.
"Tidak! Kita akan makan siang dulu, ayo!" ucapnya menghentikanku dan menarik tanganku membawaku turun.
__ADS_1
"Kak aku . . .. Dimana Mutiara?" ucapku yang tak mendapat respon dari kak Bayu.
'Ada apa dengannya? Sikapnya semakin aneh setelah menikah denganku? Apa yang dia rencanakan sebenarnya?' gumamku dalam hati.
_____
Benar saja, saat kami turun dan sampai dimeja makan semua masakan sudah siap, banyak menu tersaji sangat rapi diatas meja.
"Duduklah!" pinta kak Bayu yang telah menarik kursi untukku duduk.
"Kak, kapan orang tua kak Bayu akan datang? Apa kakak tidak ingin menjemput mereka?" ucapku yang telah duduk saling berhadapan dengan kak Bayu.
"Lupakan itu! Apa kamu tidak akan mengambilkan makanan untukku?" ucapnya bertanya. Aku mulai berdiri mengambil piring didepannya lalu mengambilkannya nasi dan beberapa lauk dan diapun terus saja memperhatikanku.
"Mau kemana?"
"Kekamar beres-beres."ucapku lesu, kudengar suara sendok terbanting dimeja makan, aku menoleh dan melihat kak Bayu telah berdiri.
"Kak Bayu kenapa?" tanyaku mendekatinya.
"Apa kamu akan melewatkan makan siangmu? Baiklah, aku ada pekerjaan yang harus kerjakan. Lakukan apapun sesuka hatimu!" ucapnya kesal dan meninggalkanku sendiri.
__ADS_1
"Apalagi ini? Sungguh aneh sekali!" gerutuku berlari mengejarnya yang telah menaiki tangga.
"Kak Bayu mau kemana? Makan siang dulu atau kamu akan sakit!" ucapku mengingat kak Bayu memiliki sakit magh. Namun, dia tak menghiraukanku dan masuk keruang kerjanya membanting pintu sekeras mungkin.
"Apa dia seorang psyco? Kakak, apa yang kau lakukan? Menyerahkanku pada es balok dan sekarang dia malah menjadi seorang psyco setelah beberapa hari menikah denganku!" gumamku sembari mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Kak Bayu, buka pintunya! Kak Bayu, kakak marah padaku? Apa salahku?" ucapku terus mengetuk pintu.
"Baiklah, terserah kak Bayu! Kalau sampai kak Bayu sakit karena ulah kakak sendiri, jangan sekali-kali menyalahku!" ucapku kesal karena kak Bayu tak merespon semua perkataanku.
"Baru beberapa hari menikah sudah ada drama! Drama macam apa ini? Suami marah tanpa alasan yang jelas! Oh Tuhan." gerutuku meninggalkan tempat itu dan pergi menuju kekamar.
_____
Diruang kerja, Bayu tengah mendudukan diri dikursi meja kerjanya dan menyalakan laptop yang menampilkan foto-foto Mutia dilayarnya.
"Ini bukan pernikahan pertama bagiku, tapi aku merasa Tiara tidak memahami tugasnya sebagai seorang istri, berbeda denganmu Mutia. Maaf, aku telah melanggar janji yang aku buat sendiri denganmu, dihadapanmu." ucapnya menatap foto-foto mediang mantan istrinya itu.
_____
__ADS_1
Dikamar, aku mulai membongkar isi koperku sambil mengomel tak jelas.
"Lihat saja nanti, kalau sakitnya sudah kambuh! Aku akan mengabaikannya seperti yang dia lakukan sekarang! Pertama, dia membawaku ke rumah sebesar ini dan memberi banyak pelayan, lalu apa tugasku disini sebagai istri? Dua, sekarang dia marah tidak jelas kepadaku! Apa maunya? Aku tidak bisa memahami ini semua! Kak Mutia, bantulah aku untuk tegar menghadapinya!" gerutuku sambil lipat dan memasukan bajuku kedalam lemari, tentunya lemari yang sama dengan kak Bayu.