
Happy reading my beloved readers😘
Entah apa yang di pikirkan Bang Samuel, jujur saja, dia sangat tertarik dengan harum badan Hani. Apalagi melihat leher jenjang yang mulus itu, membuat jakunnya naik turun ingin mencicipinya.
"Akh..." Hani memekik, terkejut, saat lehernya di hisap kuat oleh Bang Samuel.
Hani, segera melepaskan diri dari Bang Samuel. Karena sepertinya, dirinya sangat tidak nyaman, kalau ada orang yang melihatnya nanti, berada di pangkuan Bang Samuel. Meskipun itu suaminya, dan mereka sudah halal, untuk melakukan apapun. Tapi tetap saja, mental Hani belum siap untuk di hina, sebagai pelakor. Karena dia hanyalah istri ke dua.
Walaupun, sebenarnya Hani bukan lah pelakor. Tapi tetap saja nantinya ada orang yang memfitnahnya yang bukan bukan. Jadi lebih baik Hani diam saja.
Hani segera berlari keluar dari pintu.
Sesampainya di luar ruangan Bang Samuel, Hani masih mecoba menetralkan detak jantungnya yang seperti pacuan kuda.
Dia menarik napasnya pelan, lalu menghembuskannya perlahan.
Semua gerak gerik Hani, tidak lepas dari sepasang mata yang melihatnya dengan iri dan sinis.
"Dasar wanita ******. Kau akan rasakan akibatnya, suatu hari nanti." Ucap wanita itu, angkuh. Lalu dia segera masuk ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Hani segera menutup pintu ruangan itu tergesa gesa.
"Ada apa Hani? Seperti habis di kejar anjing gila saja." Ucap Mira, bercanda.
"Gak papa, mbak. Jawab Hani menampilkan senyumnya, lalu dia duduk di kursinya dengan pelan.
"Bagaimana, kemarin apakah sudah selesai berkasnya?" Tanya Mira pada Hani.
"Oh iya mbak, udah siap kok." Jawab Hani, seraya membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan berkas Mira dan memberikannya pada Mira.
"Terima kasih banyak, ya Hani. Maaf ya, mbak ngrepotin kamu. Maaf juga kemarin, mbak tinggalin kamu sendirian disini. Kemarin aman kan sendirian disini?" Saut Mira seraya bertanya pada Hani.
"Ya, mbak sama sama. Alhamdulillah aman ko aku disini sendiri, mbak" Jawab Hani tersenyum pada Mira.
Makasi ya mbak, justru gara gara mbak, aku bisa lebih dekat dengan Bang Samuel. Batin Hani, tersenyum girang.
"Yaudah mbak, aku mau lanjutin pekerjaan ku dulu, ya."Ucap Hani, seraya menuju kursinya.
"Ok." Jawab Mira, sambil mengeluarkan berkas ke atas meja kerjanya.
Setelah itu satu persatu karyawan staff accounting berdatangan.
Mereka sibuk, mengerjakan pekerjaan masing masing.
Seperti biasa, agar Hani tidak bosan. Dia mendengarkan lagu menggunakan air podsnya.
"Hani--- panggilan Mira terhenti, saat Hani menggeserkan rambutnya kebelakang. Mira bisa melihat, ada tanda kemerah kemerahan, di leher sebelah kanan Hani.
Hani tidak menyadari tanda itu, dia juga tidak mengetahui, kalau Mira ada di sampingnya.
"Hani." Panggil Mira lagi, seraya memegang bahu Hani dengan pelan.
__ADS_1
"Eh, iya mbak. Maaf Hani gak denger, karena lagi dengar lagu." Jawab Hani kaget, seraya menoleh kesamping kanan.
"Mbak minta tolong." Ucap Mira.
"Iya, apa yang bisa Hani tolong mbak?" Tanya Hani menawarkan diri.
"Ini, tolong antarkan ke ruangan CEO." Ucap Mira, seraya memberikan Map itu.
"Ok mbak." Jawab Hani, seraya mengambil map itu dari tangan Mira.
"Makasi ya." Ucap Mira, seray kembali ke meja kerjanya.
Hani pun berdiri dari duduknya, lalu dia keluar dari ruangannya. Dia akan mengantarkan map ini untuk Bang Samuel.
Setelah sampai di lantai 4, Hani segera mengetuk pintu ruangan CEO.
Tok... tok...
"Permisi pak." Ucap Hani seraya mengetuk pintu itu.
Tapi tidak ada jawaban dari dalam, Hani pun mencoba mengetuk lagi.
Tok...tok...
"Permisi pak." Ucap Hani, mengetuk pintu itu.
"Ada perlu apa?" Tanya sekretaris Bang Sameul, dengan ketus.
"Mbak bicara sama saya?" Tanya Hani mengejek.
"Iya sama kamulah, terus sama siapa lagi." Saut Vanya dengan ketus, sembari menatap Hani dengan ketus.
"Oh, saya pikir bukan. Oh iya, mbak, Pak Samuelnya ada di dalam?" Tanya Hani seraya melihat Vanya.
"Pak Samuelnya, lagi keluar. Ada keperluan apa anda kesini?" Tanya Vanya balik.
"Hm... saya di suruh antar ini, sama mbak Mira." Jawab Hani jujur, seraya memperlihatkan map itu kepada Vanya.
"Oh yaudah, biar saya kasih saja nanti, ke Pak Samuel. Saut Vanya, sambil menawarkan diri, untuk memberikan map itu pada bosnya.
"Hm... kira kira Pak Samuelnya, masih lama gak mbak? Tanya Hani lagi pada Vanya.
"Ya saya gak tau." Jawab Vanya jujur.
Hani berpikir sejenak, jika dia menitipkan map ini kepada Vanya, Hani takut Vanya tidak memberikan map ini pada Pak Samuel. Karena Hani, tidak tau bagaimana sifat Vanya. Apakah dia amanah atau tidak. Who knows?
Tapi Hani masih memiliki bannyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, jadi Hani memutuskan memberikan map itu pada sekretaris Bang Samuel saja.
"Mbak, saya nitip map ini saja sama mbak ya. Tolong di sampaikan map ini kepada Pak Samuel! Ini pemberian dari mbak Mira, dari bagian staff accounting. Kalau begitu, saya pamit dulu mbak Vanya, terima kasih." Ucap Hani, panjang lebar kepada Vanya. Setelah itu Hani kembali ke ruangannya.
Vanya mengambil map yang di berikan Hani, untuknya. Tanpa Hani sadari Vanya, tersenyum mencurigakan di belakangnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
CEO, kembali ke perusahaannya, Bang Samuel berjalan memasuki ruangannya dengan santai.
Dia duduk dengan angkuhnya, dikursi kekuasaannya. Lalu dia menghubungj seseorang melalui ponselnya.
"Halo, mana laporan keuangan perusahaan? Tolong antarkan segera!" Ucap Bang Samuel, setelah panggilan teleponnya tersambung. Setelah itu dia langsung menutup panggilan pada ponselnya.
"Hani." Panggil Mira, seraya berjalan ke meja Hani.
"Ya ada apa mbak?" Tanya Hani, dengan cepat.
"Tadi, Boss telpon. Dia menayakan tentang laporan keuangan. Tadi sudah kamu antarkan map putih itu? Map itu berisi laporan keuangan. Dan dokumen penting lainnya." Saut Mira dengan cepat.
"Sudah mbak, aku sudah titip ke sekretarisnya." Jawab Hani, jujur.
"Sebaiknya kamu temui CEO! Karena isi map tadi sangatlah penting." Perintah Mira, pada Hani.
"Baik mbak, kalau gitu aku kesana dulu." Jawab Hani patuh, seraya pergi ke ruangan Bang Samuel.
Tok...tok
"Permisi pak." Ucap Hani, seraya memgetuk pintu dengan pelan.
"Ya, masuk!" Jawab Bang Samuel dari dalam.
Hani lalu masuk ke ruangan Bang Samuel.
"Mana laporan yang saya minta?" Tanya Bang Samuel, dengan jelas.
"Maaf pak, saya tadi sudah datang kesini. Tapi bapak sedang keluar. Jadi saya menitipkan map itu ke mbak Vanya, sekretaris bapak." Jawab Hani dengan jujur.
Bang Samuel, mengambil ponsel yang berada di atas mejanya, lalu dia segera menelpon Vanya, sekretarisnya itu.
_
_
_
_
_
Bersambung…
Maaf bila ada kesalahan dalam ejaan ataupun penulisan kata.
Harap maklum saya masih amatiran.
Thanks for read all😍🥰
__ADS_1