
Pagi harinya, Tiara bangun dan dia sudah tak melihat Bayu diruang kamar. Tiara membawa Mutiara turun. Hari ini rumah terasa sangat sepi, dan Bayu? Tiara malah membuatnya marah besar semalam.
"Mbok Sumi, apa kak Bayu sudah pergi ke Kantor?"
"Iya nyonya, baru saja. Tuan juga melewatkan sarapan paginya nyonya."
"Dia benar-benar marah padaku? Bahkan ini masih jam enam kurang." gumam Tiara melihat jam dinding. Ia meletakan putrinya dikereta dorong dan pergi kedapur untuk membuatkan susu Mutiara. Karena melamun Tiara menuangkan air panas diluar botol, sehingga membuat tangannya terkena air panas yang ia tuang tadi.
"Awww!" Tiara meringis, mengibaskan tangan kirinya yang terkena air panas.
"Nyonya? Ya ampun nyonya Tiara, kenapa bisa sampai begini?" kaget mbok Inem yang sedang berberes dapur.
"Saya hanya tidak fokus tadi, mbok."
"Nyonya duduk dulu, biar mbok carikan salep luka bakar!"
"Iya mbok." Tiara lebih dulu menyelesaikan membuat susu Mutiara dan menahan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
"Sayang, maafkan mama. Lain kali mama janji akan lebih berhati-hati." ucap Tiara sambil memberi susu pada Mutiara.
"Nyonya, nyonya Tiara baik-baik saja?" teriak mbok Sumi yang kini mendekatinya.
"Mbok Sumi tidak perlu cemas, saya baik-baik saja hanya terkena air panas sedikit." mbok Sumi melihat tangan majikannya yang terluka.
"Apa tidak perlu dibawa ke Dokter, nyonya?"
"Tidak mbok, hanya dioles salep juga nanti sembuh."
"Nyonya, ini salepnya." ucap mbok Inem yang baru saja datang.
"Terimakasih mbok. Kalian bisa kembali bekerja!"
__ADS_1
"Tapi, nyonya sungguh tidak apa-apa? Perlu mbok panggilkan Dokter atau . . .."
"Tidak perlu mbok Inem. Oh iya mbok Sumi! Tolong antar Mutiara ke Lilis ya mbok, saya mau siap-siap pergi ke Klinik."
"Tapi, tangan nyonya sedang sakit." ucap mbok Sumi.
"Ini hanya luka kecil mbok, saya masih bisa bekerja. Saya tinggal dulu mbok." Tiara selesai mengoleskan salep dan segera keatas untuk bersiap kerja.
_____
Sore harinya sepulang dari Klinik, Tiara berziarah ke makam Mutia, sang kakak. Ia berdoa dan berkeluh kesah sambil memegang batu nisan dan meletakkan bunga mawar kesukaannya yang sempat ia beli tadi.
"Aku yakin perlahan bisa menerima kak Bayu dihatiku, kak Tia. Tapi, aku merasa dia belum sungguh-sungguh mencintaiku. Perhatianya selama ini mungkin saja hanya karena dia menghargaiku sebagai seorang istri, tapi aku tahu dihatinya masih ada kak Mutia."
"Kakak tau, hari ini dia sangat marah padaku. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya saat ia kembali nanti? Aku tahu aku yang salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu padanya, karena semua yang aku lakukan sebelumnya sungguh tulus dari lubuk hatiku yang terdalam bukan hanya sandiwara belaka." Tiara berniat untuk pamit namun terlebih dulu ponselnya bergetar.
"Lilis? Ada apa dia menelponku?"
" . . .."
"Apa? Sakit? Baik aku akan segera kesana!" Tiara mengakhiri panggilan dan kembali fokus pada makam kakaknya.
"Kak, Tiara pergi dulu, kakak jangan cemas, semua akan baik-baik saja." Tiara segera bergegas masuk mobil dan melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
_____
Dilain tempat, terlihat Bayu sedang berjalan terburu-buru dan kesal karena tak berhasil menghubungi seseorang. Namun demikian tetap memperlihatkan aura tampannya. Dia terus mencoba menghubunginya sambil berjalan dan celingukan mencari suatu ruangan, hingga akhirnya namapaklah pak Somad dan Lilis yang terduduk dikursi tunggu depan ruang rawat.
"Tuan Bayu." saap pak Somad yang telah berdiri.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Dan, dimana Tiara? Aku tidak bisa menghubunginya sedari tadi."
"Pak, tadi Mutiara demam tinggi dan saya sudah berulang kali menghubungi bu Tiara, sekarang bu Tiara sedang dalam perjalanan menuju kemari, pak Bayu." jawab Lilis.
"Ok. Kalian pulang saja. Aku akan menelpon jika butuh sesuatu."
"Baik tuan Bayu. Kami permisi." pak Somad mengajak Lilis pergi. Bayu terlihat mondar-mandir didepan pintu ruang tersebut dan tak jarang menengok pintu kaca yang masih tertutup rapat.
"Kenapa lama sekali? Apa yang mereka lakukan didalam sana?" celoteh Bayu cemas.
"Kak Bayu?" ucap Tiara mengagetkan suaminya yang kini memandangnya. "Bagaimana dengan Mutiara? Tadi, dia masih baik-baik saja saat sebelum aku pergi. Apa yang terjadi padanya?" imbuh Tiara dengan nafas ngos-ngosan.
"Tenanglah dulu, dia pasti akan baik-baik saja. Ayo, duduklah dulu dan atur nafasmu!" Bayu membawa Tiara duduk.
"Aku akan carikan minuman untukmu." ucap Bayu hendak melangkah pergi, namun lengannya segera ditahan oleh Tiara. Mereka saling menatap satu sama lain dengan mulut yang saling bungkam. Ya, seolah cukup mata mereka yang kini saling berbicara.
"Permisi, apa kalian orang tua pasien?" tanya seorang Dokter yang baru saja keluar.
"Iya. Saya ayahnya dan dia ibunya. Bagaimana keadaan putri kami?" jawab Bayu membawa Tiara berdiri berdampingan dengannya.
"Dokter Tiara? Anda sudah menikah? Oh maaf sebelumnya, Putri kalian baik-baik saja dia hanya demam biasa." Tiara lega dan bisa sedikit tersenyum.
"Iya, Dokter Ryan. Terima kasih Dokter. Apa kami boleh menjenguknya sekarang?" jawab Tiara.
"Tentu saja boleh. Silahkan! Saya permisi." pamit Dokter Ryan pada Tiara.
"Baik. Terimakasih Dokter, Ryan." saut Bayu.
Bayu dan Tiara segera masuk memastikan bahwa putri mereka benar baik-baik saja. Tiara menggendong dan menciumi keningnya berulang kali dan tak memberi kesempatan pada Bayu untuk melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Maafkan mama sayang!" ucap Tiara penuh rasa bersalah.