
Happy reading my beloved readers😍
"Alah! Jangan alasan lagi kamu! Udah tau salah masih aja ngeles. Mau jadi istri durhaka kamu?"
Astaga, Padahal bukan itu maksud aku!
Ya! Aku tahu, aku memang ceroboh untuk hal ini. Aku memang gak menyiapkan pakaian Bang Samuel pagi ini. Tapi, itukan karena aku kira dia gak akan mau barang-barangnya aku sentuh. Secara, dia selama ini terus menujukan
penolakannya.
Ah, sudahlah. Memang aku yang salah.
"Maaf, Hani memang salah." Aku pun dengan besar hati menerima kesalahanku.
"Bagus kalau kamu sudah tau salah! Sekarang buruan siapin baju saya. Saya sedang ditunggu!"
"Baik, bang."
"Ck, Bener-bener, ya? Kamu itu gak bisa dibanggakan sama sekali sebagai istri. Udah manja, tukang ngadu, tukang membangkang, lagi. Memang cuma Alisia saja yang paling ngerti saya, dan paling bisa saya banggakan."
Aku memilih tak berkomentar lagi. Agar perdebatan kami tak makin panjang.
Walaupun ... sebenarnya tuduhan itu sangat menyakitiku.
Apa aku seburuk itu?
"Kakak mau pakai warna apa hari ini?" Aku sengaja mengalihkan ocehan Bang Samuel. Agar dia berhenti menuduhku yang macam-macam.
"Bahkan yang seperti ini pun kamu gak tau? Payah sekali kamu!"
Ya, Ampun.
"Pake merah, mau gak?" Aku mencoba mengabaikan omelannya, dan memberi usulan.
"Kamu sengaja, mau bikin saya jadi pusat perhatian?"
Owh ... oke!
"Hitam, gimana?"
"Saya mau kekantor, Hani. Bukan mau ngelayat!"
Salah lagi.
"Abu-abu?"
"Kenapa warna gelap terus yang kamu tawarkan kamu gak lihat di luar lagi mendung?
Sabar-sabar!
"Biru muda?"
"Yang benar aja! Bisa milih gak kamu sebenarnya?"
Ya Tuhan ...
"Putih?
__ADS_1
"Saya sedang tidak ingin pake putih!"
"Ya, terus lo maunya apa?"
Ingin sekali aku berteriak seperti itu. Karena mulai kesal dengan tingkah kekanakan Bang Samuel, yang entah sengaja atau tidak. Seperti sedang mengerjaiku.
Karena ... ya ... terus dia mau pake baju yang mana? Sementara, warna baju yang dia bawa hanya yang baru saja aku sebutkan tadi.
Apa harus aku tawarkan bajuku? Atau aku belikan di toko sebelah?
Sungguh! Aku gemas sekali pada pria ini sekarang.
"Bang--"
"Sudahlah! Kamu balik lagi ke dapur sana! Urusan baju biar saja tanya Alisia saja. Dia pasti ngerti apa yang harus saya pakai hari ini," Usirnya kemudian. Membuat aku mengeratkan rahang diam-diam.
Tuhan ... dia sengaja, ya?
Sengaja ingin menujukan posisi penting Kak Alisia dalam hidupnya padaku, dan membuat aku sadar kalau aku bukan istri yang dia harapkan?
Padahal, tanpa dia bertindak seperti ini pun, aku sudah sadar posisiku, kok. Aku tahu, aku memang hanya figuran saja dalam rumah tangga ini. Kenapa harus diperjelas?
Akan tetapi ... ya sudahlah. Kalau itu memang maunya.
Akhirnya aku pun hanya mengangguk patuh, sebelum berbalik badan dan kembali ke dapur.
Terserah dia mau ngapain, deh. Aku tak ingin cari ribut.
"Hani?!"
Namun baru saja aku sampai di lantai bawah. Teriakan itupun kembali menggema. Membuat aku tanpa sadar menghela napas panjang.
Apa lagi kali ini?
"Iya, bang?!" sahutku. Namun tetap pada posisiku, dan malas sekali menghampirinya.
Tuhan! Drama apa lagi sekarang?
"Iya, sebentar." Mau tak mau aku pun kembali menaiki tangga, dan menghampirinya, yang kini tengah memijit keningnya sambil berkacak pinggang dengan satu tangan.
"Pilihin saya baju!"
Hah?!
"Kenapa, bang? Bukannya--"
"Kamu gak bisa ya, hanya menurut, dan gak usah banyak tanya? Saya pusing!" keluhnya kemudian, seraya menatapku dengan garang.
Membuat aku menelan salivaku, dan buru-buru menghampiri lemari lagi.
Aneh banget!
"Kakak mau pakai--"
"Terserah kamu saja. Saya pakai apapun yang kamu berikan," selanya cepat. Sambil terus mengotak atik ponselnya dengan raut wajah keruh, dan beberapa kali berdecak kesal.
Kenapa? Apa dia bertengkar dengan Kak Alisia?
Aku pun memilihkan kaos berkerah tinggi warna putih, dengan jas warna abu-abu tua untuk Kak Sean. Dipadukan celana bahan hitam, dan sepatu pantopel hitam juga.
Awalnya, Bang Samuel tidak mau memakai baju pilihanku, karena katanya, "Saya mau ke kantor Hani. Bukan mau nongkrong. Pilihan baju kamu itu gak ada resmi-resminya. Saya udah biasa pake dasi tiap ke kantor. Jangan coba ubah gaya saya."
Aku tau itu, dilihat dari semua baju beserta puluhan dasi berbagai motif, yang di bawanya pun, Aku tahu kok, Bang Samuel memang terbiasa berpakaian formal tiap ke Kantor.
Karena masalahnya di sini adalah ... aku tuh gak bisa masangin dasi. Karena, aku lama hidup jauh dari ayah dan belum pernah punya pacar orang kantoran. Jadi, ya ... aku belum belajar hal itu sama sekali.
Akan tetapi, mungkin setelah ini aku harus secepatnya belajar hal itu. Agar tidak diomeli Bang Samuel lagi.
__ADS_1
Mengetahui hal itu, Bang Samuel pun kesal luar biasa. Karena dia terpaksa harus keluar Zona nyamannya gara-gara aku.
Walau begitu, akhirnya dia pun mau memakai baju pilihanku, meski sambil menggeram dan wajah di tekuk dalam.
Benar-benar seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Padahal apa salahnya sih, sekali-kali tampil beda? Pergi ke kantor gak selalu harus berdasi. Apalagi, jika kalian tahu. Sebenarnya, Bang Samuel dalam balutan pakaian yang aku pilihkan itu, jauh lebih tampan dari sebelumnya.
Aku bukannya ingin menyombongkan selera fashionku atau apa. Tapi memang ... ya, Bang Samuel itu lebih terlihat luar biasa dengan pilihan baju yang tepat.
Terlihat lebih muda, gagah, dan tampan. Aku saja sampai speachless beberapa saat waktu pertama kali melihatnya.
Kalau saja aku gak ingat dia milik Kak Alisia, mungkin aku akan mulai baper pada pria, yang sebenarnya sudah menjadi suamiku sendiri.
Untungnya, aku cukup sadar diri. Makanya, sebelum baper berkepanjangan, aku pun menghentikan rasa kagumku padanya.
Aku gak boleh jatuh hati sama Bang Samuel!
"Abang gak sarapan?" tegurku kemudian, saat dia melewati meja makan begitu saja.
"Saya sudah telat."
Hanya begitu saja jawabannya. Setelahnya, dia pun berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang lagi-lagi, hanya bisa menghela napas panjang menghadapi sikap ketus Bang Samuel.
Kalau memang dari awal tidak ingin sarapan di rumah. Kenapa dia menyuruhku masak tadi pagi?
Dia beneran mau ngerjain aku, ya?
Sekali lagi, aku pun menghela napas panjang. Sebelum akhirnya duduk dan memilih menikmati sarapanku pagi ini.
Biarlah, sisa sarapan yang terlanjur kubuat banyak ini. Aku bawa ke kampus saja. Kebetulan, hari ini aku ada jadwal belajar bersama dengan kelompokku.
Lumayan, aku jadi gak harus jajan di luar.
Itu niat awalku, karena saat siang menjelang.
Tepatnya saat aku masih sibuk dengan tugas kerja tim. Entah ada angin dari mana? Tiba-tiba aku mendapat telpon dari Bang Samuel, yang menanyakan keberadaanku.
Sebenarnya, itu tidak aneh, dan mungkin terdengar wajar untuk pasangan normal pada umumnya. Namun, kalian tidak lupa kan, bagaimana hubungan kami selama ini?
Karenanya, bagiku pribadi. Apapun yang dilakukan Bang Samuel yang melibatkan aku, itu terasa aneh saja.
Entahlah? Mungkin, aku benar-benar sudah menerima statusku sebagai pemeran cadangan di sini. Karenanya, aku malah jadi menganggap Bang Samuel bukan siapa siapaku.
Tolong jangan bilang aku aneh, atau bodoh, karena tidak bisa memanfaatkan keadaan saat ini, dalam meraih simpatik Bang Samuel. Hanya saja ... kalian tahu kan? Bahkan dari awal pun, Bang Samuel sudah menolakku, dan memberikan ultimatum padaku untuk tak berharap.
Nah, mengutip dari penolakan itu? Apa aku salah, jika aku kini bersikap acuh padanya? dan tidak berani berharap apapun?
Apa aku salah? Tolong berikan aku jawaban.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Bersambung...
Maaf bila ada penulisan kata atau ejaan yang salah harap maklum.
Readers yang budiman silahkan tinggalkan jejak, seperti like, komen, vote and add your favorite novel.
__ADS_1
Thanks for read