My Bastard Husband

My Bastard Husband
episode 52


__ADS_3

Happy reading my beloved readers😘


Keseekokan Hari nya


Hani sudah di hadapkan dengan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.


Hani mengerjakan pekerjaannya dengan teliti, dan hati hati.


Mulai sekarang Hani akan melupakan kejadian malam itu. Dan dia akan bersikap biasa saja kepada Bang Samuel.


Hari demi hari mereka bekerja bersama, hal itu tidak membuat Hani menghilangkan sifat dinginnya kepada Bang Samuel.


Hani bersikap seolah olah seperti baru mengenal Bang Samuel.


Dan tentu saja Bang Samuel merasa sangat risih dengan sikap Hani. Tapi Bang Samuel bersikap biasa saja, seolah olah tidak terlalu membutuhkan Hani.


Pagi ini Bang Samuel mendapat berita buruk dari rumah sakit, tempat Kak Alisia di rawat. Dokter bilang kalau keadaan Kak Alisia sangat keritis. Sehingga mereka memindahkan Kak Alisia ke ruangan ICU.


Bang Samuel segera berlari meninggalkan rapat itu, dia tidak terlalu peduli tentang rapat ini. Dia lebih mengkhawatirkan istri kesayangannya.


Hani sempat heran melihat perilaku Bang Samuel, yang berlari pergi meninggalkan ruangan rapat, tanpa sepatah kata pun. Tapi Hani, tetap positif thinking, tetap melanjutkan rapat dengan tenang.


Setelah sampai di rumah sakit.


Bang Samuel, segera berlari memasuki rumah sakit dia menunggu di depan ruangan ICU.


10 menit kemudian, keluar seorang dokter perempuan.


"Maaf Pak Samuel, kami sudah melakukan tugas kami, dengan sebaik mungkin. Tuhan pun berkehendak lain. Mungkin Tuhan lebih menyayangi istri bapak." Ucap dokter itu dengan pelan. Seraya menjelaskan dengan lembut, agar suami pasien tidak shock.


"Maksud dokter?" Tanya Bang Samuel, heran.


"Maksud saya adalah istri bapak sudah meninggal dunia." Ucap dokter itu, seraya berlalu dari hadapan Bang Samuel.


"Apa??? Ini gak mungkin." Sautnya tidak percaya, seraya merosotkan tubuhnya di lantai rumah sakit. Dia menangis histeris, mendengar istri kesayangannya itu telah meninggalkannya untuk selamanya.


Sementara itu Hani yang mengetahui kabar meninggalnya Kak Alisia, pergi ke rumah duka untuk menangkan Bang Samuel. Meskipun Hani masih sakit hati dengan suaminya itu, tapi dia juga tau kalau di tinggal orang yang kita cintai dan sayangi, untuk selamanya. Sangatlah berat.


Hani menghubungi Mama Lina lewat ponselnya, siapa tau dia akan berkunjung melihat menantunya, untuk terakhir kali nya.


"Halo, Assalamualaikum. Mah, Hani punya kabar duka Kak Alisia meninggal mah. Mamah gak kesini ngelayat. Hani mohon pulang lah mah, tolong maafkan semua kesalahan Bang Samuel, dan Kak Alisia." Ucap Hani, saat sambungan telepon terhubung.


"Waalaikumsalam. Maaf Hani, mama tidak akan pulang, sebelum Samuel sendiri yang meminta maaf, dan meminta mama untuk pulang. Sekali lagi maafkan mama, sudah membawa mu ke dalam masalah yang sangat pelik ini. Mama turut berduka cita untuk Kak Alisia.


Assalamualaikum." Jawab Mama Lina, setelah itu dia mematikan sambungan telephonnya.


"Waalaikumsalam." Saut Hani, seraya memasukkan ponsel itu.


Mayit Kak Alisia di selenggarakan secara islam.


****

__ADS_1


2 bulan kemudian.


Bang Samuel kelihatan lebih pendiam dari biasanya, dia juga masih kelihatan murung seperti Kak Alisia baru menginggal dulu.


Bang Samuel juga, jarang masuk ke kantor, disini lah peran sekretaris sangat di butuhkan. Kak Alisia selalu mengurus kantor sendiri. Terkadang dia meminta Mbak Mira, untuk membantu pekerjaannya. Dengan senang hati Mira membantu Hani.


Akhir akhir ini Hani merasa sedikit pusing, dan sangat mual. Dia juga tidak suka mencium sesuatu aroma yang menyengat, hal itu mampu membuatnya sangat mual, bahkan muntah muntah.


Hani pikir itu hanya sakit maag biasa, karena Hani sering terlambat makan. Tapi setelah Hani pikir pikir dia merasa badannya agak berisi, dan 2 bulan ini dia belum juga datang bulan. Apa jangan jangan Hani hamil? Pikirnya bingung.


Hani memberanikan diri, dia membeli beberapa test pack terkenal, dan terakurat. Setelah itu dia mencekknya. Dan betul saja ternyata garis dua di kelima test pack yang dia beli.


Hani sangat shock, sekaligus bahagia. Dia akan menjadi ibu di umurnya yang masih 22 tahun ini.


Mulai sekarang Hani akan menjaganya dengan baik, biarlah ayahnya tidak mengingkannya kelak. Hani bisa menjadi good mom, yang mampu mendidik anaknya menjadi anak yang pintar.


Setiap Hari Hani, selalu makan makanan bergizi. Dia juga membeli susu hamil. Untuk menambah gizi janinnya.


Beberapa bulan kemudian


Hani kesal dengan Bang Samuel yang tidak pernah lagi ke kantor. Mau dia apa sih? Ayah Surya kan sudah memberi amanat kepada Bang Samuel, untuk mengurus perusahaan ini, lalu mengapa sekarang dia tidak perduli lagi dengan peusahaan? Pikir Hani kesal.


Ini tidak bisa di biarkan, mau bagaimana pun perusahaan ini adalah tanggung jawab Bang Samuel, seharusnya sebagai CEO, Bang Samuel datang ke perusahaan memantau karyawan dan koleganya, tapi hal tersebut tidak di lakukan oleh Bang Samuel.


Hari ini Hani pulang jam 7 sore, sebelum pergi ke rumah Bang Samuel Hani, berencana memeriksa kandungannya ke dokter.


Sebenarnya Hani bisa merekrut seketaris baru, tapi Hani tidak melakukan hal tersebut. Karena dia lebih mempercayai Mbak Mira menjadi asisten pribadinya, dari pada orang lain.


Setelah selesai memeriksa kandungan Hani meluncur ke rumah Bang Samuel.


Hani masih menyimpan kunci cadangan yang di berikan Mama Lina, kepadanya. Jadi Hani bisa masuk ke rumah Bang Samuel kapan pun dia mau.


Krek...


"Assalamualaikum." Ucap Hani, dengan pelan


Hani membuka pintu itu, lalu dia menutupnya kembali, dia berjalan ke lantai atas, tempat kamar Bang Samuel.


Keadaan rumah ini masih seperti dulu, tapi sekarang suasananya sangat sepi.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Bang Samuel tiba tiba, dari dalam kamar.


"Eh... maaf bang, aku nyelonong masuk ke sini. Jadi gini bang, aku mau bilang kalau perus....


Belum selesai Hani berbicara Bang Samuel, sudah memotong pembicaraan Hani.


"Perusahaankan, iya aku tau." Jawab Bang Samuel, seraya masuk ke dalam kamarnya. Bang Samuel membuka pintu lemari kamarnya dia mengeluarkan map kepemilikan perusahaan, lalu memberikannya kepada Hani, secara kasar.


"Kamu urus aja perusahaan ayah kamu tu, aku udah gak minat lagi. Urusan aku sudah selesai. Semenjak Alisia meninggal." Ucapnya sinis kepada Hani.


"Bukan ini maksud Hani bang, Hani cuma mau tanya ke abang kenapa gak datang ke kantor?" Tanya Hani memelas.

__ADS_1


"Terserah saya lah, mau masuk atau ngak. Sekarang saya gak jadi boss kamu lagi, kamu bebas mau ngapain aja sama perusahaan ayah kamu itu." Jawab Bang Samuel, dengan intonasi meremehkan.


"Tap...


"Oh ya satu lagi, aku mau cerai sama kamu." Sela Bang Samuel, tiba tiba.


"Kenapa bang? Kenapa abang mau cerai sama Hani? Hani kurang apa bang?" Tanya Hani, sambil terus menahan air di pelupuk matanya.


"Karena saya mau bebas. Kamu tau kurang mu apa? Hanya satu Hani, aku tidak pernah bisa mencintaimu." Jawab Bang Samuel, dengan kejam.


"Tapi bang, kita bisa memulainya dari awal. Hani pasti akan jadi istri yang baik, untuk abang." Saut Hani dengan cepat.


"Tapi sayangnya alasanmu itu, tidak akan mengubah keputusanku. Keputusanku sudah bulat. Sekarang keluar kamu dari sini." Jawab Bang Samuel, dengan intonasi tinggi, seraya menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.


Akhirnya air mata Hani, luruh juga. Hani pergi dari rumah Bang Samuel, bahkan dia tidak membawa map yang di berikan Bang Samuel kepadanya. Map itu di tinggalkan begitu saja di depan pintu kamar Bang Samuel.


Hani mengendarai mobilnya dengan persaan hancur, dan kecewa. Air matanya tidak berhenti keluar sejak dari rumah Bang Samuel tadi.


Bahkan Hani mengendarai tanpa arah, akan kemana. Dia terus saja mengemudi dengan sesuka hatinya.


Sebuah mobil minibus yang kehilangan arah melaju dengan cepat, ke arah mobil Hani.


Tiba tiba Brak.... mobil itu oleng, dan menabrak mobil Hani dari samping.


Mobil Hani terpental cukup jauh, dan ringsek.


Keadaan Hani sangatlah tidak baik di dalam mobil, darah mengucur dengan deras dari kepalanya, dan juga kedua kakinya. Di keadaan seperti ini, Hani mencoba menghubungi suaminya lewat smart watch, yang dia miliki. Hani berharap dapat mendengar suara Bang Samuel, untuk terakhir kalinya, sebelum nafasnya hilang.


Pesan suara


"Abang tidak akan pernah sendirian. Karena Hani selalu ada untuk abang. Hani cinta sama abang." Ucapnya dengan nafas tersenggal senggal.


Setelah mengungkapkan cinta pada suaminya, Hani pun tidak sadarkan diri.


***


_


_


_


_


Bersambung…


Maaf jika ada kesalahan ejaan ataupun penulisan kata.


Maklumlah saya masih amatiran.


Thanks to rea All🥰

__ADS_1


__ADS_2