
Happy reading my beloved readers🥰
Aku kira selama ini duit saku ku dari dia, ternyata bukan dari dia.
Dia memang tak seperduli itu sama aku!
"Diam berarti iya." Saut Bang Samuel cepat
"Bukan begitu--"
"Sudahlah! Saya malas berdebat sama kamu. Sekarang tunjukan dimana kamarnya, karena saya sangat lelah sekali, ingin segera istirahat," ucapnya dengan malas.
Aku harus apa agar dia percaya? Karena demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan itu.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Mau ngerengek? Atau mau ngadu lagi sama Mama? Ngadu aja, saya udah gak perduli. Karena apapun yang kamu lalukan, tidak akan pernah membuat saya simpatik sama kamu. Camkan itu!"
Butuh beberapa detik untukku, untuk bisa menguasai diri dan rasa sakit ini, akan ucapan Bang Samuel tersebut.
Namun setelahnya, aku pun mencoba tersenyum, dan mengangguk mengerti pada pernyataan itu.
"Ya, Bang. Hani tau. Dan Hani juga gak akan berharap lebih pada abang, ataupun pernikahan ini. Karena Hani sadar posisi Hani di mana," aku pun mencoba menjawab sebijak yang aku bisa.
"Bagus kalau kamu memang sadar diri," ucap Bang Samuel setelahnya.
"Kalau begitu, sekarang tunjukan kamarnya. Karena saya lelah ingin segera istirahat!"
Aku kembali mengangguk. Sebelum berdiri dari dudukku, dan menunjukan kamar yang ada di sana.
"Ini kamarnya, bang?" Aku mempersilahkan Bang Samuel untuk masuk. Pada kamar, yang sebenarnya adalah kamar pribadiku.
"Kamarnya cuma satu?" keluhnya kemudian. Saat melihat tampilan kamar, yang memang terdapat banyak pernak-pernik milikku.
"Iya, bang."
"Kenapa cuma satu?"
"Ya, karena emang ... Hani kan cuma sendirian di sini, jadi ... buat apa Hani pakai Apartemen yang luas? Lagipula apartemen ini juga dekat dengan kampus, jadi--"
"Oke, stop! Saya mengerti," sela Bang Samuel cepat.
Sepertinya dia malas mendengar penjelasanku.
Aku pun segera menutup mulutku rapat-rapat. Karena tak ingin membuat Bang Samuel makin tak nyaman.
"Untung ada sofa di sini. Jadi, mulai malam ini kamu tidur di sana. Oke!" ucapnya kemudian. Setelah memindai kamar ini, dan menemukan sofa malas yang memang sengaja kutaruh di sana untuk bermalas-malasan.
Tapi ....
Apa katanya tadi?
"Aku tidur di sofa, bang?" beo ku pelan. Ingin memastikan pendengaranku barusan.
"Tentu saja? Memangnya kamu mau tidur di mana lagi? Di tempat tidur sama saya? Gitu? Gatel juga kamu, ya?" balasnya ketus, sambil tersenyum merendahkan.
Ya, Tuhan. Aku kan cuma bertanya. Kenapa tanggapan Bang Samuel seperti itu? Apa ... aku memang serendah itu di matanya.
__ADS_1
"Dengar saya baik-baik ya, Hani. Saya memang menyetujui usul Mama, untuk tinggal sama kamu selama di sini, dan membiarkan kamu melakukan kewajiban kamu sebagai istri. Tapi, bukan berarti saya akan menjadikan kamu istri yang sesungguhnya. Karena satu hal yang harus kamu tahu. Saya, tidak akan pernah menyentuh wanita yang tidak saya cintai. Jadi, lupakan mimpi kamu untuk hal itu."
Tuhan, apa aku memang serendah itu di matanya. Hingga dia bisa seenaknya menuduhku seperti itu?
Padahal, aku tidak bermaksud menawarkan diriku padanya. Aku cuma ingin memastikan pendengaranku dan keputusannya saja. Tapi, kenapa dia malah ....
"Dan satu lagi!" lanjutnya lagi tiba-tiba.
Sekarang apalagi maunya?
"Sepertinya kita harus membuat perjanjian dalam pernikahan ini. Agar kamu tau batasan kamu dalam pernikahan ini."
Batasanku? Memang aku harus membatasi diri bagaimana lagi? Apa aku kurang menjauh dari mereka, atau ... apa?
Apa perlu, aku menghilang saja dari kehidupannya, agar mereka puas sekalian. Begitu?
"Baiklah. Terserah abang saja. Lakukan apapun yang menurut abang baik. Aku akan menyetujuinya," jawabku kemudian. Tak ingin memperpanjang masalah ini.
"Bagus. Kalau begitu keluar kamu sekarang. Karena saya mau tidur!" Dia pun lalu mengusir aku seenaknya, sebelum berbalik badan dan menghempaskan diri ke atas tempat tidur tanpa dosa.
Setelah diusir seperti itu. Bisa apa aku selain pergi. Karena sekalipun sebenarnya ini adalah kamarku, tapi dia juga adalah suamiku.
Jadi, perintahnya wajib aku jalani.
"Jangan lupa tutup pintunya dan jangan ganggu tidur saya, sampai saya bangun sendiri!" ucapnya lagi, tanpa membuka matanya. Saat aku baru saja sampai di ambang pintu.
"Iya, bang."
Dengan patuh akupun melaksanakan titahnya. Sebelum kembali ke ruang tamu dan menghempaskan diri pada sofa yang ada di sana.
Padahal aku sudah mencoba mengalah, dan tak berharap apapun pada pernikahan ini. Tapi, kenapa rasanya tetap terasa sakit. Saat Bang Samuel mengatakan penolakannya setegas itu? Dan menunjukan posisiku?
Apa yang ku inginkan sebenarnya?
Apa ... aku kurang ikhlas? Atau ... jangan-jangan aku sudah berharap lebih pada kedatangannya tanpa sadar?
Akan tetapi, apa aku salah jika merasakan hal itu? Karena, bagaimanapun dia itu kan suamiku. Jadi wajarkan, kalau aku ....
Ah, sudahlah. Sepertinya memang aku yang terlalu berharap lebih padanya.
Mulai sekarang aku harus menata hatiku lagi untuk lebih kuat lagi. Karena aku yakin, selama satu minggu ini, akan ada banyak rasa sakit lagi yang akan aku terima dari Bang Samuel.
Entah itu apa, yang jelas aku harus bisa bertahan.
"Hani?!"
Degh!
"Iya, Kak!"
Aku pun segera menyahut, saat mendengar teriakan Bang Samuel dari dalam kamar. Juga segera menghampirinya.
Demi tuhan, ini masih pagi. Kenapa suara Bang Samuel sudah menggelegar seperti itu? Apa lagi sekarang yang mengganggunya?
"Kenap--Astagfirullah!"
__ADS_1
Namun saat aku sampai kamar dan hendak menegurnya, aku pun langsung dikejutkan dengan tampilannya, yang masih bertelanjang dada. Bahkan hanya
memakai handuk saja untuk menutupi daerah intimnya.
Astaga!
Dia apa-apaan, sih?
"Ck, gak usah sok suci kamu!" Tak kusangka, Bang Samuel malah berdecak kesal setelahnya, "Cuma liat begini saja sok-sok nyebut istigfar. Saya yakin kamu pasti sudah sering liat, kan? Secara kamu itu tinggal di luar negri, jauh dari orang tua, lagi. Pasti kehidupan kamu itu bebas selama ini, iya kan? Jadi, liat cowo bertelanjang dada seperti ini. Bukan hal tabu kan, buat kamu?" tuduhnya kemudian. Entah apa tujuannya?
Memang, ya. Itu memang benar adanya. Aku memang tinggal di luar negri, dan melihat bule setengah bugil seperti ini bukan hal aneh.
Akan tetapi, itu kan teman-teman, atau bahkan orang lain yang gak punya status denganku. Bukan suamiku, apalagi adanya di dalam kamar seperti saat ini.
Tentu saja itu membuat aku kaget. Dan karena kaget itulah, aku refleks mengucap istigfar. Lalu, dimana letak sok sucinya?
"Bukan gitu, bang. Cuma ... kenapa abang belum pake baju? Katanya mau ke kantor pagi, kan? Mau meeting sama staf. Iya kan? " Malas berdebat, aku pun hanya mencoba beralaskan saja.
"Justru karena itu saya panggil kamu."
"Kamu kan tau saya mau kekantor, mau meeting penting seperti yang kamu sebutkan tadi. Saya sedang di tunggu orang, Hani. Lalu kenapa kamu tidak mempersiapkan baju saya?"
Hah?!
"Kamu sebenarnya tau gak sih, tugas seorang istri itu apa? Kamu itu bertugas melayani dan mempersiapkan semua keperluan saya setiap hari, termasuk pakaian dan makanan saya. Tapi ini apa? Dimana baju saya? Kamu sengaja ya, mau bikin saya terlambat?" bentaknya kemudian, dengan menggebu.
Membuat aku menelan salivaku kelat.
"Bukan gitu, bang. Hani enggak--"
"Alah! Jangan alasan lagi kamu! Udah tau salah masih aja ngeles. Mau jadi istri durhaka kamu?"
Astaga, Padahal bukan itu maksud aku!
Ya! Aku tahu, aku memang ceroboh untuk hal ini. Aku memang gak menyiapkan pakaian Bang Samuel pagi ini. Tapi, itukan karena aku kira dia gak akan mau barang-barangnya aku sentuh. Secara, dia selama ini terus menujukkan penolakannya terhadapku.
_
_
_
_
_
_
Bersambung....
Maaf bila ada kesalahan kata dan ejaan
pembaca yang budiman tolong tinggalkan like, vote, komen dan add di favorite ya
Thanks to read.
__ADS_1