
Happy reading my beloved readersš„°
Siang itu Bang Samuel pulang kerumah, untuk mengambil berkasnya yang tertinggal di rumah.
Krek..
Dia membuka pintu kamarnya dan mencari berkasnya. Dia tidak menemukan istrinya di kamr, karena tadi pagi istrinya pamit mau pergi kerumah temannya yang sakit.
Bang Samuel membuka laci lemari lalu membongkar semua isi di laci itu, karena dia tidak kunjung menemukan berkas yang akan di bawanya ke perusahaan siang ini.
Dia melihat ada amplop berlogokan tulisan rumah sakit. Karena Bang Samuel penasaran apa isinya, dia merobek amplop itu dan mengeluarkan isi dari amplop itu.
Srek..
Di sana tertulis dengan jelas
...RS. Royal...
...Jl. Rambutan No. 2...
...Kota Jakarta Barat No. 23...
...Daerah khusus Ibu Kota Jakarta...
...SURAT PERNYATAAN...
...No. :Ā 11/RT14/X/MM/2021...
Ā
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Dr. Sulistia Wati
Jabatan : Kepala Rumah SakitĀ
Menyatakan bahwa pasien berikut ini:
Nama : Alisia
No. Rekam MedikĀ : 84/RM/RSUF/697/IV/2021
Tempat Tanggal Lahir : Belitung, 18 September 1979
Jenis kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
__ADS_1
AlamatĀ :Ā JalanĀ Duku RT RWĀ 01/01,Ā No.Ā 44
Pada hari Senin, tanggal 10 September 2021 telah menjalanai pemeriksaan kanker dengan metode menyeluruh dan CT Scan, hasilnya adalah POSITIF terkena LEUKIMIA Stadium akhir Dengan memperkirakan untuk pasien bertahan dalam 2 bulan Kedepan ( masa hidup ).
Demikian Surat Keterangan ini kami terbitkan dengan sebenar ā benarnya dan untuk dapat digunakan semestinya dan sebijakĀ bijaknya.
^^^Jakarta, 10 September 2021^^^
^^^Mengetahui,^^^
^^^Ā ^^^
^^^Kepala Rumah SakitĀ ^^^
^^^Sulistia Wati^^^
Seketika itu Bang Samuel langsung jatuh terduduk saat setelah selesai membaca isi surat yang membuatnya menangis tergugu.
Dan Bang Samuel berpikir berarti Alisia ini apakah Kak Alisia ini sudah sakit sakit sebelum mereka menikah, lebih tepatnya waktu mereka masih berpacaran.
Waktu itu Bang Samuel mengajak Kak Alisia untuk menikah dengannya, tapi Kak Alisia beralasan kalau dia masih mau menyelesaikan pendidikan S2 nya, sampai selesai.
Bang Samuel tidak percaya, bahwa selama ini istri kesayangannya menyimpan sebuah rahasia besar yang mampu membuat hatinya menangis pilu.
Akhirnya Bang Samuel mengeledah semua barang barang yang ada di kamarnya. Mulai dari lemari baju, sepatu, meja rias, laci laci, dan kamar mandi.
Dia mendapatkan obat obatan yang isinya masih banyak di dalam kamar mandi. Dia segera mencari kegunaan akan obat obat yang ditemukannya.
Lalu Bang Samuel terduduk dan termenung di sudut kamarnya, memikirkan tentang bagaimana rasa sakit yang dialami oleh istri kesayangannya selama ini. Selama ini Kak Alisia tidak pernah mengeluh padanya ataupun menampilkan mimik wajah kesakitan.
Dia setiap hari selalu ceria dan penuh ernergik. Dan Bang Samuel langsung berpikiran tentang hal yang kemarin Kak Alisia tanya kan padanya. Yaitu tentang kematian, jika aku mati nanti apakah kamu akan melupakanku atau tidak.
Bang Samuel menganggap Kak Alisia sedang bercanda bertanya tentang hal aneh seperti itu, sampai sampai Bang Samuel bertanya tanya dalam hatinya. Mengapa istriku bertanya tentang hal aneh seperti ini.
Tapi sekarang Bang Samuel sudah menemukan jawaban dari kebingungan tentang pertanyaan istrinya itu. Yah, istri kesayangan nya itu saat ini sedang berjuang melawan penyakit kanker.
Bang Samuel merasa gagal menjadi suami, karena dia tidak bisa menjaga istrinya dari rasa sakit yang di alami istri kesayangannya itu. Pasti istrinya sedang merasakan kesakitan yang sangat berat saat ini.
Krek...
Pintu kamar sudah di buka oleh seseorang.
"Bang Kamu kok pulangnya cepat, trus kenapa kamar kita berserakan seperti ini bang." Tanya Kak Alisia sambil menutup pintu kamarnya.
Bang Samuel mendongak dengan mata yang memerah dan air matanya masih setia mengalir keluar dari bola matanya. Dia lalu melihat istri kesayangannya mendekat kearahnya.
"Bang kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Kak Alisia heran, dengan tingkah aneh Bang Samuel.
Lalu Bang Samuel menyodorkan surat yang keterangan yang di dapat di laci meja tadi.
__ADS_1
Kak Alisia pun mengambil surat itu dari tangan Bang Samuel, lalu membacanya dengan penasaran.
Setelah membaca surat itu Kak Alisia tidak dapat berbicara lagi, hanya air mata yang keluar dari bola matanya. Dia tidak bisa menjelaskan tentang surat yang sudah mereka baca itu. Akhirnya rahasia yang sudah di simpannya rapat rapat pada akhirnya ketahuan juga.
Kak Alisia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, akhirnya dia menangis terisak. Bang Samuel uang melihat itu pun ikut menangis terisak dia mendekat ke arah Kak Alisia, lalu memeluk istri kesayangannya itu dengan erat. Seolah olah tidak mau terpisah oleh opini yang terdapat di dalam surat pernyataan tadi.
"Sayang... hiks...hiks... ayo kita pergi kerumah sakit untuk berobat. Percayalah kamu pasti bisa sembuh sayang." Ucap Bang Samuel sambil mengelus rambut Cantik Kak Alisia yang semakin menipis itu.
Saat Bang Samuel mengelus rambut Kak Alisia, rambutnya rontok dan tertinggal di tangannya Bang Samuel. Melihat hal itu Bang Samuel semakin menangis terisak.
Sebenarnya Kak Alisia sudah pergi kesalon untuk menyambung rambutnya dengan rambut palsu, agar Bang Samuel tidak mengetahui keadaannya yang seperti ini. Tetapi semua ini sudah berakhir karena sekarang Bang Samuel sudah mengetahui fakta bahwa Kak Alisia mengalami penyakit kanker stadium akhir.
"Jawab aku sayang, ayo kita berobat ke dokter! Ayo!" Ajaknya seperti anak kecil yang meminta es krim kepada ibunya.
"Su...dah... Bang, aku baru pulang dari rumah sakit untuk kemoterapi." Jawab Kak Alisia jujur pada suaminya.
"Kenapa kamu menyimpan rahasia sebesar ini sendirian sayang, kenapa? Kamu tau kan aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apapun untukmu sayang." Ucap Bang Samuel terbata bata karena dia masih menangis.
"Iya, aku tau sayang. Aku tau kalau kamu sangat mencintaiku. Justru itu aku membuatmu agar tidak berharap kepada ku untuk hidup sampai fi masa tua nanti." Jawab Kak Alisia sambil terisak.
Bang Samuel mendudukan istrinya di kasur, lalu dia membersihkan semua kekacauan yang dia buat tadi.
Dan dia menelepom seseorang dari ponselnya.
"Halo Vanya, tolong urus pekerjaan saya! tidak bisa kembali lagi ke kantor siang ini." Ucap Bang Samuel pada sekretarisnya di sebrang telpon sana.
"Baik pak, saya akan laksanakan sesuai perintah bapak." Jawab sekretarisnya.
"Iya, terima kasih." Ucap Bang Samuel, lalu dia memutuskan panggilan telepon sepihak.
"Sayang, apa yang bisa aku lakukan agar kamu cepat sembuh?" Tanya Bang Samuel pada istri kesayangannya itu.
Sementara Kak Alisia hanya diam membisu sambil sesekali memainkan jari jarinya.
_
_
_
_
_
_
Bersambung...
Mohon maaf bila ada ejaan maupun penulisan kata yang salah yang terpadat dalam novel ini.
__ADS_1
Maklumlah saya masih amatiran.
Thank you for read allš„°